
POV Devano
"Maafkan aku, Ndin! Aku hampir saja melewati batasanku. Aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi kepadamu! Kecuali nanti jika kamu benar-benar sudah jatuh cinta kepadaku, dan mau menerimaku dengan tulus. Aku akan menunggu waktu itu tiba! Sekarang pergi basuh wajahmu terlebih dahulu, lalu kita keluar setelahnya," ucapku sambil menangkup kedua pipinya.
Akhirnya perlahan dia mau menatapku kembali.
"Iya, tunggu sebentar," jawabnya kini dia pun berlalu ke dalam kamar mandi.
"Shiiittt! Mengapa aku selalu saja tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, saat berada di dekat Andini? Argh! Sial!" Kini aku pun merutuki kebodohan diriku sendiri.
Tak berselang lama kemudian, pintu pun terbuka kembali.
Akhirnya Andini pun keluar juga, kini dia pun berjalan menghampiriku.
"Mari kita keluar sekarang, Pak!" serunya sambil berjalan perlahan.
Sebelum mengikuti langkah kakinya, aku pun mencekal pergelangan tangannya terlebih dahulu.
"Andin," panggilku lirih.
Andini pun berhenti karena terkejut dengan gerakan ku yang tiba-tiba.
"Eh, iya Pak," sahutnya.
"Bisakah mulai sekarang kamu jangan memanggilku dengan sebutan, Pak? Aku ini calon suamimu, bukan lagi bossmu! Jadi aku minta, mulai sekarang panggil aku Kak atau Mas! Apa kamu mengerti?" ucapku dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Hah!"
Hanya satu kata itu yang lolos dari bibirnya.
"Iya atau aku akan menciummu kembali?" tanya ku dengan penuh penekanan.
"Iy-iya, Pak! Me-mengerti," ucapnya sambil tergagap.
'Ah, mengapa dia terlihat manis sekali? Seandainya tadi aku tidak berjanji padanya, sudah habis kamu bersamaku saat ini, Andini. Argh! Sial! Ternyata dekat dengannya sangat mudah mengundang hasratku untuk bangkit.' rutukku dalam hati.
"Emn, oke! Bagus. Kita keluar sekarang! Sebelum aku benar-benar menjadi gila jika terus berlama-lama denganmu," ucapku sambil berjalan mendahului Andini
'Huh! Dasar kamu Van, Van. Biasanya kamu selalu bisa mengendalikan dirimu dari setiap wanita di luaran sana. Tapi apa ini? Pesona seorang gadis desa pun mampu menggoyahkan pertahanan mu. Shiiitt!' makiku dalam hati.
Aku yang biasanya anti untuk dekat dengan sembarangan wanita, bahkan yang lebih menggoda sekalipun. Kini dengan mudahnya takluk dengan seorang gadis polos, lugu, bahkan ciuman saja pertama kalinya denganku.
'Eh, ngomong-ngomong soal Daniel. Kemana anak itu menghilang? Sudah beberapa hari ini dia sama sekali tidak memberikan kabar kepadaku?' Kini hatiku pun mulai resah. Bagaimana tidak? Karena mengurus segala sesuatu keperluan Andini di Rumah Sakit, hingga saat menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuknya benar-benar menyita banyak waktuku. Dan Daniel benar-benar menghilang setelah perdebatan itu.
*Flashback on*
"Apa! Apa lo emang udah segila dan sebucin itu dengan gadis desa itu, Bro? Sehingga lo dengan sukarela menjadi pendonor gadis itu? Apa lo benar-benar sudah tidak waras? Bahkan kesehatan lo aja baru 99%, karena kejadian yang lo alami beberapa tahun yang lalu. Apa lo sama sekali sudah tidak mengingatnya?" tanya Daniel sambil menatap tajam ke arahku.
Ya, beberapa tahun yang lalu. Setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Vania kepadaku, aku pun pergi dari rumahnya dan melajukan mobilku dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga kecelakaan yang aku alami tidak bisa terelakkan.
Kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawaku, saat benturan yang sangat keras membuatku terpelanting di dalam mobil. Sehingga hampir seluruh tubuhku memiliki luka lebam, dan kaki kiriku pun retak di saat itu. Karena kecerobohan ku sendiri, yang sudah dipenuhi oleh amarah yang berapi-api, sehingga aku tidak memakai seatbelt ku di waktu itu.
__ADS_1
"Tentu saja gue ingat, Bro. Kejadian yang hampir naas merenggut nyawa gue sendiri, karena kebodohan yang gue lakukan sendiri." Aku pun menerawang jauh ke masa silam itu.
"Lalu mengapa lo sekarang bertindak gegabah lagi? Oke! Gue tau niat lo baik, buat menyelamatkan gadis itu. Tetapi lo juga harus ingat, Bro! Lo dan dia hanya melakukan pernikahan kontrak selama 6 bulan saja. Dan setelah itu kalian sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi," tutur Daniel yang selalu menjadi orang pertama yang memperdulikan keadaan ku.
"Pers*tan dengan surat perjanjian itu! Gue tidak akan pernah melepaskan Andini sampai kapanpun juga! Kalau perlu setelah gue nikah sama dia, langsung gue bakar surat itu. Gue benar-benar jatuh cinta sama dia, Bro! Gue tidak sanggup jika harus kehilangan dia! Dia adalah separuh nyawa gue saat ini! Dia sangat berarti dalam hidup gue! Dia juga yang sudah membuat gue tersadar, jika perlakuan gue ke dia sudah kelewatan. Jadi gue mau menebus semua kesalahan gue sama dia, dengan menjadi pendonor untuknya saat ini." jelasku kepada Daniel, sehingga kejujuran ku membuat dia sangat terkejut.
"Hah! Yang benar saja? Lo aja baru tau tentang dia karena bantuan dari gue. Mengapa dengan mudahnya lo bilang jatuh cinta kepada gadis desa itu? Gue tidak habis pikir dengan cara berpikir lo, Bro? Ingat! Dia gadis baik-baik jangan sampai lo merusak dia, karena hasraat lo yang sudah lama terpendam dan belum tersalurkan!" tegas Daniel sambil menyipitkan matanya saat menatapku.
Dia memang selalu saja seperti itu, karena hanya dia yang tau semua keburukanku. Yang bahkan mama sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.
"Lo tenang aja, gue tidak akan merusak dia. Kecuali gue benar-benar tidak khilaf dan tidak bisa mengendalikan diri gue. Karena setiap gue berasa di dekat gadis itu, gue seperti di tarik oleh magnet yang berada di dalam tubuh gadis itu. Ah! Sial! Gue jadi teringat ciuman pertamanya yang gue ambil dengan cara paksa." ucapku sambil merutuki diriku sendiri.
"Jadi? Lo tetap kekeuh akan menjadi pendonor untuknya? Apa lo yakin? Gue saranin lo membatalkan keputusan gila ini! Sadar Bro, Sadar! Bukan seperti ini cara lo buat menyelamatkan nyawa gadis itu, lo bisa mencarikan pendonor yang lain untuk dia!" ucap Daniel dengan penuh ketegasan.
"Jika lo tidak bisa menjadi pendukung gue saat ini, lebih baik lo pergi dari sini! Gue hanya ingin menyelamatkan nyawa orang yang gue cintai, karena hanya dia yang bisa dengan mudahnya menerobos masuk ke dalam hati gue. Dan gue sudah berjanji kepada diri gue sendiri, gue harus menjaga dan melindungi dia dengan sepenuh hati gue. Apa lo paham?" jelasku dengan penuh penekanan.
"Oke! Gue akan pergi sekarang juga! Tetapi ingat! Jangan cari gue, di saat nanti lo terluka oleh gadis yang selalu lo banggakan itu. Semoga lo tidak mengambil keputusan yang salah! Gue pamit, semoga lo bahagia!" ucapnya sambil berlalu meninggalkan ku di cafe dekat Rumah Sakit itu.
"Argh! Sial! Mengapa lo tidak mengerti tentang perasaan gue, Dan? Gue benar-benar tulus cinta sama dia dan gue benar-benar takut kehilangan Andini. Mengapa lo malah pergi di saat gue butuh dukungan dari lo? Dimana Daniel yang gue kenal? Mengapa lo berubah, Dan? Hah!" rutukku, kini emosi dalam diriku pun berkobar.
*Flashback off*
Sejak saat itu, aku sama sekali belum bertemu kembali dengan Daniel. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Padahal sebelum mengenal Andini, setiap waktu aku selalu menghubungi sahabatku itu, bahkan di saat dia masih terlelap pun aku selalu mengusiknya.
"Lo kemana, Dan?"
__ADS_1
BERSAMBUNG......