
POV Devano
Setelah pertemuan kami dengan Dokter Irawan tadi, kini aku pun harus menyiapkan kondisiku agar tetap stabil.
Saat ini aku sedang duduk tepat di samping ranjang Andini di rawat. Ku pandangi wajahnya yang terlihat semakin memucat.
"Andin Sayang, kamu harus kuat! Kamu pasti bisa! Percayalah! Saat ini orang-orang di sekitar mu, sungguh benar-benar hancur saat mendengar kabar tentangmu, termasuk diriku sendiri. Bangunlah! Jika kamu tidur terus begini, nanti siapa yang aku ajak berdebat? Aku juga rindu kebawelan kamu, Sayang! Aku mohon, kamu pasti bisa melewati semua ini! Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu," ucapku lirih, sambil menggenggam erat tangannya yang tidak di pasang alat infus.
Tak terasa, kini buliran bening membasahi pipiku. Sungguh sangat menyakitkan, saat melihat orang yang mulai kita cintai terbaring lemah tak berdaya seperti ini.
"Sayang, bangunlah! Aku benar-benar tersiksa saat ini, seandainya saja aku bisa menggantikan posisimu? Pasti aku akan melakukannya! Apa kamu tau? Ibu dan Nenek benar-benar terpukul dengan kejadian yang tiba-tiba ini, bahkan kemarin-kemarin kamu terlihat ceria dan bahagia. Tetapi tidak ku sangka di balik keceriaan mu, kamu menyimpan rasa sakit itu sendiri. Mengapa kamu tidak membaginya denganku?" ucapku, yang kini tangisku benar-benar pecah.
Tiba-tiba aku merasakan pergerakan di jari-jari yang aku genggam. Apakah dia merespon apa yang aku katakan tadi?
Perlahan matanya terbuka, kini sayup-sayup terdengar suaranya yang lirih dari bibir pucatnya.
"Pak Devano," panggilnya lirih, hampir tak terdengar olehku.
"Iya, apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanyaku dengan suara lembut.
"I-ibu?" ucapnya lirih.
"Kamu mau bertemu dengan Ibu?" tanyaku dengan seulas senyum tipis di bibirku.
Lalu dia pun mengangguk perlahan.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar! Aku akan memanggil Ibu, agar menemuimu," jawabku, lalu perlahan melepaskan genggaman tangan kami, lalu aku pun bergegas untuk keluar untuk mencari Bu Shintya.
Kini pintu terbuka, saat ini terlihat bu Shintya, dan Nenek yang selalu menunggu tepat di kursi depan ruang rawat Andini.
"Bu Shintya, Andini sudah siuman, dia ingin berbicara kepada Anda. Saya akan memanggil Dokter Irawan terlebih dahulu," ucapku kepada Bu Shintya.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, Ibu akan masuk untuk menemui Andini," jawabnya, dengan mata yang berbinar-binar.
Tidak ingin membuang-buang waktu, aku pun bergegas mencari Dokter Irawan untuk memeriksa keadaan Andini.
Tepat saat aku sedang berjalan ke ruangan kerja Dokter Irawan, kini dia pun keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Dok," panggilku dengan napas sedikit terengah-engah.
"Lho, Pak Devano, ada apa? Saya baru mau memeriksa keadaan pasien, apa terjadi sesuatu?" tanya Dokter Irawan, saat melihatku yang sangat terburu-buru.
Sebelum berbicara kembali, aku pun mengatur napasku terlebih dahulu.
"Ah, iya Dok. Ini sangat penting! Andini sudah sadarkan diri, dan dia sedang bersama dengan Ibunya," ucapku kepada Dokter Irawan.
"Alhamdulillah. Sungguh benar-benar luar biasa semangatnya untuk sembuh." ucap Dokter Irawan, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Mari, Dok! Anda harus segera memeriksanya! semoga saja keadaannya stabil dan kita bisa segera melakukan operasinya," ucapku dengan penuh harap.
Dokter Irawan pun menganggukkan kepalanya, tanda menyetujuinya. Lalu kami pun bergegas untuk ke ruang rawat Andini.
Kini pintu pun terbuka kembali, lalu ku dapati Bu Shintya yang sedang menggenggam tangan Shintya dan menciuminya.
Saat kami memasuki ruangan itu, Bu Shintya masih setia duduk di samping putrinya. Sedangkan Dokter Irawan dan seorang perawat, sedang memeriksa keadaan Shintya.
"Alhamdulillah. Kondisi pasien sudah mulai stabil, terus pertahankan agar kami bisa segera untuk mengambil tindakan," jelas Dokter Irawan kepada kami.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, aku pun mengikuti Dokter Irawan kembali. Karena beliau ingin membicarakan hal yang penting denganku, tentang operasi transplantasi sumsum tulang belakang.
Kamipun kembali memasuki ruangan kerja Dokter Irawan.
"Baik, Pak Devano. Apakah Anda benar-benar siap melakukan operasi ini?" tanya Dokter Irawan, guna meyakinkanku.
"Insya Allah, aya siap, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan calon istri saya, karena dia sangat penting dalam hidup saya," pintaku dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, semoga saja kondisi pasien tetap stabil. Agar kita bisa segera melakukan tindakan," ucapnya Dokter Irawan lagi.
"Aamiin. Semoga saja, Dok." Aku pun mengamiinkan ucapan Dokter Irawan.
******
Setelah berbincang-bincang dengan Dokter Irawan, aku pun bergegas untuk kembali ke ruang rawat, dimana calon istriku berada.
Akan tetapi saat melihat bu Shintya yang masih berada di dalam, aku pun mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam. Aku ingin memberikan ruang kepada mereka berdua, agar saling memahami satu sama lain.
__ADS_1
"Van," panggil Ibu.
Aku pun menoleh ke arah Ibu.
"Iya, Ma." sahutku, kini aku pun menghampiri dan duduk di samping mama.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu itu? Dengan menjadi pendonor untuk Andini?" tanya mama dengan sedikit ragu-ragu.
Kini aku membalikkan badan ku, agar bisa berhadapan dengan Mama.
"Insya Allah, Devan yakin Ma. Devan benar-benar tulus mencintai Andini, meskipun awalnya jalan yang Devan ambil itu salah. Tetapi kali ini, Devan akan memperbaiki semua kesalahan Devan kepada Andini. Devan tidak ingin kehilangannya, Ma. Devan benar-benar mencintai Andini." terangku dengan nada sendu.
Mama kini hanya tersenyum kepadaku, dan mengusap lembut bahuku.
"Jika itu memang sudah menjadi keputusan yang terbaik untukmu, maka Mama akan mendukungnya. Mama yakin, bahwa anak Mama adalah laki-laki yang bertanggung jawab,'' tutur Mama dengan suara lembutnya.
Lalu aku pun berhambur ke dalam pelukan Mama.
"Terimakasih, Ma. Karena Mama selalu ada untuk Devan, Devan sangat menyayangi Mama. Mama adalah segalanya untuk Devan," ucapku sambil memeluk erat tubuh Mama.
"Iya, Sayang. Mama percaya kepadamu. Kamu adalah anak yang baik, jadi Mama mohon jika nanti kamu benar-benar menikah dengan Andini, jangan sekali-kali kamu menyakiti hatinya. Karena sejatinya seorang wanita hanya memerlukan kasih sayang yang tulus dari orang terkasihnya,'' jelas mama dengan suara lembutnya.
Inilah mama ku, beliau adalah seorang Ibu yang selalu mendukung setiap keputusan yang selalu aku ambil. Dan beliau adalah orang pertama yang selalu ada di saat aku benar-benar terpuruk, seperti saat aku dikhianati oleh orang yang pernah aku cintai.
Mama memang sangat peka dan sangat sensitif kepadaku, termasuk dalam masalah hati. Beliaulah yang selalu memastikan bahwa aku tidak salah dalam mengambil keputusan.
"Ma, lebih baik kita mencari makan dahulu. Sekalian nanti kita bungkusan untuk Bu Shintya. Aku sudah sangat lapar saat ini. Karena kata Dokter Irawan, aku juga harus menjaga kondisiku, agar sewaktu-waktu bisa segera melakukan tindakan itu," ucapku, lalu perlahan melepaskan pelukan kami.
"Iya, Sayang. Ayo! Kita juga harus tetap sehat, agar selalu bisa menjaga calon istrimu," ucap mama dengan tulus.
Aku pun menganggukkan kepala, lalu menggandeng tangan Mama, layaknya anak kecil yang tidak mau jauh dari sang Ibu.
Akan tetapi saat sedang berjalan, aku menabrak seseorang. Dan ternyata.
"Kamu!"
BERSAMBUNG
__ADS_1