
Hapy reading....
IIbu pun tertegun, karena ternyata aku menanyakan hal itu kepadanya saat ini. Lalu perlahan beliau pun menormalkan kembali raut wajahnya.
"Sayang, jika kau ingin bertemu dengan orang itu. Maka kau harus sembuh terlebih dahulu ya? Itu adalah salah satu syarat dari pendonor mu itu. Dia orang yang sangat baik, Nak,'' jelas Ibu kepadaku.
Aku pun merasa sedikit kecewa, karena Ibu tidak langsung memberi tau ku. Jujur saja, saat ini aku sangat penasaran dengan orang baik itu. Mengapa dengan semudah itu dia menjadi pendonor untukku.
"Baiklah, Bu," jawabku lirih.
"Ya sudah, lebih baik kau istirahat dahulu, agar kau juga lebih cepat pulih. Sehingga bisa segera bertemu dengan orang baik itu," ucap Ibu dengan penuh kasih sayang.
Aku pun menganggukinya, lalu memejamkan mataku kembali.
***
Saat aku membuka mata kembali, ku lihat Ibu yang masih terlelap duduk meringkuk di samping ranjangku.
Ingin rasanya ku bangunkan beliau tetapi aku enggan, karena melihat wajahnya yang terlihat sangat kelelahan. Mungkin karena Ibu tidak pernah beristirahat sebelumnya, saat menjaga ku.
Aku pun masih terjaga, lalu menatap langit-langit yang berwarna serba putih.
"Pak Devano, kau kemana? Mengapa semenjak aku tersadar, justru kau malah menghilang? Jujur saja, saat ini aku sangat merindukanmu. Ingin rasanya aku melihatmu, meskipun hanya sebentar saja. Aku sangat merindukanmu, Pak! Aku sangat tersiksa, dengan perasaan yang selama ini aku pendam sendiri,'' gumamku lirih.
Tak berselang lama kemudian, Ibu pun membuka matanya perlahan. Lalu menoleh ke arahku, dan aku pun tersenyum kepadanya.
"Kau sudah bangun, sayang? Mengapa tidak membangunkan Ibu?" tanya Ibu dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Aku pun tersenyum kepadanya.
__ADS_1
"Andini tidak ingin mengganggu tidur Ibu. Ibu sangat terlihat lelah, jadi mana mungkin aku tega untuk membangunkan Ibu?" jawabku dengan seulas senyum di wajah.
"Baiklah. Apa kau lapar, sayang?" tanya Ibu dengan penuh perhatian.
"Iya, Bu. Perutku sudah terasa lapar, apa Ibu mau menyuapi ku?" tanyaku sambil menatap lekat wajahnya.
Ibu pun beranjak dari tempat duduknya, lalu mengecup lembut keningku.
"Tentu saja mau, sayang. Ibu akan selalu menuruti semua keinginan mu, jika Ibu mampu,'' tutur Ibu dengan penuh kasih sayang.
Aku pun semakin bahagia saat mendengarnya, kini bibirku mengembang sempurna. Bagaimana tidak? 18 tahun aku tanpa pelukan dan kasih sayang seorang Ibu. Baru kali ini aku benar-benar bisa merasakannya.
"Terimakasih, Ibu," ucapku dengan penuh semangat.
"Iya, sayang. Sekarang makan dulu ya? Sudah dingin juga makanannya," ucap Ibu sambil meraih piring, lalu menyendok kan makanan ke arah mulutku.
"Aaaaaaaaa, sayang!"
Dengan telaten Ibu pun menyuapiku hingga akhirnya habis tak tersisa. Sungguh benar-benar terasa nikmat, saat makan di suapi langsung oleh tangan Ibu. Ini adalah pertama kalinya untukku, dan aku benar-benar sangat bahagia saat ini.
"Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga makannya, sayang. O, iya, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Ibu dengan seulas senyum di wajahnya.
"Tidak, Bu. Aku sudah sangat kenyang saat ini. Sekarang Ibu juga cari makanlah! Aku tidak apa-apa di sini sendiri. Apakah Nenek ada di luar? Jika ada, sekalian ajak saja untuk mencari makan, Bu!" ucapku sambil tersenyum ke arah Ibu.
"Emm, apa kau yakin tidak apa-apa, jika Ibu tinggal sendiri, sayang?" tanya Ibu dengan ragu-ragu.
Sepertinya Ibu enggan untuk meninggalkan ku sendiri saat ini.
"Iya, Bu," jawabku dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Baiklah, Ibu dan Nenek pergi sebentar ya. Kami tidak akan lama," jelas Ibu lalu mengecup lembut keningku.
Aku pun tersenyum manis kepada Ibu. Tak berselang lama kemudian, pintu pun terbuka kembali.
.
.
Akhirnya setelah hampir satu minggu aku melakukan operasi, kini Dokter Irawan sudah mengijinkan aku untuk pulang ke rumah.
Dengan catatan, aku harus kembali melakukan kontrol rutin setiap dua Minggu sekali. Hanya untuk memastikan, agar kanker darah yang hampir menggerogoti tubuhku tidak berkembang kembali.
"Apa sekarang kau sudah benar-benar membaik, sayang?" tanya Nenek kepadaku.
"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik dari sebelumnya, Nek," jawabku dengan mengucap rasa syukur.
Hanya satu yang paling mengusik hati dan pikiran ku saat ini, yaitu pak Devano. Ternyata selama ini dialah yang menjadi pendonor untukku. Akan tetapi, mengapa setiap kali dia datang ke ruanganku, dia tidak mengatakannya dengan jujur? Mengapa aku harus mendengar semua itu, di saat aku berpura-pura tertidur dan perasaan itu.
*Flashback on*
'Aku menjadi curiga kepada Pak Devan, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku harus segera mencari taunya, agar rasa penasaran dalam hati dan pikiran ku tidak saling bertentangan. Karena percuma saja jika aku menanyakan kepada Ibu dan Nenek, mereka pun seperti menyembunyikan sebuah fakta tentang pendonor itu,'gumamku.
Saat aku mendengar suara pintu yang terbuka, aku pun berpura-pura memejamkan mataku. Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku.
Suara langkah kaki ini, terdengar sangat tidak asing bagiku. Tiba-tiba aku terkejut saat mendengar suara orang yang baru saja duduk, tepat di bangku samping ranjangku.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah lebih baik sekarang, aku sangat bersyukur karena Allah SWT telah mengabulkan do'a-do'a kami. Terimakasih kamu sudah mau berjuang bersama denganku, sayang. Maafkan perbuatan ku selama ini, yang seringkali melukaimu. Mungkin aku memang salah, karena telah memperlakukanmu dengan cara yang tidak pantas. Kamu sangat berharga untuk kami, jadi kami mohon sembuhlah, sayang! Agar apa yang aku lakukan untukmu, tidaklah sia-sia." ucap Pak Devano.
Degh!
__ADS_1
Dalam hati, aku pun merasa sangat terkejut dengan pernyataan yang baru saja ku dengar.
BERSAMBUNG.....