
Happy reading......
"Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam,"
Kini terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga ku. Siapa lagi kalau bukan pak Devano dan bu Rahma, mereka akhirnya tiba di rumah dengan para saksi yang di bawa oleh keluarganya.
Aku yang masih berada di dalam kamar, kini hanya mondar-mandir karena merasa sangat gugup.
"Lho, Sayang? Mengapa masih gugup? Apa kamu belum siap?" tanya Ibu yang ingin mengajakku untuk keluar.
Aku pun menganggukkan kepalaku.
"Emn, iy-iya Bu. Andini sangat gugup sekarang. Meskipun Ibu sudah menceritakan pengalaman Ibu, akan tetapi aku masih saja merasa gugup, Bu." ucap ku sambil *******-***** jemari tanganku.
Ibu pun kini memeluk dan mengusap lembut punggungku. Guna sedikit menenangkan ku dari rasa gugup ini.
"Tenanglah, Sayang! Percayalah! Semua akan baik-baik saja. Ibu percaya kepada Devano, jika dia bisa membuatmu bahagia." ucap Ibu dengan penuh kasih sayang.
"Karena setelah ini, kamu akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Devano, bukan lagi Nenek atau Ibu. Jadi Devano berhak sepenuhnya atas dirimu, Sayang. Kamu juga mempunyai kewajiban untuk memenuhi kebutuhan suamimu nanti. Apa kamu mengerti, Sayang?" jelas Ibu sambil mengecup lembut keningku.
Aku pun hanya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh Devi.
Akhirnya kini aku sudah merasa sedikit tenang kembali, lalu perlahan Ibu melepaskan pelukannya.
"Ayo, Sayang! Calon suamimu sudah menunggumu saat ini." ucap Ibu sambil menuntunku untuk keluar dari kamarku.
Pintu pun terbuka lebar, kini aku berjalan beriringan dengan Ibu sambil menggenggam erat tangannya.
Ibu yang menyadarinya, kini mengusap lembut bahuku untuk menenangkan ku kembali. Saat ini aku menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir dalam acara ijab qobul kami.
Sayup-sayup terdengar pujian yang terlontar dari beberapa tamu yang hadir.
"Masya Allah, cantik sekali calon istrinya Devan, ya?"
"Eh, iya. Sudah seperti pangeran yang menemukan permaisurinya."
"Duh! Manis dan cantik sekali sih calon istrinya Devano."
"Pantas saja Devan klepek-klepek, orang calonnya saja cantik begini, spek bidadari deh pokoknya mah."
Dan masih banyak pujian yang terlontar dari mulut mereka. Aku yang mendengarnya hanya menundukkan kepala.
__ADS_1
Kini aku pun tiba di sebelah bangku yang di duduki oleh Pak Devano. Dan aku pun masih menundukkan kepalaku.
"Hey, Devan! Jangan bengong seperti itu, kamu kesambet bidadari tak bersayap ya? Sampai-sampai tidak berkedip sama sekali." tegur salah satu tamu yang hadir.
"Iya, Van. Kami tau kamu pasti terpesona kan dengan bidadari tak bersayap ini? Apalagi beuh cantiknya tiada yang menandingi, cantiknya terlihat natural dan elegan. Perfect !" ucap salah satu tamu yang hadir lagi.
Sungguh aku benar-benar gugup dan malu, saat ini aku menjadi pusat perhatian semua orang.
"Hehe, maaf! Habisnya bidadarinya cantik sekali sih. Jadi aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa memandanginya,'' ucap Pak Devano sambil menggaruk kepalanya.
"Eh, kamu ya! Belum juga halal sudah curi-curi pandang saja, sabar sedikit kenapa sih, Van?" tanya salah satu wanita paruh baya yang juga ikut serta hadir.
"Ehem, bisakah kita mulai acara ijab qobulnya sekarang? Karena saya masih ada beberapa tempat lagi yang perlu saya datangi," ucap Pak penghulu yang menengahi candaan mereka.
Aku pun masih terdiam dan menyimak setiap candaan mereka.
"Tentu saja, Pak. Saya sudah siap!" jawab pak Devano dengan mantap.
"Baiklah, kalau begitu Anda ikuti kata-kata saya!" ucap Pak penghulu lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Devano Wicaksana bin Brahmana Wicaksono dengan saudari Andini Amalia binti Ridwan Rahmadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 100gr, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Andini Amalia binti Ridwan Rahmadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? SAH?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Alhamdulillah."
Kami pun mengucapkan Hamdallah dan memanjatkan do'a dan puji syukur kepada Allah SWT.
Setelah acara ijab qobul selesai, kini pak Devano pun menyematkan cincin pernikahan di jari manisku. Begitu pun dengan ku, aku pun melakukan hal yang sama kepadanya.
Kemudian aku pun mencium tangan suamiku dengan khidmat, lalu Pak Devano pun membalasnya dengan kecupan lembut di keningku. Sehingga membuat sekujur tubuhku membeku, dan desiran hebat dalam diriku kini kembali aku rasakan.
Setelah acara selesai, dan para tamu juga sudah selesai menikmati hidangan sederhana yang telah kamu sediakan. Kini mereka pun berpamitan dan mengucapkan selamat kepada kami.
****
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar." ucap Ibu sambil tersenyum lebar kepada kami.
"Iya, Shin. Alhamdulillah ya? Akhirnya kita menjadi besan juga," ucap Bu Rahma dengan penuh semangat.
"O, iya Sayang. Setelah ini kalian beristirahat di kamar, kalian pasti lelah kan!" ucap Ibu kepada kami.
__ADS_1
Kami pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah, Andini tolong ajak suamimu untuk beristirahat di kamar mu ya, Sayang!" ucap Ibu lagi.
"Hah?"
"Kenapa, Sayang?" tanya Bu Rahma kepadaku.
"Tidak apa-apa, Bu." jawabku cepat.
"Sekarang kan kamu juga anak Mama, jadi panggil Mama saja ya? Nanti kalau panggil Bu, kami menoleh secara bersamaan, bagaimana?." jelas Bu Rahma sambil terkekeh.
"Emn, baik Bu. Eh, Ma-ma." jawabku terbata.
Melihatku yang masih saja gugup Ibu, Mama , dan Nenek pun terkekeh.
"Sudah, sudah. Kalian beristirahatlah! Nanti kalian keluarlah saat makan malam ya?" ucap Nenek yang ikut membuka suaranya.
"Iya, Nek." jawabku bersamaan dengan pak Devano.
Lalu aku pun berjalan terlebih dahulu lalu di susul oleh Pak Devano.
"Silahkan masuk, Pak!" ucapku sambil membuka 'kan pintu untuk pak Devano.
Dia pun mengikuti ucapanku, lalu aku pun kembali menutup pintu.
Tiba-tiba dari arah belakang dia menarik pinggangku ke dalam pelukannya, sehingga membuatku sangat terkejut.
"Kalau kamu mengatakan Pak lagi, maka detik ini juga kamu akan habis di dalam kungkungan ku, istriku!" ancamnya sambil terdiam membeku di dalam pelukannya.
Aku pun masih bergeming, jantungku kini berdebar kencang dan bertalu-talu. Darahku kini berdiri dan memanas, entah apa yang aku rasakan saat ini.
"Andin, aku sekarang sudah SAH menjadi suamimu, secara agama maupun negara. Jadi tolonglah, jangan menganggap ku sebagai atasanmu lagi! Apa kamu tau? Momen inilah yang selalu aku bayangkan, di saat aku mulai jatuh cinta kepadamu. Maka dari itu, aku ingin ijab qobul dilaksanakan hari ini juga. Karena sangat sulit untukku, menahan rasa ini meskipun hanya satu Minggu lagi." jelas pak Devano sambil memeluk erat tubuhku.
"Ap-apa?" tanyaku sambil tergagap.
Perlahan pelukan kami pun mengendur, lalu Pak Devano pun menangkupkan kedua tangannya di pipiku.
"Iya, Sayang. Aku jatuh cinta kepadamu, sejak pandangan pertama kita saat kamu menabrakku di dekat Kantin Kantor. Apa kamu masih ingat?" tanya Pak Devano.
Kini mataku pun membulat sempurna, aku pun tak bisa berkata-kata lagi.
'Jadi selama ini, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Berarti selama ini kami sama-sama saling memendam perasaan yang sama? Apakah ini nyata?' gumamku dalam hati.
__ADS_1
Cup!
BERSAMBUNG.....