
"APA!''
Kedua wanita beda usia itu pun langsung memekik dengan suara lantang. Mereka berdua pun sangat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh menantunya.
"Apa maksud kamu, jika Andini menghilang? Katakan dengan jelas dan jujur, Devano?!" cecar Shintya dengan penuh penekanan.
Rahma yang tidak tega melihat putranya sedang berada di ujung kehancuran, kini tidak mau tinggal diam lagi. Dengan segenap keyakinan dan keberanian, dia pun ikut angkat bicara.
"Jadi begini, Shin....."
"Hentikan, Rahma! Aku hanya ingin mendengar semuanya dari putramu! Jika dia memang pria sejati, pasti dia akan siap dengan apapun yang akan terjadi. Seperti yang saat ini dia sedang hadapi, dia harus segera menjelaskan semuanya kepada kami. Karena kami tidak ingin pulang dengan harapan hampa." cetus Shintya dengan tatapan mata tajam.
Devan pun menghela napas panjang, sebelum dia membuka suara kembali dan menjelaskan semuanya kepada Ibu mertua dan Nenek.
"Maafkan aku, Bu! Sebelum masalah ini terjadi, Andini pernaho mengatakan jika memiliki firasat yang tidak baik, sebelum aku pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan dinas. Akan tetapi aku pun mencoba untuk menenangkan Andini, dan mempercayai jika semuanya akan baik-baik saja........."
Devan sejenak menjeda ucapannya, dan menghela napas panjang.
"Dan benar saja, firasat buruk Andini benar-benar terjadi kepadaku. Setelah melakukan rapat, di dalam minumanku diberikan obat tidur oleh mereka, lalu mereka pun menjebak ku dengan mengirimkan pesan singkat dan beberapa foto kami kepada Andini. Dan setelah Andini sampai di hotel tempat aku bermalam di sana, Andini menemukan ku sedang tidur dalam posisi memeluk wanita ular itu......"
PLAK!
"Dan apakah kamu benar-benar mengkhianati putriku, huh? Apakah kamu masih kurang jika memiliki satu wanita saja?" hardik Shintya yang sudah tidak bisa menahan dirinya sendiri, dari emosi yang sudah berkobar.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Bukan seperti itu, aku berani bersumpah jika semua ini hanyalah siasat dan jebakan yang mereka lakukan kepadaku. Bahkan sekarang aku sudah memiliki semua bukti-bukti itu. Jika Ibu dan Nenek tidak percaya, aku bisa menunjukkannya sekarang juga." ujar Devan, dia pun langsung bangkit dan berlari ke ruang kerjanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Devan datang membawa sebuah flashdisk dan laptop. Kemudian dengan lincahnya, mereka pun langsung mengontak-atik laptopnya dengan jari-jari cekatannya.
Setelah video itu muncul di layar persegi itu, kemudian ketiga wanita itu pun langsung melihat dengan seksama. Bagaimana posisi dan keadaan Devan pun juga jelas terlihat di video itu.
Shintya yang melihat adegan panas antara wanita dan pria asing, hanya membungkam mulutnya yang sempat menganga. Rahma yang sudah mengenali wanita itu, sama sekali tidak merasa terkejut.
Dia sudah sangat mengenal siapa dan bagaimana sifat wanita itu. Vania adalah wanita ular yang pernah meninggalkan putranya hanya untuk mendapatkan kesenangan lebih dari pria lain.
Bahkan dia juga dengan teganya membuat putranya hampir gila, karena pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita ular yang berbisa dan beracun itu. Tetapi dia juga sangat bersyukur, karena putranya bisa terlepas dari wanita ular itu. Setelah dia menentang keras hubungan mereka, tetapi Devan masih tetap kekeuh untuk mempertahankannya.
"Lalu, jika semua bukti-bukti ini sudah ada padamu. Kenapa Andini bisa menghilang, dan kamu tidak mengetahui tentang kepergiannya?"
Shintya pun masih berusaha untuk mengorek informasi, perihal tentang kepergian putri semata wayangnya. Jujur saja, saat ini hatinya sangat hancur setelah mengetahui fakta tentang rumah tangga putrinya.
"Baiklah." jawab Shintya dengan ragu-ragu.
Sedangkan Nenek hanya diam sambil memegangi dadanya.j Entah bagaimana dan apa yang wanita tua itu rasakan. Yang jelas dia pasti merasakan sebuah kehilangan sosok cucu yang sangat dia cintai.
"Setelah kami berdebat di hotel itu, Andini langsung berlari meninggalkan kami. Sedangkan Siska yang mencoba untuk mengejar Andini, tidak bisa menjangkaunya. Tetapi setelah Siska dan Daniel berhasil menemukan Andini yang tergeletak di tepi jalan, mereka pun langsung membawanya ke Rumah sakit terdekat........"
Devan pun menjeda ucapannya dan kembali menghela napas panjang.
__ADS_1
"Aku yang saat itu sangat kesulitan untuk menghubungi Andini, langsung terpikirkan untuk menghubungi Siska atau Daniel. Dan saat Daniel mengatakan jika Andini berada di rumah sakit, aku pun bergegas untuk menuju ke rumah sakit itu................."
Setelah panjang x lebar Devan menjelaskan SMS kepada mereka, akhirnya Shintya kembali tertegun karena baru mengetahui fakta tentang putri tercinta.
"Ja-jadi Andini ha-hamil? Dan dia pergi seorang diri, tanpa ada orang yang mengetahuinya? Astaghfirullah! Mengapa semuanya harus terjadi kepada mu, Sayang? Bagaimana dengan keadaan mu saat ini? Dimana sebenarnya keberadaan mu?" berbagai pertanyaan terucap dari mulut Shintya.
Shintya yang sudah tidak bisa untuk menahan air matanya, kini hanya bisa menatap langit-langit ruangan itu, sambil menyandarkan kepalanya di sisi sofa.
"Tenanglah, Shin! Kami juga sedang berusaha untuk mencarinya. Bukan hanya kamu saja yang benar-benar kehilangan sosok wanita periang itu, aku pun merasakan hal yang sama seperti mu. Karena aku telah menganggapnya sebagai putriku sendiri, bukan hanya sekedar menantu." ujar Rahma sambil memeluk Shintya dari samping.
Nenek yang mendengar semua penjelasan dari Devan, kini semakin mengeratkan genggaman di dadanya. Napasnya pun seperti tertahan, dan semua itu langsung mengalihkan perhatian Devan.
"Nenek?"
Nenek yang sudah menahan sesak sedari tadi, kini sedikit demi sedikit kehilangan kesadarannya. Dengan cepat Devan langsung menggendong tubuh ringkih itu, dan langsung membawanya ke dalam mobil. Shintya dan Rahma pun tidak ingin tertinggal, mereka langsung ikut masuk ke dalam mobil itu dan membawa Nenek ke rumah sakit terdekat.
RUMAH SAKIT KASIH IBU
Setelah sampai di rumah sakit itu, akhirnya Nenek langsung mendapatkan perawatan intensif, dan Devan langsung meminta sang Dokter untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk Nenek.
Devan juga memberikan fasilitas yang terbaik untuk Nenek dengan menempatkannya di ruangan VVIP. Shintya yang merasa sangat khawatir dengan kondisi Ibunya, hanya bisa mondar-mandir di depan pintu ruang rawat itu, sambil menunggu Dokter keluar.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu pun terbuka, kini terlihat jelas pria paruh baya yang baru saja keluar dari kamar rawat Nenek. Shintya yang berada di depannya, langsung menudingnya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bagaimana, Dokter? Apakah Ibu saya baik-baik saja? Apakah terjadi hal buruk kepadanya? Tolong, Dokter! Selamat Ibu saya, dan sembuhkan kembali seperti semula." ujar Shintya.