Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Akhir Kabahagiaan


__ADS_3

"Sayang? Uwh, kesayangan Bunda? Maafkan Bunda sama Ayah ya, Sayang!" ucap Andini sambil menciumi pipi gembul putranya.


Rahma yang saat ini sedang menggendong cucunya, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat Andini seperti telah lama meninggalkan putranya.


"Em, apakah seluruh dekorasinya sudah selesai, Sayang?" tanya Rahma dengan seulas senyum manisnya.


Andini pun langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


"Sudah, Ma. Maafkan kami! Karena terlalu lama meninggalkan Arvin." ucap Andini yang merasa tidak enak hati kepada Ibu mertuanya.


Rahma yang sudah hafal bagaimana watak putranya, kini hanya melirik ke arah Devan yang masih bersikap santai dan merasa tidak bersalah sama sekali.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mama tau kok, pasti kamu terkurung oleh mantan Casanova itu kan?" sindir Rahma sambil menyipitkan matanya.


Devan yang masih terlihat santai, kini hanya bisa mengedarkan pandangannya, agar dia bisa menghindari tatapan Mamanya.


"Em, i-itu Ma tadi-"


"Sudahlah, Sayang. Lebih baik kita bersiap-siap terlebih dahulu, dan tinggalkan saja dia di sini sebagai hukuman dari Mama. Oh, iya.. Lebih baik kamu di rias di kamar Mama saja, Sayang. Agar tidak ada pengganggu lagi nanti." cetus Rahma sambil tersenyum smirk.


Devan yang mendengar ucapan Mamanya, kini pandangannya langsung tertuju ke arah suara itu berasal. Devan yang merasa tidak terima, kini sedikit memberikan penolakan agar Mamanya tidak memisahkan dia dengan istrinya, meskipun hanya sebentar saja.


"Mama, apa-apaan sih? Andini kan harusnya di rias di kamar kami, dan gaunnya pun sudah berada di kamar kami kan?" protes Devan yang merasa tidak terima dengan keputusan Rahma.


"No! Kali ini Mama tidak menerima penolakan apapun dari kamu, karena kamu sudah mengulur-ulur waktu Andini untuk berhias. Jadi kamu harus menerima konsekuensinya, Devano Wicaksana!" tegas Rahma.


Devan pun hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Jika Mamanya sudah bertindak tegas, maka dia sama sekali tidak bisa menggugatnya.


Andini yang melihat dan mendengar perdebatan antara Ibu dan anaknya, kini hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Sayang?" panggil Devan dengan raut wajah yang memelas.

__ADS_1


"Sudah, Sayang. Ayo! Kita harus cepat. Biarkan saja dia di sana. Nanti akan ada orang yang mengurusnya." ucap Rahma.


Akhirnya Andini pun mengikuti langkah kaki Ibu mertuanya. Sambil menahan tawanya, karena melihat raut wajah suaminya yang saat ini sedang di tekuk sambil mencebikkan bibirnya.


.


.


Selang satu jam kemudian, akhirnya riasan Andini pun selesai. Saat ini dia sudah memakai gaun berwarna navy, terlihat sederhana tetapi tetap elegan. Gaun yang telah berpasangan dengan suami dan putranya, kini sebagai pelengkap warna kebahagiaan mereka.


"Cantik sekali. Perfect!" puji Rahma.


Si tampan Arvin yang saat ini sedang bermain dengan beberapa mainannya, kini langsung melihat Bundanya sambil tertawa. Tawa yang terdengar sangat menggemaskan, dan selalu menjadi pengobat di kala lelahnya.


"Terimakasih, Ma. Mama juga terlihat sangat cantik sekali." puji Andini dengan penuh kasih sayang.


"Kamu bisa saja, Sayang. Ya sudah, lebih baik kita berangkat sekarang. Karena Shintya dan Nenek sudah menunggu di bawah bersama dengan Devan." ujar Rahma.


"Astaghfirullah! Arvin Sayang! Maafkan, Bunda! Karena telah meninggalkan mu dengan Nenek ya?" pekik Andini sambil mengecup pipi gembul putranya.


Rahma yang melihat tingkah menantunya, kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kecil sambil tersenyum.


"Sudah, ayo! Pelan-pelan saja, Sayang! Ingat, kamu memakai sepatu hak sedikit tinggi saat ini, jadi pelan-pelan saja!" titah Rahma.


Andini pun patuh. Akhirnya dia pun berjalan perlahan menuju ke arah anak tangga, untuk menghampiri Ibu, Nenek dan suaminya yang sudah menunggu mereka.


Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, Devan langsung berlari ke arah Andini dan menggendongnya ala bridal style. Andini pun memekik sambil mengalungkan tangannya di leher Devan.


"Kak Devan!" pekik Andini.


Devan yang saat ini sedang menggendong tubuh mungil istrinya, kini hanya tersenyum lebar dan langsung terpana dengan penampilan Andini.

__ADS_1


"Sayang, bisakah kita tidak pergi saja? Aku tidak mau membagikan kecantikan ini dengan para tamu-tamu undangan itu, apalagi nanti ada beberapa pria juga di sana. Pasti mereka akan terpesona dengan kecantikan yang kamu miliki." rengek Devan.


Rahma yang mendengar kasak-kusuk anak dan menantunya, kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kecil. Devan yang selalu saja posesif kepada Andini, membuat Rahma merasakan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.


Devan yang selalu saja menganggap jika semua wanita sama saja, kini akhirnya bisa bertekuk lutut dengan seorang gadis desa yang sangat polos dan lugu.


'Semoga kalian selalu bahagia dan tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kalian.' batin Rahma.


Akhirnya setelah saling melepas rindu, mereka semua pun berangkat bersama-sama ke hotel pribadi milik Devan.


Hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, akhirnya mereka pun sampai di lokasi, dan langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir di sana.


Pesta ulangtahun pertama si tampan Arvin, kini terasa sangat meriah dan ramai dengan kehadiran beberapa putra kolega Devan dan anak-anak panti asuhan yang memang sengaja dia undang.


Ucapan selamat dan do'a-do'a pun di dapatkan oleh Arvin. Mereka semua berharap jika kehidupan Arvin selalu diselimuti oleh kebahagiaan dan kedamaian.


"Selamat ulangtahun, Jagoan. Semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu mengiringi setiap perjalanan hidupmu nanti." ucap Shintya yang kini sedang mengambil alih Arvin dari Rahma.


Rahma dan beberapa orang yang ada di sekitarnya pun merasakan sebuah kebahagiaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Kebahagiaan yang terasa sangat lengkap dengan kehadiran si balita yang sangat menggemaskan itu.


Satu persatu Devan dan Andini menghampiri para tamu undangan sambil menggendong balita yang sangat menggemaskan itu.


Berbagai macam pujian didapatkan oleh balita itu. Entah mengerti atau tidak, Arvin terus saja terkikik dan terkadang juga tertawa saat ikut berkeliling dengan kedua orangtuanya.


Sejak malam inilah, kebahagiaan mereka benar-benar tercipta dengan sempurna. Tidak ada lagi penghalang dan penghancur kebahagiaan mereka. Karena Devan selalu sigap untuk melakukan hal yang mengganggu dan mengusik ketenangan keluarganya.


"Semoga saja kita selalu bahagia dan damai seperti ini ya, Kak! Aku juga berharap, jika kita bisa melewati hari-hari yang masih sangat panjang." harap Andini sambil menyadarkan kepalanya di bahu Devan.


Devan yang saat ini sedang menggendong putranya, kini hanya bisa tersenyum sambil mengecup lembut puncak kepala Andini.


Perasaan tenang dan damai selalu dia rasakan, saat dia mendapatkan sentuhan dan kecupan lembut dari Devan.

__ADS_1


Dan inilah kisah cinta mereka, yang selalu diliputi dengan kebahagiaan, setelah mereka bisa melalui dan melewatinya dengan keteguhan dan kepercayaan dari kedua pasangan tersebut.


__ADS_2