Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Maafkan Papa


__ADS_3

Daniel.


Setelah aku sedikit berbincang dengan bi Sari, kemudian aku pun meminta izin kepada beliau untuk menemui Papa. Kini aku menuju ke kamar pribadi papa yang berada di lantai dasar. Aku pun perlahan membuka pintu dan memasuki kamarnya.


Saat pintu terbuka, kupandangi wajah beliau yang terlihat sangat pucat. Aku pun berjalan perlahan menuju ke sisi ranjang, lalu duduk di kursi yang tersedia di sebelahnya.


Sayup-sayup terdengar suara papa memanggilku.


"Daniel," panggilnya lirih.


Aku pun hanya terdiam dengan seulas senyum tipis.


"Iya Pa, ini Daniel. Bagaimana keadaan Papa?" tanyaku dengan suara yang ku buat selembut mungkin.


Meski sebenarnya dalam hatiku berkecamuk, mencoba melawan rasa ego dan sakit hati yang ada dalam hatiku saat ini.


"Sejak kapan kamu ke sini? Apa kau ke sini untuk menjenguk Papa atau untuk tujuan yang lain?" tanyanya lirih.


"Belum lama baru beberapa jam yang lalu, Papa sudah makan belum? tadi Bi Sari masak makanan kesukaanku! apa Papa mau aku suapi?" tanyaku dengan seulas senyum tipis, tanpa menjawab pertanyaan darinya.


Kini buliran bening di mata Papa menetes perlahan.


"Daniel, maafkan Papa. Papa menyesal selama ini telah menyia-nyiakanmu," ucapnya lirih.


Saat melihat Papa seperti ini, sungguh diriku sebenarnya tak tega melihatnya.


"Sudahlah Pa! Sekarang yang penting Papa harus sehat dulu ya? Daniel udah maafin Papa,'' jawabku dengan seulas senyum tipis.


"Papa benar-benar menyesal Dan. Selama ini Papa hanya mementingkan kakakmu saja, dan sekarang lihatlah di saat Papa seperti ini justru kakakmu sama sekali tidak peduli dengan kondisi Papa. Entah sekarang dia ada di mana, Papa juga tidak tahu. Bahkan sudah berapa bulan ke belakangan ini sifatnya berubah drastis, seperti bukan Damian yang Papa kenal," ucapnya dengan sendu.

__ADS_1


Aku pun masih menyimak ucapan papa, kini masih menunggunya untuk bercerita kembali.


"Setelah beberapa tahun kepergianmu dari rumah ini, kakakmu Damian menjadi seorang pemabuk, dan setiap pulang selalu membawa wanita, itu pun bergonta-ganti setiap harinya. Entah cara mendidik Papa yang salah atau memang sifatnya yang kini menurun dari Papa. Sungguh Daniel, Papa sangat menyesal. Dan yang paling Papa sesali adalah saat kepergian mamamu untuk selamanya. Itu adalah kesalahan terfatal yang telah Papa lakukan kepadanya. Andaikan waktu bisa diputar kembali, Papa pasti akan menjaga wanita terbaik dan tersabar seperti mama kalian. Bahkan Papa akan menyayangi kalian secara adil seperti keinginan Mama kalian. Jika saja Papa tidak mendengarkan ucapan orang pintar yang telah menjauhkan Papa, dari darah daging Papa sendiri, mungkin kita akan menjadi keluarga bahagia sampai saat ini, Dan," jelasnya kini buliran air bening kembali menetes dengan derasnya.


Aku yang mendengar ucapan Papa, kini gemuruh dalam dada kembali ke bergejolak seperti ingin meledak, saat Papa mengingatkanku kembali kepada mama yang telah disakiti olehnya.


Jika saja dulu Papa tidak bermain wanita, mungkin mama tidak akan tertekan batinnya sehingga beliau sakit keras, bahkan mungkin saja saat ini mama masih ada bersama kami.


"Sudah Pa hentikan! Jangan ingatkan Daniel dengan kejadian yang telah membuat mama sakit hingga meninggalkan kita untuk selamanya. Mama sudah bahagia di sana Pa! Daniel tidak ingin mengingat kejadian yang sangat memilukan itu!" pintaku dengan penuh penekanan.


"Dan satu lagi, jika Papa memang menyesal dan merasa bersalah kepada mama. Sekarang Papa berusahalah untuk sembuh, lalu hidup berdamai dengan Daniel. Jika benar Papa masih mengakui Daniel sebagai darah daging Papa, maka Papa juga harus merubah sifat Papa yang egois dan tamak itu. Ya, meskipun jujur saja hati Daniel sudah terasa mati sejak kepergian mama!" ucapku dengan suara sedikit meninggi.


"Iya Dan, Papa akan melakukan apapun sesuai dengan keinginanmu. Agar kau bisa memaafkan Papamu yang hina ini," ucapnya lirih.


Setelah aku yang mendengar permintaan maaf dari Papa, aku pun menyuruhnya untuk beristirahat, lalu aku meminta izin pada beliau untuk menyelesaikan urusanku yang tertunda.


Aku pun bergegas untuk keluar dari kamar beliau, lalu menghampiri bi Sari kembali.


"Iya Den Daniel," sahut dengan seulas senyum di wajahnya.


"Bolehkah aku meminta alamat apartemen yang di tempati oleh kak Damian?" tanyaku dengan suara lembut.


Kini Bi Sari memandangiku, lalu mengusap lembut puncak kepalaku.


"Baik, akan Bibi berikan! Tapi Den Daniel harus berjanji kepada Bibi satu hal!" pintanya sambil tersenyum.


Aku pun langsung mengiyakan saja.


"Baik Bi, Insyaallah Daniel akan menepati janji,'' jawabku dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Setelah Den Daniel bertemu dengan den Damian nanti. Den Daniel tidak boleh memukul dan membuat den Damian terluka ya? Kalian adalah saudara kembar, sedarah dan sekandung. Jadi Bibi mohon agar Den Daniel membawa den Damian pulang dengan keadaan baik-baik saja," ucapnya kini dengan raut wajah yang berubah menjadi sendu.


Aku pun sedikit terkejut dengan permintaan dari bi Sari, bagaimana bisa aku bisa menahan amarahku yang saat ini masih berkobar dan hampir meledak.


Tanpa berpikir panjang untuk mendapatkan alamat itu, aku pun langsung menyanggupi permintaan bi Sari. Entah nanti aku bisa ataupun tidak, yang pasti aku harus bertemu dan meminta penjelasan dari seorang Damian Wijaya.


Setelah bi Sari menyodorkan secarik kertas yang terdapat sebuah nama apartemen yang jaraknya cukup jauh dari sini.


Aku pun bergegas meraih kunci mobil lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Kini bom waktu yang selama bertahun-tahun ku pendam, segera ingin ku ledakkan di tempat yang seharusnya.


Hanya membutuhkan waktu hampir satu jam, kini aku sudah tiba di sebuah apartemen yang cukup terkenal di kota ini.


Aku pun bergegas ke lobby untuk meminta bantuan kepada sang resepsionis, meskipun membutuhkan waktu sedikit lama untuk membujuknya.


Setelah aku mengatakan bahwa aku adik kembar dari orang yang sedang aku cari tadi, dan mengatakan bahwa ada hal yang sangat darurat sehingga aku harus segera untuk menemuinya.


Dan akhirnya aku pun berhasil mendapatkan kartu akses dari nama yang sedang aku cari.


"Tunggu aku Kak! Aku pasti akan segera datang untuk memberikan perhitungan, dan sebuah pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan olehmu!" gumamku lirih.


Kini aku pun bergegas menaiki lift, dan menuju ke lantai 10, tepat di pojok kanan adalah kamar Kak Damian.


Aku pun langsung memasukkan kartu akses itu untuk membuka pintu. Dan akhirnya pintu pun terbuka.


Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat ku tercengang saat melihat sesuatu di dalam ruangan itu.


'Kenapa ada dia di sini? Apa sebenarnya hubungan mereka? Dan sejak kapan mereka berhubungan seperti ini?' gumamku dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2