
Daniel.
Saat aku melihat pergulatan panas mereka. Kini ku urungkan niatku untuk menemui kak Damian.
Aku justru mencurigai mereka. Kenapa bisa kak Damian bersama dengan Vania si wanita ular itu? Apa hubungan mereka sebenarnya?
"Tidak! Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus segera menyelidikinya," gumamku, sambil berjalan menyusuri lorong menuju lift berada.
Kini aku pun telah sampai di lobby.
"Lho mas, ngga jadi ketemu sama kakaknya?" tanya sang resepsionis.
Aku pun terdiam sejenak, lalu mencari alasan yang masuk akal dan tidak membuatnya curiga padaku.
"Belum jadi mbak! Soalnya tiba-tiba saya dapat telpon dari rumah. Katanya darurat," ucapku dengan seulas senyum tipis.
"Oh begitu, ya sudah hati-hati di jalan Mas,'' ucapnya dengan ramah.
Aku pun menganggukkan kepala, lalu bergegas pergi dari apartemen itu. Kini aku pun melajukan mobilku ke arah cafe biasa, tempat yang biasa aku kunjungi saat bertemu dengan seseorang.
Kali ini aku membutuhkan waktu yang cukup lama, karena jarak yang ku tempuh saat ini lumayan jauh jaraknya. Dalam hati aku pun bertanya-tanya tentang Vania dan kak Damian, bagaimana bisa mereka berdua saling kenal? Atau mungkin saja selama ini memang mereka sudah saling mengenal?
Ah, entahlah. Di dalam pikiranku saat ini banyak sekali berbagai pertanyaan yang berkecamuk, aku sendiri pun tidak bisa untuk berpikir jernih saat ini. Satu masalah belum terselesaikan, kini masalah baru muncul secara tiba-tiba.
Kini aku pun telah sampai di tempat yang aku tuju, dimana aku sudah membuat janji, untuk bertemu dengan seseorang. Jujur saja! Saat ini aku sangat merasa lelah dengan berbagai permasalahan yang sangat pelik, yang sedang aku hadapi. Ingin rasanya aku beristirahat sejenak. Akan tetapi pikiranku tidak bisa untuk diajak bekerja sama.
Entah mengapa, seperti ada hal janggal yang aku rasakan saat ini.
"Mengapa aku merasa bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu? Tapi apa? Apakah mereka juga bekerjasama untuk menjebak Devan?" gumamku, tanpa ku sadari, kini orang yang ku tunggu pun sudah tepat berada di sampingku.
"Daniel," panggilnya.
Seketika lamunanku pun buyar, saat mendengar panggilan orang itu.
"Oh, lo sudah tiba Ze! Maaf, gue tidak menyadari kehadiran lo," ucapku dengan seulas senyum tipis.
__ADS_1
Kini dia pun mengangkat sebelah alisnya.
"Hey, ada apa? Kenapa lo terlihat begitu cemas? Ada apa, Dan?" tanya Zean dengan raut wajah penasaran.
Aku pun menghela napas panjang, sebelum aku memulai bercerita.
Seseorang yang aku ajak bertemu tadi adalah Zeandra Wiratama, dia salah satu sahabatku yang selalu bisa mengerti bagaimanapun keadaanku.
Dia juga bisa membaca situasi yang sedang aku hadapi, kini dia pun juga memahami hanya lewat raut wajahku saja. Jika ditanya apakah Devan mengenalnya. Jawabannya adalah tidak. Akan tetapi,
Zean sangat mengenali seorang Devano Wicaksana, sosok pengusaha muda yang sudah sangat terkenal dalam dunia bisnis di bidang teknologi.
"Apa lo yakin bertanya seperti itu sama gue? Bukankah biasanya lo langsung saja tahu, bagaimana keadaan dan situasi pelik selalu gue alami? Apa lo belum paham juga?" tanyaku dengan nada lesu.
Kini aku justru melihat tawanya yang begitu lepas, dan terdengar begitu renyah.
"Apakah lo saat ini sedang benar-benar dalam kesulitan? Sehingga lo membutuhkan bantuan sahabat receh lo seperti gue ini? Bukankah biasanya lo sama sekali tidak ingat sama gue? Jika bukan karena hal-hal yang sangat mendesak, lo mana sempat untuk bertemu gue!" sindirnya.
Aku yang mendengar nya hanya memberikannya tatapan saja.
"Apakah lo ke sini hanya untuk nyindir gue? Atau memang terpaksa datang untuk menemui gue?" tanyaku dengan nada ketus.
Aku pun hanya memutar bola mata malas, percuma berdebat dengan seorang Zeandra Wiratama, karena tidak akan pernah ada ujungnya.
"Oke baiklah gue ngalah! Saat ini gue benar-benar butuh bantuan lo, dan gue harap lo ada waktu senggang saat ini. Karena masalah ini sangat membingungkan buat gue," ucapku yang terdengar ambigu.
"Tentu! Apa sih yang nggak buat sahabat gue yang satu ini! Meskipun sesibuk apapun gue, bukankah gue sering nyempetin waktu gue buat lo. Apalagi buat setiap masalah yang sedang lo hadapi," ucapnya dengan nada santai.
"Oke, lebih baik kita pesan makan dulu, untuk mengisi tenaga dan menjernihkan pikiran kita, agar bisa berkonsentrasi dalam menyusun strategi nanti. Saat ini gue benar-benar kelaparan, karena sejak tadi siang gue belum makan lagi," ucapku, sambil meraih daftar menu yang tersedia di atas meja.
"Oke, baiklah," jawabnya singkat.
.
.
__ADS_1
Setelah selesai makan, kami pun beristirahat sejenak.
"Jadi?" tanyanya dengan menggantungkan ucapnya.
"Jadi begini Ze, ini masih ada kaitannya dengan Devan---" Tiba-tiba Zean pun memotong ucapan ku.
"Ck! Sudah gue duga, pasti Devano lagi. Kali ini ada apa lagi dengan dia? Masalah apa lagi yang dia hadapi saat ini?" tanyanya dengan nada meremehkan.
Sudah kuduga, Zean selalu saja seperti itu saat mendengar nama Devan. Aku pun merasa heran dengan sikap tidak sukanya kepada salah satu sahabatku itu.
"Apa lo masih ingin mendengar cerita gue? Jika iya, biarin gue lanjutin dulu cerita gue dulu, sebelum lo motong sesuka hati lo!" kesalku dengan nada sedikit ketus.
Dia pun hanya menganggukkan kepalanya, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Oke, silahkan lanjutkan!" jawabnya dengan nada santai.
"Jadi begini, kemarin Devan menemui gue, dia bilang mantan kekasihnya yang bernama Vania Rinjani menemui dia kembali secara tiba-tiba, tanpa sepengetahuan darinya. Yang membuat dia curiga, kenapa setelah 2 tahun dia menghilang, tiba-tiba saja dia muncul kembali. Dan dia juga minta kesempatan lagi pada Devan,'' ucapku dengan ragu-ragu.
Zean pun masih diam dan menyimak setiap ucapanku.
"Tentu saja Devan menolaknya. Akan tetapi yang membuatnya curiga adalah, wanita itu mengatakan akan kembali lagi, sampai bisa mendapatkan Devan kembali padanya ..." Kini aku sengaja menggantungkan ucapanku.
"Lalu?" tanya Zean singkat.
"Masalah itu, sebelumnya gue serahin dulu sama orang kepercayaan gue. Karena gue ada kepentingan pribadi yang harus gue lakuin dan gue tuntasin. Tapi, ada kejanggalan lagi yang baru saja gue temuin tadi, sebelum gue meminta untuk bertemu lo,'' jelasku dengan raut wajah gelisah.
"Bentar-bentar, maksud lo bagaimana? Coba jelasin secara detail, biar gue bisa paham!" pintanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Jadi begini, saat gue mau menemui kakak gue di apartemen pribadinya. Tanpa sengaja gue melihat pergulatan panas, antara kakak gue dengan mantan kekasih Devan. Menurut lo, ada yang janggal ngga dengan masalah yang membingungkan ini?" tanyaku dengan ragu-ragu.
Kini Zean masih terdiam, lalu mendekat ke arahku dengan menumpukan kedua tangannya di atas meja.
"Kenapa dari cerita lo, gue nangkepnya wanita itu hanya ingin membuat Devan masuk ke dalam jebakannya, dan bisa saja kakak lo itu, ada di balik rencana wanita yang lo maksud itu," ucapnya sambil menatap tajam ke arahku.
"Entahlah, masalah ini sangat rumit. Gue sama sekali belum bisa nemuin akar dari masalah yang sedang dihadapi oleh Devano," jawabku sambil memijat pelipis.
__ADS_1
"Aha! Gue punya sebuah rencana!'' seru Zen.
.BERSAMBUNG.....