
Happy reading....
Setelah pertemuanku dengan Ibunda pak Devano, aku pun langsung memberikan kabar kepada nenek di kampung. Awalnya beliau merasa terkejut dengan kabar yang aku berikan kepadanya.
*Flashback on*
"Halo, Assalamualaikum, Nek," salamku kepada Nenek.
Nenek : Halo Nak, wa'alaikumsalam. Bagaimana kabarmu? Kenapa tiga hari ini kamu tidak memberikan kabar kepada nenek? Nenek sangat mengkhawatirkan keadaan kamu, Nak?
Tanya Nenek dengan raut wajah sendu.
"Alhamdulillah kabarku di sini baik-baik saja, Nek. Nenek dan ibu bagaimana kabarnya?" tanyaku dengan seulas senyum tipis.
Setiap kali aku menanyakan keadaan Ibu, aku selalu berharap jika Ibu akan berbicara kepadaku, meskipun hanya sekedar untuk menanyakan keadaanku di sini.
Akan tetapi, mustahil rasanya jika aku mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Karena aku tau, ibu sangat membenciku!
Nenek : Alhamdulillah kabar kami baik- baik saja.
ucap Nenek dengan lembut.
"Maafkan Andini, Nek. Karena akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan aku juga harus menemani bos ku lembur sampai dia pulang.'' jelasku kepada Nenek.
Nenek : Iya, sayang. Nenek hanya mengkhawatirkan keadaanmu saja. Alhamdulillah jika kau baik-baik saja di sana.
Ucap Nenek dengan penuh kasih sayang.
"Nek, bolehkah aku mengatakan sesuatu? Aku berharap Nenek tidak terkejut saat mendengarnya nanti,'' ucapku dengan hati-hati.
__ADS_1
Nenek : Tentu saja boleh! Katakanlah, sayang!
"Emn, jadi begini, Nek. Akhir pekan ini, bosku beserta Ibundanya ingin bersilaturahmi ke rumah kecil kita, dan ...'' Ucapku yang masih menggantung, kini aku bingung harus melanjutkan ucapanku atau tidak
Nenek : Dan apa, Nak?
Tanya Nenek, sambil mengernyitkan dahinya.
"Dan ... mereka ingin melamarku secara langsung di hadapan kalian," ucapku dengan ragu-ragu.
Sesuai dengan dugaanku, nenek pun sangat terkejut dengan ucapanku.
Nenek : A-apa! Kenapa bisa? Bukankah belum ada sebulan kau bekerja di sana? Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Katakan sejujurnya kepada Nenek.
Aku yang mendengar ucapan Nenek pun bingung, karena tidak mungkin aku mengatakannya dengan jujur kepada Nenek.
Bagaimana bisa aku mengatakan, bahwa semua ini hanya pernikahan kontrak sementara, bahkan hanya enam bulan lamanya.
"Entahlah Nek! Kemarin pak Devano mengajakku bertemu dengan Ibundanya, lalu memperkenalkan aku sebagai calon istrinya. Dan Ibundanya pun langsung menyetujuinya. Bahkan setelah aku jelaskan siapa diriku yang sebenarnya. Mereka masih kekeh untuk bertemu dengan nenek dan Ibu. Bagaimana nek? Apa Nenek mengizinkan mereka untuk bersilaturahmi ke rumah kita?" jelasku.
Kini Nenek pun terdiam sesaat, dan kini terdengar helaan napasnya yang panjang.
Nenek : Apa kau yakin ingin menerima lamaran itu, Sayang? Bahkan usia mu baru 18 tahun, dan kamu juga belum lama ini baru lulus SMA. Apa kau tidak ingin menikmati masa mudamu terlebih dahulu?"
Sesaat aku berpikir, sebenarnya tidak ada salahnya dengan ucapan Nenek. Akan tetapi, aku sudah terlanjur menandatangani surat perjanjian itu.
"Insya Allah, aku siap nek. Semoga keputusan yang aku ambil ini tidak salah. Apa nenek keberatan jika aku nikah muda?" Tmtanyaku dengan hati-hati.
Nenek : Baiklah, jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Semoga saja kebahagiaan selalu mengiringi setiap langkahmu, sayang.
__ADS_1
'Entah nanti aku bahagia atau tidak? Biarlah takdir yang akan membawaku ke jalan yang seharusnya ku jalani, nek!' gumamku dalam hati.
"Aamiin ... do'akan yang terbaik untuk cucumu ini ya, nek! Semoga saja ini jalanku untuk menuju kebahagiaanku!" ucapku dengan seulas senyum tipis.
Nenek : Iya sayang, Tentu. Semoga kelak kau akan merasakan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Baiklah Nek, kalian hanya perlu mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan kami. Kalian tidak perlu mempersiapkan segalanya. Karena Ibunda pak Devano telah mempersiapkan segala sesuatunya," ucapku lagi.
Nenek : Baiklah, nenek ikut kalian saja bagaimana baiknya. Semoga saja semua lancar, tanpa kendala apapun!
"Iya Nek, kalau begitu nanti aku sampaikan kepada mereka, terima kasih Nek," ujarku sambil tersenyum kepadanya.
Entah mengapa, mendapatkan restu dari Nenek, aku sangat bahagia saat ini.
Nenek : Iya sayang, nenek menyayangimu, Andini!
"Andini juga menyayangi Nenek," jawabku dengan penuh semangat.
"Ya sudah, aku mau istirahat dulu ya nek. Lelah sekali hari ini," ucapku sambil tersenyum lebar.
Nenek : Iya sayang, selamat beristirahat gadis kecil nenek. Assalamu'alaikum cantik.
"Wa'alaikumsalam, nenekku sayang,'' jawabku.
Tut!
Kini panggilan pun terputus.
*Flashback off.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....