
Daniel.
Setelah pertemuanku dengan Devan kemarin, kini aku pun di tugaskan olehnya, untuk mengintai setiap gerak-gerik mantan kekasihnya itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Vania Rinjani, seorang wanita ular yang mempunyai seribu cara yang sangat licik untuk memenuhi segala ambisinya.
Kini aku pun membagi tugas dengan orang kepercayaanku, karena aku juga mempunyai misi lain saat ini.
"Halo, temui saya sekarang di tempat biasa!" titahku dengan nada tegas.
(..............)
Setelah mendapatkan jawaban darinya. Aku pun langsung memutuskan panggilan suara kami.
Aku pun bergegas untuk mengambil kunci mobil, kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi, untuk menuju ke tempat yang aku sebutkan tadi.
_______###_______###_______
Cafe Diamond
Kini aku pun sudah sampai lebih dulu, selang beberapa menit kemudian dia pun tiba, dan kini dia menghampiriku ke meja yang sudah ku pesan secara private.
"Saya punya tugas untukmu, ini fotonya dan kamu harus menyelidikinya. Jangan sampai ada momen yang terlewatkan sedikitpun!" perintahku dengan nada tegas.
"Baik Pak, seperti biasa. Percayakan semua kepada saya!" jawabnya dengan penuh keyakinan.
Aku pun tersenyum tipis saat mendengar kesanggupannya untuk misi kali ini.
"Bagus! Mulai lakukan hari ini juga, dan hati-hati! Wanita ini bukan wanita sembarangan, dia adalah wanita ular yang sangat berbahaya," ucapku dengan penuh ketegasan.
"Anda tenang saja, kali ini saya juga tidak akan bekerja sendirian. Saya akan mengerahkan tangan kanan saya untuk membantu misi ini agar segera terselesaikan,'' jelasnya dengan seulas senyum tipis.
"Baik, saya percayakan semuanya kepadamu. Saya harap kali ini kamu tidak mengecewakan saya," ucapku dengan penuh penekanan.
"Siap Pak. Akan saya kerjakan misi dari Anda!"
"Bagus, silahkan!" Sebelum dia menjalankan misinya, aku pun mempersilahkannya terlebih dahulu untuk menikmati makanan yang sudah ku pesankan tadi.
Setelah selesai, kami saling menjabat tangan. Kemudian berpisah, lalu mengerjakan misi masing-masing.
Kemudian aku menuju tempat yang seharusnya aku datangi sejak kemarin. Tak membutuhkan waktu lama, hanya sekitar kurang lebih 1 jam aku tiba di lokasi tersebut.
Saat aku memasuki sebuah perumahan elit, dan kini aku menuju ke sebuah rumah bercat putih dengan halamannya yang sangat luas.
Aku pun segera memasuki rumah yang sudah lama aku tinggalkan, mungkin beberapa tahun ke belakang ini.
__ADS_1
Ceklek!
Saat pintu terbuka, ternyata bi Sari sedang membersihkan rumah dan kini dia datang menghampiriku.
"Den Daniel, oenapa baru pulang sekarang? Apa Den Daniel tau kalau Tuan sekarang sedang sakit?" ucapnya dengan nada sendu.
"Iya Bi, maafkan Daniel ya. Selama ini Daniel memang jarang kemari, Bi Sari apa kabar?" Bukannya menjawab pertanyaan dari bi Sari, kini aku justru menanyakan keadaannya.
Ya, saat ini aku memang sedang berada di rumah yang pernah membuatku merasa nyaman dan aman.
Namun, semua rasa itu sirna. Kemudian aku pun pergi meninggalkan keluarga yang sudah lama tidak pernah menganggap keberadaanku.
Setelah kepergian mama beberapa tahun yang lalu, aku pun memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Karena setelah kepergian beliau, semua orang seakan menjauh dariku, termasuk Tuan Ristan Wijaya yang notabenenya adalah papaku kandungku sendiri.
Karena sejak dulu, beliau memang hanya selalu membanggakan Damian, dia adalah kakak kandungku. Dia sama saja dengan papa, tidak pernah menganggapku ada sebagai adiknya.
Sifat Damian memang benar-benar mewarisi sifat papa, mereka sama-sama angkuh dan tamak karena sebuah kekayaan.
Bahkan sesama saudara kandung pun, mereka saling menyisihkan agar bisa menikmati sendiri kekayaan tersebut. Tapi bukan itu yang menjadi masalahku hingga meninggalkan rumah ini.
Aku sangat marah kepada papa dan kak Damian, karena keegoisan mereka kini mama pergi untuk selamanya.
"Den Daniel.''
"Eh, iya Bi," sahutku dengan seulas senyum.
"Den Daniel tidak ingin melihat kondisi Tuan Ristan?" tanya bi Sari padaku.
Aku pun terdiam sejenak, sebelum menjawab pertanyaan darinya.
"Untuk apa anak yang tidak pernah di anggap kehadirannya, datang untuk menemuinya? Bukankah ada kak Damian yang selalu dia banggakan itu?" jawabku dengan nada datar.
Bi Sari pun kini memelukku, beliau memang sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri.
Almarhumah, mama pun mengetahuinya, dan tidak pernah mempermasalahkan tentang ini. Setiap aku memasuki rumah ini, ingatan dan bayangan tentang mma selalu hadir.
"Den, mungkin Den Daniel belum mengetahui jika Den Damian sudah lama tidak pulang ke rumah. Sehingga membuat Tuan Ristan jatuh sakit, bahkan sampai saat ini pun Den Damian belum pulang sama sekali," ucap Bi Sari dengan mata berkaca-kaca.
Aku pun terkejut dengan pernyataan Bi Sari. Bagaimana mungkin kak Damian sampai tega dengan papa.
"Memang kemana perginya kak Damian, Bi?" Tanyaku dengan lembut.
Bagaimana pun juga, hanya Bi Sari yang masih memanusiakan aku di sini, jadi aku akan tetap menghormatinya seperti aku menghormati mama.
__ADS_1
"Setau Bibi, dia sekarang tinggal di sebuah apartemen Den, sebentar Bibi lupa namanya. Tapi Bibi catat kok nama apartemen itu," jelasnya secara perlahan.
Aku pun mencegah Bi Sari, agar mengurungkan niatnya dulu untuk mencari catatan tersebut.
"Biarkan, nanti saja Bi! Apa Bibi tidak merindukan putra Bibi ini? Apa Bibi tidak ingin memasakkan makanan kesukaanku?" tanyaku sambil mengalihkan perhatiannya sejenak.
"Oh, iya, maafkan Bibi ya, Den. Bibi sampai lupa tidak menawari Den Daniel makan. O, iya, Den Daniel mau Bibi masakin makanan apa?" tanya bibi dengan penuh kasih sayang.
"Emn, cumi saus padang dan tempe geprek yang sambelnya super pedas ya, Bi!" pintaku.
Untuk sementara waktu aku pun bisa mengalihkan kesedihanku, agar tidak terus memikirkan mendiag mama. Karena percuma saja, dia sudah merasa bahagia di sisi Tuhan saat ini. Hanya do'a yang bisa ku kirimkan di setiap sujudku.
Meskipun aku di kenal dengan kenakalan dan sikap keras kepalaku, akan tetapi aku tidak pernah berpaling dari Sang Pencipta.
Aku selalu berdo'a semoga mama tenang di sana, dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya.
Dan satu hal yang membuatku datang ke rumah ini, momen dan kenangan bersama dengan beliau tidak akan pernah hilang dan terlupakan. Bahkan tujuanku kemari pun bukan untuk papa dan kak Damian, tapi karena rasa rinduku pada mama.
Jujur saja, aku sebenarnya masih sangat muak dengan mereka. Meskipun mama pernah mengatakan agar aku tidak menyimpan rasa dendam kepada mereka.
Akan tetapi semua itu tidak bisa lagi ku lakukan, rasa sakit hatiku tidak akan pernah terbayarkan oleh nyawa mereka sekalipun.
"Den," panggil bi Sari kembali menyadarkanku.
Aku pun langsung tersenyum padanya.
"Iya Bi," sahutku.
"Silahkan Den Daniel makan dulu, semua sudah matang dan sudah Bibi siapkan di meja makan," ucap bi Sari dengan lembut.
Kini aku pun mengikuti langkahnya dari belakang.
"Wah, terlihat enak sekali sepertinya Bi? Yuk, temani putrammu ini makan! Eits, kali ini Bibi tidak boleh menolaknya," ucapku dengan seulas senyum, lalu menarik lembut tangan bi Sari.
Akhirnya beliau pun bersedia untuk makan bersama denganku. "Terimakasih Den Daniel," ucapnya dengan rasa sungkan.
"Ah, Bibi ini seperti dengan orang lain saja. Yuk Bi, kita habiskan sama-sama," ajakku sambil mengambilkan nasi dan lauk yang tersedia.
Bi Sari pun kini hanya tersenyum padaku. Matanya kini pun berkaca-kaca.
"Terimakasih Den," ucapnya lirih.
BERSAMBUNG....
__ADS_1