
Saat ini kondisi Andini sudah benar-benar stabil, jadi Dokter Irawan sudah memutuskan untuk segera mengambil tindakan operasi.
"Baiklah, apa Anda sudah siap?" tanya Dokter Irawan kepadaku.
Aku pun menganggukan kepala.
"Insya Allah saya sudah siap, Dok. Akan tetapi, saya mohon agar Dokter tidak memberitahukan siapa pendonor sebenarnya kepada pasien, nanti saya sendiri yang akan mengatakannya," ucapku, yang memohon kepada Dokter Irawan.
Dokter Irawan pun hanya tersenyum saat mendengar permintaanku.
"Baiklah. Akan saya rahasiakan terlebih dahulu sesuai dengan permintaan Anda. Semoga saja setelah melakukan operasi, pasien akan segera pulih kembali," ucap Dokter sambil meyakinkanku.
"Terimakasih, Dok. Dan satu lagi, saya mohon saat operasi dilakukan saya ingin ada pembatas di antara kami, agar dia tidak bisa melihat saya," ucapku lagi.
"Baik Pak Devano, kami akan melakukannya sesuai dengan permintaan Anda," ucap Dokter Irawan, yang menyetujui permintaan ku.
****
Ruang operasi..
Di sinilah kami berada sekarang, ruangan yang teramat sangat dingin dan senyap. Dari balik celah tirai, ku pandangi wajah pucat calon istriku yang telah diam-diam aku cintai.
Kini tubuhku dan Andini pun akhirnya mendapatkan biusan dari sang Dokter. Akhirnya, operasi pun di mulai.
'Semoga setelah ini, keadaanmu akan semakin membaik, Sayang!' batinku, dengan seulas senyum terbit di sudut bibirku.
Entah berapa jam lamanya, aku pun tidak tau pasti. Karena saat itu, kami tidak sadarkan diri saat obat bius itu bekerja.
***
POV Rahma
Ruang Tunggu...
Aku yang sedang menunggu putraku, yang sedang melakukan transplantasi sumsum tulang belakangnya untuk Andini, hanya bisa harap-harap cemas. Semoga saja Dokter Irawan berhasil menjalankan operasi ini.
Jujur saja, rasa khawatir kini menyelimuti hatiku.
Ku lihat Shintya juga tidak kalah khawatirnya denganku. Karena kedua putra dan putri kami, yang sedang berada di ruangan operasi itu.
Kami yang sedang menunggu lampu yang masih menyala merah tepat di atas ruangan itu, agar segera berubah menjadi hijau.
"Ma, semoga saja operasinya berjalan dengan lancar ya? Aku benar-benar takut sekarang." ucap Shintya dengan penuh harap.
__ADS_1
Kini aku pun mencoba untuk tersenyum saat menatap lekat wajahnya.
"Kamu tenang saja, Shin. Semua akan baik-baik saja. Mereka putra dan putri kita yang terhebat, jadi semua akan berjalan dengan lancar." ucapku yang mencoba untuk menenangkan sahabat ku, Shintya.
Ya, meski ku tau bahwa aku sendiri juga belum bisa bersikap tenang. Akan tetapi, sebisa mungkin aku mencoba untuk menormalkan kegugupan ku, agar Trisya juga bisa sedikit tenang. Aku ingin menyalurkan energi positif kepadanya.
"Insya Allah, semoga saja ya, Ma," ucap Shintya dengan raut wajah sendu.
"Do'akan yang terbaik untuk mereka, agar operasinya berjalan dengan lancar. Lebih baik kita ke mushola terlebih dahulu untuk menunaikan kewajiban kita, dan kita bisa bersama-sama mendo'akan mereka," ucap Ibu Shintya kepada kamu.
Tanpa membuang-buang waktu, kami pun bersama-sama beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke mushola yang ada di Rumah Sakit itu.
Setelah mengambil air wudhu, kami bergegas untuk segera menunaikan ibadah sholat dzuhur. Aku mencoba untuk fokus dalam ibadah ku, agar bisa khusyuk dalam menjalankannya.
Salam adalah sebagai penutup akhir Sholat, lalu ku tadahkan kedua tangan ku untuk berdo'a kepada Sang Pemilik Kehidupan. Aku ingin berdo'a untuk kedua putra dan putriku, semoga operasi yang sedang mereka jalani lancar tanpa mengalami hambatan apapun.
Setelah selesai, kami pun bergegas untuk kembali ke ruang tunggu tepat di depan ruang operasi berada. Saat kami tiba di sana, warna lampu tak juga kunjung berubah.
"Tenangkan hati kalian! Percayakan semua kepada Allah SWT, agar semua berjalan dengan sebaik-baiknya,'' ucap Ibu Shintya, mencoba untuk menenangkan kegelisahan dalam diri kami.
"Insya Allah, Bu. Aku percaya pasti semua akan baik-baik saja," jawab Shintya dengan seulas senyum yang dipaksakan.
Tak terasa kini sudah 4 jam berlalu, dan akhirnya lampu pun telah berubah menjadi warna hijau.
Kini terlihat Dokter Irawan keluar dari ruangan itu, kami pun bergegas untuk menghampirinya.
"Bagaimana, Dok? Apakah semua berjalan dengan lancar?" tanyaku dengan raut wajah yang khawatir.
"Iya, Dok. Apa semua baik-baik saja?" tanya Shintya yang tidak kalah khawatirnya denganku.
Dokter Irawan pun hanya mengembangkan senyumnya.
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar dan mereka semua baik-baik saja. Kami akan segera memindahkan mereka di ruang perawatan," jelas Dokter Irawan kepada kami.
"Alhamdulillah," ucap kami serentak.
"Silahkan kalian tunggu di depan ruang rawat mereka, suster sedang menyiapkan segalanya!" pinta Dokter Irawan kepada kami.
"Baik, Dok. Terimakasih banyak, Dokter," ucap Shintya dengan penuh semangat.
Lalu Dokter Irawan pun berlalu meninggalkan kami, yang masih saling berpelukan. Tidak lupa kami pun mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena telah mengabulkan do'a-do'a kami.
"Kalian percaya kan sekarang? Do'a tulus seorang Ibu akan lebih cepat menembus ke langit dan pasti Allah SWT juga lebih cepat mengabulkannya,'' tutur Ibu Shintya dengan senyum haru.
__ADS_1
Sesuai dengan permintaan Dokter, kami pun bersama-sama berjalan ke ruang perawatan mereka.
Tak berselang lama kemudian, para suster mendorong brankar di mana mereka masih memejamkan matanya di atasnya.
"Tunggu beberapa jam dulu ya, Bu. Setelah itu kalian bisa bergantian menjenguk mereka di dalam. Karena setelah melakukan operasi, mereka harus benar-benar beristirahat terlebih dahulu," jelas salah satu Suster yang kini menghampiri kami.
"Baik, Sus," jawab kami secara bersamaan.
Kemudian kami pun saling berpelukan kembali, dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT.
***
2 jam kemudian...
Setelah 2 jam berlalu, Suster pun menghampiri kami lalu mengatakan bahwa kami sudah boleh menjenguk mereka secara bergantian.
Aku pun langsung masuk ke dalam ruang rawat putraku, Devano. Saat aku masuk ke dalam ternyata putraku sudah terjaga.
"Hay, Sayang? Bagaimana? Apa masih terasa sakit?" tanyaku sambil menatap sendu ke arahnya.
Devan pun mengembangkan senyumnya, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Ma. Rasa sakit itu kini sudah berganti dengan rasa bahagia, karena Devan berhasil menyelamatkan pemilik hati, Devan,'' jawabnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Aku yang melihatnya tersenyum, kini sangat merasa bersyukur. Karena senyuman itu sempat memudar, karena pengkhianatan yang di lakukan oleh Vania.
Ah, mengapa aku justru kembali teringat dengan wanita itu? Tidak! Aku tidak boleh mengingat orang yang telah membuat putraku hancur.
"Alhamdulillah. Semoga setelah ini, kalian bisa hidup bahagia selamanya, Sayang!" Do'a tulus untuk kebahagiaan putra semata wayangku.
"Insya Allah, Ma. Do'akan Devan agar selalu bisa menjaga dan melindungi Andini. Karena bagi Devan saat ini, selain Mama ada Andini di dalam hatiku. Aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan gadis sebaik dan semanis dia, kepolosannya yang telah memikat hati Devan, Ma," jelasnya Devan dengan penuh ketulusan.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu telah menemukan tambatan hatimu kembali, Sayang. Berbahagialah kalian," ucapku lalu mendaratkan ciuman di kening putraku.
"Terimakasih, Ma. Mama memang yang terbaik. Revan sangat menyayangi, Mama. I love you so much, Ma," ujarnya sambil menggenggam erat tanganku.
"Iya Sayang, I love you more, honey,'' jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
"O, iya, bagaimana dengan keadaan Andini, Ma? Apakah dia sudah sadarkan diri? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Devan dengan penuh perhatian.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja. Akan tetapi ....''
BERSAMBUNG...
__ADS_1