
"Tidak, Kak! Jangan lakukan itu!" bisikku kepadanya.
'Ah, Dasar CEO Mesum.'
Dalam hati aku pun menggerutu. Bagaimana tidak? Kak Devan bahkan tidak tau tempat jika ingin menggoda ku.
Kini mataku pun mengedarkan pandangan kepada setiap tamu yang datang. Saat ini aku sedang mencari keberadaan Siska, sahabatku yang selama ini seringkali menolong ku.
Karena aku meminta Kak Devan untuk mengundang Siska dan yang lainnya, tanpa terkecuali.
Saat ini ku dapati Siska yang sedang melihat ke arahku sambil terperangah, mungkin dia masih berpikir dan menerka-nerka apa yang bersanding dengan Kak Devan adalah aku atau bukan.
Kini pandangan ku teralihkan saat pembawa acara memulai acara resepsi ini, lalu nama kamu pun di panggil olehnya.
"Selamat malam semuanya? Akhirnya kita telah sampai kepada inti acara, langsung saja kita sambut sepasang pengantin baru kita. Tuan Devano Wicaksana dengan Nyonya Andini Amalia! Berikan tepuk tangan yang sangat meriah untuk sepasang pengantin yang sangat memukau malam ini!" ucap sang pembawa acara.
Aku yang mendengar ucapan sang pembawa acara, hanya tersenyum canggung kepada semua tau yang hadir dalam acara resepsi kami.
Kini aku pun benar-benar sangat gugup, karena saat ini kami menjadi pusat perhatian semua orang di ruangan ini.
"Kita persilahkan sepasang pengantin untuk naik ke atas panggung utama dan memberikan sambutan kepada semua tamu yang hadir di sini!" ucap sang pembawa acara lagi.
Lalu Kak Devan pun menarik pinggangku agar menempel padanya. Awalnya aku sangat terkejut, karena aku belum terbiasa melakukannya, bahkan untuk mengumbar kemesraan di depan umum seperti ini.
Kini Kak Devan pun menerima mic yang telah di sodorkan oleh sang pembawa acara .
"Selamat malam semuanya? Bagaimana kabar kalian semua? Semoga kalian semua baik-baik saja ya? Terimakasih karena kalian telah berkenan untuk hadir dalam resepsi pernikahan kami. Mungkin kalian merasa terkejut dengan pernikahan tiba-tiba kami dan kapan kami melangsungkan pernikahan kami? Ya, kami menikah seminggu yang lalu, dan tepat satu Minggu hari ini kami melangsungkan resepsi. Mungkin kalian tidak asing dengan orang yang bersanding di samping saya, karena mungkin sebagian dari kalian sudah sangat mengenalnya. Mungkin juga kalian semua bertanya-tanya bagaimana bisa saya menikah dengan seorang gadis yang bernama Andini Amalia? Jawaban hanya sederhana, yaitu kami memang berjodoh dan Tuhan pun memberikan restunya kepada kami. Sekian dulu penjelasan dan sambutan dari saya. Terimakasih dan silahkan menikmati hidangan dan jamuan yang tersedia!" ucap Kak Devan dengan penuh keramahan.
Kini pelukannya tidak lepas sedikitpun dari tempatnya, bahkan semakin erat kini terasa pinggangku semakin menempel ke dalam pelukannya.
Lalu kami pun turun dari atas panggung dan menghampiri tamu-tamu yang hadir di sana.
Kak Devan turun terlebih dahulu, dan dia pun mengulurkan tangannya untuk membantu ku turun dari atas panggung. Karena gaun yang aku kenakan saat ini sedikit menyulitkan ku untuk bergerak.
Kemudian Kak Devan mengajakku untuk menemui rekan-rekan bisnisnya terlebih dahulu.
"Wah! Benar-benar kabar yang sangat mengejutkan untuk kami semua Pak Devano. Tanpa ada angin dan kabar sebelumnya, kini tiba-tiba Anda sudah menikah saja. Saya ucapkan selamat untuk pernikahan Anda dan istri. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia hingga kalian menua bersama." ucap salah satu rekan bisnis Kak Devan.
Kak Devan pun langsung merengkuh kembali pinggangku, lalu tersenyum hangat kepada mereka.
"Terimakasih, Pak Ronald. Terimakasih atas kehadiran dan ucapannya. Maaf jika saya menyita waktu Anda untuk menghadiri acara pernikahan Saya. Karena Saya tau, bagaimana sibuknya seorang Ronald Steven. Sebuah keberuntungan bagi Saya karena Anda telah sudi meluangkan waktu Anda untuk kami." ucap Kak Devan dengan keramahan.
__ADS_1
"Tentu saja Saya tidak akan melewatkan momen penting ini, Pak Devano. Karena ini adalah salah satu momen penting untuk saya hadiri, siapa yang tidak mengenal Anda? Seorang pengusaha termuda yang telah sukses di bidang teknologi informasi kini telah menemukan tambatan hatinya. Ini juga momen yang membahagiakan untuk kami. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian." ucap Pak Ronald dengan seulas senyuman.
"Baik, Pak Ronald. Terimakasih banyak atas do'a dan kehadiran Anda. Kalau begitu kami permisi terlebih dahulu untuk menyapa tamu-tamu yang lainnya. Silahkan Anda menikmati jamuan yang tersedia." ucap Kak Devan sambil menjabat tangan Pak Ronald, lalu aku pun mengikuti hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Kak Devan.
Setelah itu kami pun menghampiri beberapa tamu yang lainnya. Dari sekian banyak tamu yang hadir, rata-rata adalah dari kalangan pebisnis dan investor asing. Dan beberapa ucapan selamat dan do'a pun kami dapatkan dari para rekan-rekan Kak Devan.
Akan tetapi sebagian dari karyawannya juga tidak menyukai pernikahan kami, sehingga tanpa sengaja aku mendengar beberapa kasak-kusuk dari mereka.
"Eh, itu bukannya office girl baru itu ya? Wah hebat juga dia, bisa menaklukkan CEO kita hanya beberapa hari saja bekerja di ruangannya."
"Iya tuh, pake pelet apa sih dia? Sehingga Pak Devano bisa klepek-klepek sama dia?"
"Betul. Pasti dia pakai pelet dan susuk deh. Karena tidak mungkin CEO kita mudah di taklukkan begitu saja."
Dan masih banyak lagi.
Sebenarnya ucapan-ucapan mereka sangat membuatku tidak nyaman sehingga membuatku menjadi gelisah, dan ternyata Kak Devan langsung menangkap kegelisahanku.
"Tenanglah, Sayang! Abaikan saja ucapan mereka semua, karena mereka hanya merasa iri kepadamu." bisik Kak Devan tepat di samping telinga ku.
Aku yang yang mendengarnya hanya mengangguk kecil sambil tersenyum getir.
"Bagus! Ayo kita lanjutkan lagi. Masih banyak tamu yang belum aku perkenalkan kepadamu." ucap Kak Revan lagi.
"Kak?" panggilku lirih.
Kak Devan pun menoleh dan mengurungkan niatnya untuk melangkah ke depan.
"Iya, Sayang. Ada apa?" sahut Kak Devan dengan suara lembutnya.
"Emm, bolehkah aku menemui sahabat ku? Sebentar saja. Aku mohon!" pintaku kepada Kak Devan.
Kak Devan pun tersenyum lalu mencubit pelan pipiku.
"Tentu saja boleh. Aku akan menemanimu untuk menemuinya." ucap Kak Devan dengan suara lembutnya.
"Tapi Kak---''
"Tidak ada penolakan atau kamu tidak aku izinkan untuk menemui sahabat mu? Maaf! Bukan aku mengekang mu, aku hanya berjaga-jaga saja. Karena di antara mereka banyak yang iri bahkan tidak menyukai mu, Sayang." jelas Kak Devan lagi.
Jadi mau tidak mau, aku pun menemui Siska ditemani oleh Kak Devan.
__ADS_1
Lalu kami pun berjalan beriringan sambil tersenyum tipis.
"Siska?" panggil ku kepadanya.
Dia pun langsung menoleh ke arahku, lalu berjalan menghampiri kami.
"Hah? Serius ini kamu, Ndin?" tanya Siska dengan mata yang membola sempurna.
"Iya, Sis. Maaf jika kabar ini mengejutkan mu!" ucapku dengan suara parau.
"Tentu saja aku terkejut. Tetapi aku juga bahagia dengan pernikahan kalian. Aku tidak menduga jika kamu bisa menaklukkan CEO kita yang... Hehe. Pokoknya selamat untuk pernikahan kalian, aku turut bahagia dengan pernikahan mengejutkan ini. Semoga kalian selalu berbahagia selamanya." ucap Siska dengan tulus.
"Emn, bolehkah Saya memeluk Sahabat Saya, Pak?" tanya Siska dengan hati-hati.
"Eh, maaf. Tentu saja." ucapnya sambil melepaskan rengkuhannya.
"Terimakasih, Pak." ucap Siska.
Lalu Siska pun langsung berhambur ke dalam pelukanku.
"Selamat, Andini Sayang! Semoga ini adalah awal kebahagiaan untukmu. Semoga hubungan kalian langgeng hingga menua nanti. Dan do'akan aku, semoga jodohku segera menjemput ku, hehehe," ucap Siska sambil terkekeh.
"Terimakasih banyak, Sis. Terimakasih karena kamu selama ini telah menjadi sahabat terbaik untukku. you are my best friend forever and will never be replaced by anyone!" ucapku dengan suara parau.
Lalu Siska pun melepaskan pelukan kami.
"No, no! Jangan ada air mata di hari bahagia mu. Ssttt!" ucap Siska sambil mengusap lembut buliran bening yang telah menetes membasahi pipiku.
Aku pun menganggukkan kepalaku.
"Baiklah. Boleh kita melanjutkan acara kita sebentar, Sayang?" tanya Kak Devan sambil menggenggam erat tanganku.
"Iya, Kak." jawabku.
"Ya sudah, Sis. Kami mau menemui tamu yang lain dulu ya?" ucapku kepada Siska sambil tersenyum.
"Iya, Ndin. Silahkan!" ucapnya dengan penuh semangat.
Lalu kami pun kembali menemui beberapa rekan kerja Kak Devan lagi.
'Semoga ini awal kebahagiaan untukku.'
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
Bab Selanjutnya Habis Maghrrib ya guys🤗Soalnya agak panas🤣