Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Persiapan Ijab


__ADS_3

Keesokan harinya..


Hari ini aku benar-benar sangat merasa gugup, bagaimana tidak? Acara pernikahan yang akan berlangsung satu Minggu lagi. Kini harus terjadi saat ini juga, karena kejujuran yang diungkapkan sendiri oleh Pak Devano.


"Apakah ini benar-benar nyata? Ah! Seperti mimpi saja rasanya. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Devano Wicaksana. Ish! Menyebalkan!" gerutuku sambil mondar-mandir di dalam kamarku.


"Lho, Sayang? Kamu ngapain mondar-mandir seperti itu? Tenanglah! Semua akan baik-baik saja, percayalah,'' ucap Ibu yang saat ini berjalan menghampiri ku.


"Bu," panggilku lirih.


"Iya, Sayang?" sahut Ibu sambil mengusap lembut rambutku.


"Apa dulu Ibu juga merasa gugup saat akan menikah dengan Ayah?" tanyaku hati-hati.


Kini raut wajah Ibu berubah menjadi sendu, saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutku.


Ibu pun menatap lurus ke depan, sambil menerawang jauh ke masa lalu.


"Eh, Bu. Maafkan Andini! Andini tidak bermaksud untuk membuat Ibu bersedih," ucapku sambil menyandarkan kepalaku di bahu Ibu.


Perlahan senyuman kecil terbit kembali di sudut bibir Ibu.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu akan menceritakan semuanya kepada kamu. Ibu tidak ingin menyembunyikan apapun lagi darimu." ucap Ibu sambil tersenyum getir.


Aku pun hanya mendongakkan kepala, sambil menatap sendu ke arahnya.


"Pada saat itu, Ibu sangat merasa bahagia karena akhirnya hubungan Ayah dan Ibu mendapatkan restu, dari kedua orangtua Ayahmu. Karena pada awalnya hubungan kamu sangat di tentang oleh Oma dan Opa mu. Akan tetapi Ayah mu tetap kukuh pada pendiriannya, untuk mempertahankan hubungan kami. Hingga akhirnya kami pun menikah. Pada saat acara ijab qobul, Ibu pun juga merasa gugup seperti dirimu, Sayang. Karena ini adalah momen sakral yang harus kamu lewati untuk menuju keridhoan Allah SWT.''

__ADS_1


Kini Ibu pun menjeda sesaat ceritanya. Lalu menghela napas panjang.


"Akhirnya perjuangan kami pun tidak sia-sia untuk saling bertahan dan menguatkan. Karena Ayahmu adalah cinta pertama dan terakhir untuk Ibu. Dan itulah kenyataannya, hingga sekarang Ibu tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti Ayah mu. Jika kamu tau mengapa kemarin Ibu sempat membenci mu? Karena semua yang ada di dalam dirimu, semua menurun dari Ayah mu. Itulah penyebab utamanya, karena Ibu setiap kali melihatmu akan teringat oleh seseorang yang sangat Ibu cintai hingga saat ini. Ibu hanya berdo'a, semoga suatu saat nanti kami akan kembali disatukan di surganya Allah SWT!" jelas Ibu sambil tersenyum getir hingga buliran air matanya pun mengalir. Aku pun tidak kalah sedihnya dengan Ibu. Karena memang sejak kecil aku belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ayah.


Lalu Ibu pun kembali menatapku dengan tatapan sendunya.


"Sudah ya, Sayang! Maafkan Ibu, karena telah membuatmu bersedih. Ini adalah hari bahagia untukmu, jadi tersenyumlah. Ibu tidak ingin ada air mata kesedihan lagi, karena setelah ini air mata kebahagiaan akan menghampiri putri Ibu yang sangat cantik ini," ucap Ibu lagi sambil menangkupkan kedua tangannya di pipiku.


Aku pun hanya terdiam, sambil menatap lekat wajah Ibu yang selama ini sangat sulit aku lihat.


"Bu, jika nanti Andini tidak bahagia dengan pernikahan ini, bagaimana? Apakah Ibu mau menerima Andini kembali di sini?" tanyaku sambil tersenyum getir. Kini buliran bening air mata membanjiri pipiku yang mulus.


"Ssttt! Jangan katakan sesuatu yang belum terjadi, Sayang! Berdo'a lah, semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga kalian nanti hingga maut memisahkan kalian berdua!" ucap Ibu dengan suara lembutnya.


'Seandainya Ibu tau, bahwa pernikahan ini hanyalah sementara saja. Mungkin Ibu tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi. Maafkan Andini, Bu! harus merahasiakan semua ini dari Ibu. Karena setelah 6 bulan nanti, Andini pasti akan menjadi milik Ibu kembali.' gumamku dalam hati.


"Iya, Bu." jawabku lirih.


Akhirnya waktu yang dinantikan pun hampir tiba. Saat ini aku sedang di rias tipis-tipis oleh seorang MUA yang telah di pesan oleh Bu Rahma. Sebenarnya aku sudah menolaknya, akan tetapi beliau tetap bersikukuh apalagi saat Pak Devano juga ikut mendukung Ibunya.


"Wah, Kak Andini terlihat sangat anggun dan cantik sekali, meskipun riasannya tipis tapi terlihat elegan. Uh! Pasti calon suami Kak Andini akan terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki oleh Kakak." puji Devi si MUA muda yang berbakat.


Saat aku pandangi wajahku lewat cermin yang terpampang di depan ku, dalam hati aku pun berdecak kagum. Karena riasan Devi yang simpel dan terlihat sangat natural, kini aku pun memuji diriku sendiri.


"Ternyata aku kalau di make-up  lumayan juga ya?" gumamku lirih, akan tetapi masih terdengar oleh Devi.


"Bukan hanya lumayan, Kak. Akan tetapi sangat sempurna pokoknya perfect deh," ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Eh, kamu jangan mengejekku ya, Dev! Lebih cantik kan kamu lah daripada aku. Aku mah apa atuh," ucapku sambil tersenyum lebar.


Akhirnya kami pun tertawa bersama, hingga kini sedikit mengurangi rasa gugupku.


"Kak Andini cantik kok! Tidak di rias saja kecantikan alaminya sudah terpancar, apalagi sekarang Beuh bikin laki-laki yang melihatnya pasti klepek-klepek deh. Di jamin mereka tidak akan berkedip, hehe" ucap Devi sambil menggoda ku.


"Ih! Devi! Jangan terus menggodaku! Aku malu tau tidak!" pekikku kepada Devi.


Devi saat melihatku yang salah tingkah, kini hanya terkikik dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Hehe, peace kak! Damai deh kita ya? Jangan marah-marah terus, nanti cantiknya luntur lho," kini Devi kembali menggoda ku.


"Dev?"


"Iya kak, iya. Tidak lagi deh. Aku diam nih. Emmmn(sambil menutupi mulutnya)"


Aku yang melihatnya, justru merasa gemas kepada Devi. Padahal kami baru pertama kalinya bertemu, tetapi sudah merasa akrab saja.


"Sudah, sudah. Jangan seperti itu lagi! Aku sedang gugup saat ini, Dev. Bagaimana ya jika nanti aku pingsan waktu ijab qobul nanti," ucapku sambil tersenyum getir.


"Kak Andini tenang saja, jika merasa gugup tarik napas dalam-dalam lalu hembusan perlahan. Devi yakin pasti itu sedikit membantu mengurangi rasa gugup kak Andini nanti. Percayalah kepadaku! Pasti semua akan baik-baik saja. Dan semoga ini menjadi pernikahan yang pertama dan terakhir untuk Kak Andini. Semoga bahagia ya, Kak?" ucapnya dengan tulus.


Aku pun hanya tersenyum getir kepadanya.


Semua orang berharap semoga, tetapi mengapa aku tidak yakin dengan kata semoga itu. Apalagi saat teringat perjanjian kontrak itu, ah! Sangat membuatku dilema saat ini.


Akankah kisah cintaku akan kandas begitu saja? Cinta pada pandangan pertama sekaligus cinta pertamaku. Apakah nanti kita akan berpisah? Setelah melalui hari-hari bersama selama 6 bulan nanti.

__ADS_1


'Ya Allah, semoga saja nanti akan ada kebahagiaan yang datang menjemput ku dengan ketulusan hatinya!' gumamku dalam hati.


BERSAMBUNGNMM..


__ADS_2