
Dengan langkah gontai kaki ini melangkah menuju ruangan pak Devano.
Ku pandangi sekeliling ruangan, lalu ku langkahkan kaki ke arah meja kerjanya. Dan ku dapati satu stel baju. Saat ku rentangkan untuk melihatnya, aku pun terkejut.
"Apa-apaan baju seperti ini?" gumamku lirih.
Lalu ku hela napas perlahan.
"Apa dia sedang mengerjaiku? Apakah aku harus menggunakan baju ini?"
Meskipun terasa berat untuk menggunakan baju yang pas dan membuat lekukan tubuh ku terlihat jelas. Mau tak mau aku harus memakainya, kalau aku menolak pun pasti aku di ancam lagi olehnya.
Dengan sangat terpaksa aku harus memakainya, kalau tidak aku harus bersiap untuk keluar dari pekerjaan ini.
Setelah selesai memakai pakaian yang ketat ini, lalu aku membersihkan seluruh ruangan Pak Revandra sebelum dia datang, setelah selesai akupun membuat kan kopi susu yang ku racik sendiri untuknya.
Tak berselang lama, aku pun di kejutkan oleh kehadiran pak Devano.
Dia berada tepat di belakangku sambil berdeham.
"Eekhhm!''
Sontak aku pun langsung berbalik badan dan hampir terjungkal sebelum pak Devano menangkapku, kemudian menarikku ke dalam pelukannya.
Sejenak aku pun terbuai dengan aroma parfum yang digunakannya. Wangi maskulin semerbak di hidungku. Tak lama aku pun kembali tersadar dan menarikkan diri dari pelukan Pria itu.
"Ma-maafkan sa-saya Pak," ucapku terbata karena gugup.
"Hmmn, apa kau ingin menggodaku dengan pakaian seksi ini?" tanyanya menyeringai.
"A-apa!" Aku pun terkejut.
'Apa-apaan? Dia pikir aku yang ingin menggodanya? Apa dia tidak sadar bahwa pakaian ini adalah pemberian darinya, untuk ku gunakan selama masa hukumanku berlangsung. batinku yang merasa dongkol.
"Kau terlihat begitu sangat menggoda saat ini Nona," ucapnya sambil menatapku.
"Bukankah ini seragam yang kau siapkan untukku, Pak Devano?" tanyaku sengit, aku tak terima jika di katakan ingin menggodanya.
"Ohh, benarkah? Apakah sekretarisku membelikan baju yang ukurannya salah?" bingungnya sambil menyeringai.
"Tentu saja salah. Apa Anda tidak melihatnya, Pak! Jika baju ini terlihat sangat kecil di tubuhku?" jawabku dengan ketus.
Lalu dia perlahan mendekat ke arahku.
"Kau terlihat sangat cantik dan seksi dengan baju ini Nona. Pakailah ini, setiap kali kau di dekatku." bisiknya di sebelah telingaku.
Aku pun diam dan mematung, saat hembusan napasnya terasa hangat di balik tekuk leherku. Sejenak aku di buat merinding olehnya.
Aroma maskulin kini menyeruak di hidungku. Sungguh baru kali ini aku sedekat ini dengan seorang laki-laki. Bahkan hampir tak memiliki jarak.
__ADS_1
Seketika tatapan kami pun bertemu. Aku pun belum berani bergerak. Kini pak Revandra mulai mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Mungkin jaraknya hanya sejengkal, terasa hembusan napasnya begitu hangat saat menerpa wajahku.
'Ternyata Pak Devano setampan ini jika terlihat dari dekat. Oh, Tuhan, tolong bantu aku untuk menetralkan detak jantungku. Aku benar-benar jatuh hati pada Pak Devano? Tolong jangan terlalu dekat Pak! Bisa pingsan aku.' batinku yang bergejolak dengan pikiran.
Tanpa ku sadari wajah kami hanya terpaut jarak seinci. Aku pun langsung menutup mataku. Tubuhku kini gemetar karena gugup.
"Bhahaha ...." Kini pak Revandra justru tertawa.
Langsung ku buka mataku saat mendengar tawa pria itu. Lalu aku menutup wajahku menahan malu, mungkin dia menertawakan aku karena kebodohanku.
"Apa kau pikir aku akan menciummu?" godanya padaku.
"Ti-tidak! Aku hanya tak terbiasa berdekatan dengan seorang laki-laki saja, Pak." sanggahku sambil menahan malu.
Mungkin jika saat ini ada cermin di depanku, wajahku mungkin memerah seperti kepiting rebus.
"Benarkah? Berarti aku adalah orang pertama yang mendekatimu?" tanya Devano.
Lalu aku bergegas untuk mundur dan menjaga jarak dengannya. Tak sepantasnya bawahan seperti ku menyukai seorang CEO di kantor ini.
"Tidak perlu membahas itu lagi Pak. Sekarang tolong katakan apa yang harus saya kerjakan sekarang?'' tanyaku sambil menunduk.
"Bisakah jika berbicara sambil menatap lawan bicaramu?" tanyanya dengan nada datar.
Ku dongakkan kepalaku, dan kini pandangan kami bertemu kembali.
"Sekarang kamu duduk di dekat saya, dan temani saya bekerja!'' titahnya dengan nada tegas.
Sedetik, dua detik, tiga detik.
Aku pun mematung di tempat.
"Sa-saya du-duk di dekat Pak Devano?" tanyaku terbata-bata sambil mengerjapkan mataku.
"Iya, kamu duduk di sebelah saya dan temani saya bekerja! Apa masih kurang jelas? Apa perlu saya menggendongmu dan ku dudukan di pangkuan saya?" Pak Devano berkata sambil menyeringai licik.
"Ti-tidak perlu Pak! Saya bisa jalan sendiri,'' gugupku.
______###_______
POV Devano
Saat aku melihatnya untuk pertama kali. Aku pun tertarik padanya. Ya, pada seseorang yang bernama Andini Amalia, dia kini bekerja di kantorku sebagai office girl .
Awalnya aku biasa saja saat kami tidak sengaja bertabrakan saat berjalan dari kantin. Kedua kalinya saat aku bertemu dengannya di lobby, ketika pulang kerja. Ku dapati dia sedang mencuri pandang ke arahku. Saat itu aku mulai sedikit tertarik dengannya.
Dan ketiga kalinya pertemuanku dengannya juga tanpa kesengajaan. Saat aku ingin ke ruangan HRD, sekedar ingin memeriksa situasi disana.
Lalu siapa sangka dia justru menyiramkan minuman ke arahku, dan membuat pakaianku menjadi basah dan kotor.
__ADS_1
Mulai saat itulah aku menggunakan trik untuk dekat dengannya. Entah mengapa tiba-tiba perasaan yang sudah lama mati kini bersemi kembali.
Setelah dua tahun lalu, saat Vania Rinjani kekasihku berkhianat dengan salah satu partner kerjanya sendiri. Saat itulah hatiku menjadi beku dan enggan untuk mengenal wanita kembali.
Akan tetapi, setelah aku bertemu dengan Andini, ada perasaan yang tiba-tiba muncul di hatiku. Hatiku yang gersang kini seperti bersemi kembali saat dia hadir tanpa kesengajaan.
Saat aku memberikan poin-poin hukuman padanya. Itulah hanyalah trikku untuk bisa dekat dan lebih mengenal nya.
Entah mengapa, saat berada di dekat Andin, hatiku mulai menghangat kembali. Aku seperti enggan jauh darinya. Perasaan apakah ini sebenarnya? Mungkinkah aku telah jatuh cinta padanya? Atau hanya sebuah rasa penasaran saja?
"Baiklah sekarang kamu duduk di sini! Bawa kursi itu kemari!" titahku padanya.
"Baik Pak," jawabnya singkat.
Jujur saja, saat berada di dekat Andini, aku terasa begitu damai. Apalagi saat tadi aku mencium aroma bunga mawar dari tubuhnya. Sungguh sangat menenangkan diriku.
"Hmmn." Aku pun berdeham untuk membuka suara.
"Apa saya boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku pada Andini.
"Boleh Pak, silahkan Anda ingin bertanya tentang apa?" jawabnya dengan senyum tipis.
"Kau lulusan SMA 'kan? Kenapa tidak melanjutkan kuliah saja?" tanyaku hati-hati.
Dia pun menghela napas perlahan.
"Sebenarnya saya juga ingin melanjutkan kuliah Pak. Akan tetapi, semua itu mustahil untuk saya, bisa lulus SMA saja saya sudah bersyukur. Hidup serba pas-pasan untuk melanjutkan kuliah sangat berat Pak, meskipun saya bisa mengambil jalur beasiswa. Akan tetapi saya juga masih memikirkan untuk kelangsungan hidup saya nantinya,'' jelasnya dengan senyum tipis.
Aku masih terdiam dan memberikan ruang untuknya bicara.
"Yang terpenting untuk saya saat ini. Saya hanya ingin memperbaiki ekonomi keluarga saya, Pak. Membuat ibu saya merasa bangga terhadap putrinya. Dan membahagiakan nenek saya," jelas Andin sambil berkaca-kaca.
"Emm, lalu ayah kamu?" tanyaku lagi.
"Ayah saya sudah meninggal sejak saya masih bayi Pak. Saat saya belum merasakan kasih sayangnya, dia sudah pergi meninggalkan saya untuk selamanya. Bahkan ingin memeluknya pun sangat mustahil untuk saya,'' ucap Andini sambil meneteskan air matanya.
Aku pun terkejut mendengar ceritanya. Sungguh aku benar-benar tak enak hati sudah menanyakan sesuatu hal yang sangat pribadi padanya.
"Maafkan saya. Saya tak bermaksud untuk membuatmu bersedih." Aku tak enak hati karena telah membuatnya menangis.
Dia pun langsung menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya yang seharusnya meminta maaf, karena saat bercerita hingga terbawa perasaan," jawabnya lirih sambil tersenyum tipis.
Aku pun terdiam sejenak.
'Apakah hidupnya tak merasakan kebahagiaan? Kenapa seperti terdapat sebuah luka yang teramat dalam saat dia bercerita tadi? Aku harus mencari tau tentang dia. Aku seperti ingin sekali melindungimu, Andini Amalia.' batinku.
BERSAMBUNG......
__ADS_1