
Sesaat setelah bayi Arvin terdiam, akhirnya Andini kembali sadarkan diri. Dokter Andra memberikan obat yang aman untuk dikonsumsi oleh Ibu menyusui, dan menyarankan agar Andini tidak banyak pikiran atau mengalami stress. Semua itu bisa membuat pemicu baby blues dan berdampak buruk pada bayinya.
Devan yang merasa bersalah karena sempat membentak dan menekan Andini. Kini dia mencoba untuk meminta maaf dan membujuk istrinya agar tidak mempercayai semua ucapan Vania.
"Sayang, tolong maafkan aku! Maaf karena tadi aku sempat membentakmu. Maafkan aku karena tidak bisa mengontrol diriku sendiri, agar bisa lebih sabar dalam menghadapi setiap masalah yang tiba-tiba datang. Tolong, tarik kembali ucapanmu tadi! Aku mohon, semua ini demi putra kita Arvin. Dan aku mohon, jangan pernah mempercayai ucapan wanita ular itu! Karena dia hanya ingin menjebak dan menghancurkan rumah tangga kita. Percayalah, jika bayi yang berada di kandungan wanita ular itu, adalah anak dari Damian, kakaknya Daniel." tutur Devan sambil menggenggam erat tangan Andini.
Andini yang masih saja memberontak, dan ingin menarik tangannya. Kini hanya sia-sia saja, karena tenaganya pun kalah dari Devan, suaminya.
"Lepaskan aku, Kak! Tidak bisakah kamu menuruti satu permintaan ku itu? Bukankah permintaan ku sangat mudah untuk aku lakukan? Dan jika nanti kamu sudah terlepas dari ikatan ini, maka kamu bisa bebas untuk melakukan apapun yang kamu mau." pinta Andini yang kini masih kekeuh pada pendiriannya.
Devan pun langsung menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dia tidak pernah sedikitpun berpikir untuk berpisah dari Andini. Cukup beberapa bulan dia kehilangan separuh jiwanya, karena menghilang bersama dengan sang pujaan hati.
"Jangan pernah berpikir untuk meminta satu hal itu dariku! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melakukannya! Jika kamu masih ingin meminta hal itu, maka aku yang akan membawa Arvin, pergi sejauh mungkin darimu! Jadi camkan baik-baik sebelum kamu menyesal dengan ucapanmu itu, Andini Amalia!" ancam Devan dengan penuh penekanan.
Andini yang mendengar ancaman dari Devan, kini langsung membelalakkan matanya. Dia tidak pernah menyangka, jika Devan tidak akan pernah menyerah untuk mencari cara, agar Andini tidak bisa berkutik lagi.
"Jangan pernah berpikir untuk memisahkan aku dari putraku, Pak Devano Wicaksana! Dia adalah putraku! Aku yang sudah mengandung dan melahirkannya. Bahkan anda tidak pernah mengetahui, bagaimana kehidupan kami saat tanpa anda. Seharusnya saya yang mengatakan hal itu, karena selama ini saya yang sangat mengetahui bagaimana putra saya sejak di dalam kandungan. Dan perlu anda ingat, jika anda memiliki niat untuk memisahkan kami, hal itu tidak akan pernah terjadi." tegas Andini yang masih bertahan pada pendiriannya.
Devan yang sudah mengeluarkan jurus andalannya, kini semakin tertegun. Ternyata setelah beberapa bulan berpisah darinya, Andini menjadi wanita yang sangat tegas dan tidak mudah diruntuhkan oleh sebuah ancaman.
"Baiklah. Tapi ingat baik-baik! Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini, tanpa izin dan sepengetahuan dariku. Karena rumah ini akan berada di dalam pantauan ku selama 24 jam, dan bisa ku pastikan jika kamu tidak akan pernah bisa lari dan membawa pergi kembali putraku dariku, Nyonya Wicaksana!" geram Devan.
BRAK!
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata itu, akhirnya Devan pun langsung keluar dari kamar itu sambil membanting pintu. Andini yang sempat tertegun dengan ucapan Devan, kini langsung terlonjak karena merasa sangat terkejut.
Andini yang sejak tadi sudah menahan buliran bening yang sudah memenuhi pelupuk matanya, akhirnya semua itu langsung tumpah seketika setelah kepergian Devan.
"Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa sekarang kamu seperti orang lain untukku, Kak? Mengapa kamu tega sekali mengatakan hal itu kepadaku? Apakah kamu sudah menyerah dengan keadaan ku saat ini?" gumam Andini.
Andini yang saat ini terlihat sangat kacau, kini pun semakin meracau tidak jelas. Bahkan dia tidak bisa berpikir jernih saat ini, setelah mendengar ancaman dari Devan.
"Apakah aku sudah tidak menarik lagi, Kak? Apakah aku sudah tidak pantas lagi untuk menjadi pendampingmu? Atau kamu ingin jika aku benar-benar pergi darimu?" racau Andini.
CEKLEK!
Andini yang tidak memperhatikan sekelilingnya, kini hanya mengapa lurus ke depan dengan pandangan kosong dan pikirannya pun berkelana entah kemana.
"Sayang?" panggil Rahma.
Saat melihat tatapan mata Andini, Rahma pun menatapnya dengan rasa iba. Dia tidak pernah menyangka, jika hari yang seharusnya mereka lewati dengan penuh kebahagiaan, kini harus mengalami tekanan dan berada di ambang kehancuran.
"Sayang, bicaralah! Jangan membuat Mama takut!" titah Rahma saat tidak melihat reaksi apapun dari Andini.
Rahma yang merasa panik. Dia pun langsung keluar dari kamar Andini dan mencari keberadaan putranya. Karena hanya putranya yang mengetahui, apa penyebab istrinya menjadi seperti itu.
"Van!" pekik Rahma, saat memandangi sekeliling ruangan yang terlihat kosong.
__ADS_1
"Devan!" panggil Rahma dengan suara lantang.
Devan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, kini langsung mengernyitkan dahinya. Dia pun langsung berjalan ke arah Mamanya, dengan tatapan penuh selidik.
"Ada apa sih, Ma? Mengapa Mama berteriak-teriak? Aku baru saja akan memberikan pelajaran kepada wanita ular itu." cecar Devan.
"Urus saja itu nanti. Yang terpenting saat ini, lihatlah apa yang terjadi kepada istrimu! Jangan sampai Mama menyeretmu untuk masuk ke dalam!" titah Rahma.
Dengan cepat Rahma langsung menarik lengan putranya, dan kembali masuk ke dalam kamar dimana Andini berada. Setelah sampai di dalam, Rahma langsung menunjuk ke arah Andini yang masih bergeming di tempat, dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
"Ada apa sih, Ma? Kenapa Mama terlihat sangat panik? Sejak tadi dia juga seperti itu, saat kami sempet berdebat dan saling melontarkan ancaman." ujar Devan, yang belum menyadari jika Andini saat ini terlihat lebih kacau dari sebelumnya.
Rahma pun langsung mendelik, saat mendengar ucapan putranya. Dengan entengnya, Devan mengatakan hal itu kepadanya. Apakah dia tidak pernah berpikir tentang ucapan Dokter Andra?
"Apakah kamu lupa, jika Andini tidak boleh banyak pikiran, apalagi sampai tertekan, Van?" tanya Rahma dengan tatapan mata tajam.
Rahma tidak pernah habis pikir, jika putranya begitu Bodooh untuk memahami bagaimana situasi yang sedang dihadapi oleh wanita yang baru saja melahirkan.
Seketika mata Devan membola sempurna, dengan pandangan lurus ke depan dan langsung tertuju ke arah istrinya. Dengan langkah kaki panjang, Devan pun menghampiri istrinya yang masih terdiam di tempat.
"Sayang?" panggil Devan, setelah sampai di samping Andini.
"Sayang, tolong katakan sesuatu!" titah Devan.
__ADS_1