
POV Devano.
Setelah kejadian di Hotel Hardon's, kini aku pun segera menghubungi Daniel maupun istriku, Andini. Akan tetapi panggilan dariku sama sekali tidak ada satu pun yang terjawab oleh mereka.
Kini perasaan ku menjadi tidak karuan, saat aku tau bahwa ini adalah siasat dan penjebakan yang dilakukan oleh Vania untukku.
Aku pun merutuki kebodohan ku. Bisa-bisanya aku mempercayai wanita ular itu, dan menerima kerjasama antara aku dan Damian, kakak kandung sahabatku, Daniel.
"Ah, sial! Bodoh! Benar-benar bodoh! Mengapa Lo sebegitu mudahnya percaya dengan akal bulus mereka sih, Van! Lo memang benar-benar bodoh, Van! Bisa-bisanya masuk ke perangkap mereka. Pantas saja Andini memiliki firasat yang tidak baik saat akan aku tinggal. Jadi ini adalah jawaban firasat buruknya itu. Argh! Sial! Maafkan aku, Sayang! Sekarang kamu dimana?" rutukku sambil memaki diriku sendiri karena kebodohan serta kecerobohan ku.
Kemudian berulangkali aku pun menghubungi Daniel, karena saat ini ponsel Andini sedang dinonaktifkan. Jadi jalan satu-satunya dan harapan ku adalah Reno.
Tut... Tut... Tut...
Ratusan kali aku mencoba untuk menghubungi Daniel, akan tetapi nihil. Dia sama sekali tidak menjawabnya.
Selang beberapa jam kemudian, saat aku mencoba untuk memanggil ulang Daniel. Akhirnya ada jawaban darinya.
"Ada apa lagi, Tuan Devano? Apa Anda belum puas untuk menghancurkan kehidupan seseorang yang benar-benar tulus mencintai Anda?" ucapnya tanpa basa-basi.
"Dan, kalian dimana sekarang? Apa kalian sudah kembali ke rumah?" tanyaku tanpa membalas pertanyaan darinya.
"Hah? Untuk apa Lo ingin mengetahui keberadaan kami? Apa Lo belum merasa puas? Apa ada hal lain lagi yang ingin Lo perlihatkan lagi kepada kami? Atau Lo ingin membunuh istri Lo sekarang juga?" sindir Daniel saat kutanyai keberadaan mereka.
"Eh, Dan. Maksudnya Lo apa bicara seperti itu? Gue cuma mau menanyakan dimana kalian sekarang? Gue mau ketemu sama istri gue! Gue mau jelasin semua yang terjadi ke dia. Sekarang Lo jawab pertanyaan dari gue! Dimana kalian sekarang?" tanyaku yang kini mulai tersulut emosi.
"Wah.. wah.. wah.. ternyata masih punya nyali juga ya Lo, Van? Masih berani juga Lo mau nemuin istri Lo, di saat Lo menghancurkan kehidupannya? Wow, hebat banget ya Lo!" ucapnya yang seperti ingin mempermainkan emosiku.
Kini aku pun tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengumpat Daniel. Meskipun dia sahabat ku, akan tetapi kali ini dia benar-benar sudah keterlaluan.
"Sial*n Lo, Dan! Sekarang Lo berani ya main-main sama gue? Liat aja, setelah gue berhasil nemuin kalian, gue bakal kasih Lo pelajaran!" ucapku dengan dipenuhi amarah.
"Ih, takut! Hahaha... Okey gue tunggu Lo sekarang juga di Rumah Sakit terdekat dari hotel tempat Lo menginap sama selingkuhan Lo!" jelasnya sambil tertawa meremehkanku.
"Hah? Rumah Sakit? Maksud Lo ap-?"
__ADS_1
Tut... Tut... Tut...
"Argh! Sial*n! Benar-benar mau nguji kesabaran gue ternyata Lo, Dan! Awas saja Lo ya! Gue bakal habisin Lo, kalau Lo berani main-main sama gue!" umpat ku yang kini emosiku pun mulai memuncak.
Tak ingin membuang waktu lagi, kini aku pun bergegas menuju ke lobby hotel untuk menunggui mobilku.
Setelah mobil parkir tepat di depanku, setelah mengucapkan terimakasih, aku pun segera melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi ke Rumah Sakit terdekat sesuai dengan perintah Daniel.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, kini aku pun tiba di sebuah Rumah Sakit swasta di dekat Hotel.
Dengan sedikit ragu-ragu, kini aku pun bergegas ke ruang pendaftaran untuk menanyakan nama pasien.
"Permisi, Sus! Apakah di sini ada pasien yang bernama Andini Amalia?" tanyaku dengan ragu-ragu.
"Oh, sebentar ya, Pak! Saya cek dulu." jawab sang perawat dengan ramah.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, kini perawat tersebut menanyaiku kembali.
"Maaf kalau boleh tau Anda siapanya pasien ya, Pak?" tanya sang perawat masih dengan keramahannya.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Bu Andini Amalia sedang di kamar VVIP, ruangan mawar no. 2 lantai 10." jawab sang perawat lagi.
"Terimakasih banyak, Sus! Terimakasih!" ucapku dengan penuh semangat.
Aku pun segera berlari menuju ke tempat dimana istriku sedang di rawat. Dengan kecepatan penuh, aku pun terus berlari menyusuri lorong Rumah Sakit itu.
Tanpa sengaja ku dapati Daniel sedang keluar dari sebuah kamar tempat pasien di rawat. Akan tetapi kamar tersebut bukan kamar no. 2 melainkan kamar no. 3.
"Daniel?" panggilku.
"Apa?" sahutnya dengan ekspresi wajah yang datar.
"Dimana istri gue? Dan kenapa Lo keluar dari kamar no. 3? Bukankah istri gue di kamar no.2?" tanyaku dengan raut wajah yang khawatir.
Saat mendengar pertanyaan yang aku lontarkan, kini Daniel pun berdecak dengan raut wajah yang meremehkan.
__ADS_1
"Ckk! Lo cuma mikirin istri Lo, Van. Tanpa memikirkan kesehatan orang lain. Dan Lo pun tidak pernah menyadari kesalahan Lo. Apa Lo tau arti dari Muka tembok? Hah?" ucapnya sambil menatap tajam ke arahku.
"Maksud Lo apa? Gue tau, gue emang salah. Tapi asal Lo tau ya, Dan. Ini semua sudah direncanakan oleh Vania bersama dengan Kakak Lo yang tidak tau diri itu!" ucapku sambil menudingkan jariku ke arahnya.
"Ckk! Wah, wah! Benarkah? Tetapi Lo juga menikmati kembali tubuh Vania bukan?" tanyanya sambil berdecak.
"Sekali lagi Lo mengatakan hal itu lagi. Gue sobek mulut Lo, Dan!" ucapku dengan penuh penekanan.
"Wah.. wah.. wah... Gue jadi merinding nih, Van! Hahaha ... Apa Lo pikir gue takut sama Lo, Devano? Saat ini Lo mengkhawatirkan istri Lo 'kan? Ya, sama seperti gue, yang saat ini sedang mengkhawatirkan kondisi kekasih gue. Apa Lo paham sekarang, Tuan Devano?" ucapnya yang ikut tersulut emosi.
Aku pun terperangah dengan mata yang membulat sempurna.
"M-maksud Lo?" tanyaku dengan sedikit tergagap.
"Ya, Siska saat ini ikut di rawat di kamar no.3. Karena kondisinya yang semakin menurun. Apa Lo udah puas sekarang?" tanyanya dengan menatap tajam ke arahku.
"Hah! Apa? Mengapa bisa? Terus bagaimana kondisi mereka berdua?" tanyaku dengan raut wajah yang semakin khawatir.
"Lebih baik Lo lihat sendiri!" ucapnya lalu duduk di sebuah bangku di depan ruang rawat mereka.
Tak ingin membuang waktu lagi, aku pun segera memasuki kamar no.2.
Perlahan pintu pun terbuka, kemudian aku pun menyembulkan kepalaku ke dalam. Saat mata ini menangkap sosok yang saat ini sedang aku rindukan dan aku khawatirkan.
Perlahan aku pun berjalan untuk menghampiri istriku yang terbaring lemah di ranjang kecil itu, sambil memandangi wajah pucatnya aku pun terus berjalan mendekatinya.
Hingga kini dengan sangat jelas, aku bisa melihat wajah sayu dan sangat pucat. Kemudian aku pun menggeser sedikit bangku yang berada di samping ranjang tersebut.
"Sayang?" panggilku lirih dengan suara parau.
"Maafkan aku! Maafkan atas kebodohan ku! Maafkan atas kecerobohan ku! Maafkan aku, Sayang! Aku benar-benar menyesal karena tidak menghiraukan firasat mu. Jika ada kata lebih dari Maaf, maka aku akan mengucapkan berulang-ulang agar kamu bisa memaafkan ku. Aku benar-benar bodoh, Sayang. Tolong bangunlah! Kamu bisa dengan bebas memukulku ataupun menamparku sesuka hatimu. Agar kamu bisa meluapkan semua amarah dan kekecewaan mu kepadaku. Bangunlah, Sayang! Bangun!" ucapku sambil menggenggam erat tangannya yang tidak terpasang oleh selang infus.
Kini aku pun benar-benar merutuki kebodohan ku. Seandainya saja aku tidak menemui pasangan Gil* itu, pasti semua tidak akan seperti ini.
"Maafkan aku, Sayang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....