Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Mencari Bukti


__ADS_3

"Benarkah dia akan tinggal di sini, Pur? Alhamdulillah, jadi bibi tidak akan merasa kesepian lagi nanti. Dan kamu tidak akan mendengar keluhan ku lagi, karena aku sudah mendapatkan teman untuk berbagi cerita." ujar Bi Sarah dengan antusias.


Aku pun mengulas senyum di wajahku, saat memandangi wajah teduh yang dihiasi oleh senyuman manis sang empunya.


"Benar, bi. Jika Bibi tidak keberatan, dia akan tinggal bersama dengan bi Sarah di sini. Tetapi satu hal yang harus bibi ketahui, jika Neng Andini saat ini sedang hamil muda." jelas Pak Purnomo.


Bi Sarah pun kini langsung mengalihkan pandangannya kepadaku. Entah apa yang dia pikirkan saat ini tentangku, karena tatapannya saat ini seperti ingin mengetahui sesuatu dariku.


"Benarkah kamu sedang hamil muda, Sayang? lalu mengapa kamu tidak bersama dengan suamimu saat ini? Atau kamu ..." Bi Sarah pun menggantungkan pertanyaannya, tetapi aku tau apa yang akan dia tanyakan selanjutnya.


"Benar, Bi. Saya memang sedang hamil muda, dan saat ini saya ingin menghindari suami saya. Karena ada sesuatu hal yang terjadi, sehingga membuat saya bertekad untuk pergi sejauh mungkin darinya, termasuk menghindari keluarga saya." jelasku sambil tersenyum getir.


Kemudian aku pun langsung menundukkan kepala, agar buliran bening di balik pelupuk mataku tidak luruh. Sekuat tenaga aku pun menahan buliran bening ini, karena aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan kedua orang yang baru saja aku kenal.


"Astaghfirullah! maafkan bibi, Sayang. Bibi tidak tau kalau kamu sedang memiliki masalah dengan suamimu. Tetapi apa tidak sebaiknya kalian menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu?" ucap Bi Sarah, saat memberikan saran kepadaku.


Aku pun semakin memperdalam kepalaku, karena saat ini buliran bening yang aku tahan sejak tadi, pada akhirnya perlahan luruh dengan sendirinya.


"Bi Sarah? Lebih baik biarkan neng Andini beristirahat terlebih dahulu. Pur sangat yakin, jika masalah mereka bukan masalah sepele, jadi biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu." tukas Pak Purnomo, saat melihatku semakin menundukkan kepala.


"Kamu benar, Pur. Tidak seharusnya aku mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Maafkan bibi ya, Sayang?" ucap Bi Sarah yang merasa tidak enak hati kepadaku.


Perlahan aku pun mendongakkan kepala, dan kini pandangan kami pun saling bertemu satu sama lain.


Bi Sarah dan Pak Purnomo pun langsung terperangah dan saling beradu pandang, saat melihatku sudah terlihat sedikit kacau.

__ADS_1


"Sayang, maafkan bibi ya? Lebih baik sekarang kamu beristirahatlah terlebih dahulu. Mengenai pertanyaan bibi tadi, lupakan saja ya, Sayang?!" ujar Bi Sarah dengan suara merendah.


Andini hanya bisa patuh, dan mengikuti langkah kaki Bi Sarah yang akan membawanya ke sebuah kamar yang bernuansa serba putih.


"Kamar kamu di sini ya, Sayang. Dan kamar bibi berada di sebelah kamar ini. Jadi jika Bibi sedang berada di dalam kamar, kamu bisa mengetuk pintu di sebelah sana. Sekarang beristirahatlah! tidak baik Ibu hamil banyak pikiran dan stres. Kasian calon bayimu, dia juga akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan saat ini." ujar Bi Sarah dengan penuh kasih sayang.


"Baik, Bi. Terimakasih karena sudah mengijinkan aku untuk tinggal di sini. Terimakasih banyak." ucapku sambil memeluk tubuh gempalnya.


"Sama-sama, Sayang. Sudah ya? bibi mau menemui Purnomo. Dia masih menunggu bibi di depan." ujar Bi Sarah lagi.


Aku pun menganggukkan kepalaku, dan tersenyum lebar kepadanya. Setelah mendapatkan jawaban dariku, akhirnya Bi Sarah keluar dari kamar dan menutup rapat benda persegi panjang itu.


"Terimakasih, Ya Allah. Engkau memang Maha Segala-galanya. Hanya Engkau yang mengerti tentang teka-teki kehidupan ku saat ini. Dan terimakasih Engkau selalu menghadirkan orang-orang baik di sekitar ku, di saat keterpurukan sedang mengarungi kehidupan ku." gumamku sambil menatap langit-langit kamar ini.


***


Daniel pun langsung menganggukinya, agar sahabatnya bisa sedikit tenang dan bisa fokus mengumpulkan semua bukti-buktinya.


"Kamu tenang saja. Besok aku dan Siska akan mengunjunginya di penginapan itu. Jadi kamu bisa membereskan masalahmu dengan wanita ular itu." ucap Daniel dengan penuh penekanan.


Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah saat mengatakan tentang masalah dan wanita ular itu. Dia sama sekali tidak pernah menyukai Vania sejak awal. Tetapi Devan yang sudah dibutakan cinta, sama sekali tidak pernah menghiraukannya. Dan sekarang dia sudah merasakan akibat dari kecerobohannya sendiri.


"Iya. Aku tau apa yang harus aku lakukan." ucap Devan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Dan ingat! Jangan pernah menemui Andini sebelum semua bukti itu terkumpul, Pak Devano! Jika anda sampai melanggar perjanjian kita, maka aku akan membawa Andini pergi sejauh mungkin dari Anda!" ancam Siska dengan tatapan matanya yang tajam.

__ADS_1


Entah mengapa rasa kagum akan pesona seorang Devano Wicaksana dalam sekejap sirna, setelah dia mengetahui jika sahabatnya dihancurkan oleh seseorang yang sangat dia percaya untuk menjaganya.


Devano hanya bisa pasrah dengan berbagai cercaan yang dilontarkan oleh mantan karyawannya itu. Dia akui memang sangat ceroboh, karena sudah mempercayai sepasang ular beracun itu. Karena ulah mereka, dia harus menanggung akibatnya.


Setelah sedikit melakukan perbincangan dengan sepasang kekasih itu, akhirnya Devano memutuskan untuk mengunjungi hotel itu kembali untuk melihat CCTV.


"Aku harus kembali ke hotel itu, dan mengambil semua rekaman CCTV nya." kekeuh Devan dengan penuh semangat.


Kemudian dia pun berputar ke arah hotel Hardon's kembali. Karena jaraknya masih belum terlalu jauh, jadi dia tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di hotel itu.


Dengan kewibawaannya, dia langsung menemui sang resepsionis, untuk memastikan jika pemilik hotel ini sudah meninggalkan lokasi. Ya, dia memang memastikan lokasi Damian terlebih dahulu sebelum dia bergerak.


"Permisi, mohon maaf sebelumnya, Bu. Apakah Tuan Damian masih berada di hotel ini?" tanya Devano dengan sopan.


"Oh, apakah Anda yang baru cek out beberapa jam yang lalu, Pak Devano Wicaksana?" tanya sang resepsionis untuk memastikan bahwa dugaannya memang benar.


"Benar sekali, Bu. Jadi apakah Tuan Damian masih berada di hotel ini?" tanyanya lagi.


"Em, beliau baru saja keluar dari hotel ini bersama seorang wanita yang beberapa waktu lalu juga bersama dengan Anda, Pak Devano." jelas sang resepsionis dengan seulas senyum.


Devano langsung melakukan aksinya, dia pun memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan resepsionis itu, dengan imbalan uang berlipat-lipat. Bahkan Devan juga menjanjikan sebuah pekerjaan di kantornya, sebagai karyawan tetap.


Sang resepsionis pun langsung tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh Devan. Kemudian dia pun langsung memberikan instruksi kepada Devan, agar mengikuti langkah kaki wanita matang itu.


"Di sini ruangan CCTV itu, Pak. Tetapi di dalam ada penjaga yang mengatur keamanan CCTV di sini." terang sang resepsionis itu lagi.

__ADS_1


"Baik. Saya mengerti. Dan Saya masih membutuhkan bantuanmu." ucap Devan sambil tersenyum smirk.


BERSAMBUNG......


__ADS_2