Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Hamil


__ADS_3

POV Andini 


Saat aku terbangun, aku pun segera tersadar akan kehadiran suamiku. Awalnya aku biasa saja, akan tetapi setelah aku mengingat kembali pengkhianatan yang telah ia lakukan kepadaku.


"Sayang?" panggilnya dengan suara lembut.


"Kak Devan?" sahutku lirih.


"Ah, lepaskan!" seruku, sambil mengibaskan tanganku agar terlepas genggaman tangannya.


"Sayang?" panggilnya lagi.


"Pergi, Kak! Pergi! Keluar dari sini!" usirku sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


"Sayang? Aku mohon, tolong dengarkan aku!" pintanya dengan suara parau.


"Tolong Anda pergi dari sini sekarang juga! PERGI!!" pekikku lagi.


Akhirnya Kak Devan pun mengalah, kemudian pergi keluar sesuai dengan keinginan ku.


Setelah pintu tertutup kembali, kini buliran kristal bening yang sejak tadi aku tahan akhirnya luruh dengan derasnya.


"Mengapa kamu jahat sekali, Kak? Apa sebenarnya kesalahan ku? Mengapa kamu tega mempermainkan perasaanku? Apa aku memang tidak pantas untuk bahagia? Sehingga kamu dengan teganya mengkhianati kepercayaan ku! Apa aku memang tidak pantas untuk bersanding denganmu? Argh!! Seharusnya aku sadar diri! Aku hanya gadis desa yang di pandang rendah oleh seorang Devano Wicaksana. Seharusnya aku juga sadar diri, aku hanyalah seorang Upik abu yang bermimpi terlalu tinggi! Hiks... Hiks... Hiks..." rancauku dalam isakan tangisku.


"Ibu? Nenek? Aku sangat merindukanmu kalian! Aku hanya ingin bersama dengan kalian saat ini. Aku juga sangat merindukan kasih sayang dan pelukan hangat dari kalian! Hiks... Hiks... Hiks... Aku sangat membutuhkan kalian Bu, Nek!" kini aku pun terus meracau.


Hingga tak berselang lama setelah kepergian Kak Devan, kini sang Dokter dan seorang perawat masuk ke dalam kamarku.


"Selamat siang, Bu Andini?" sapa sang Dokter dengan seulas senyum.


"Selamat pagi juga, Dok!" sahutku sambil tersenyum getir.


"Bagaimana dengan keadaan Anda? Apakah saat ini ada keluhan? Silahkan Anda bicara terus terang tentang apa yang Anda rasakan saat ini, Bu! Agar kami bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk Anda." ucap Sang Dokter dengan ramahnya.


"Entahlah, Dok. Rasanya semua badan saya sakit, hingga bagian dalam saya pun terasa sangat nyeri. Terutama bagian perut Saya. Ah! Rasanya benar-benar sangat tidak nyaman." jelasku sambil menetralkan sesegukanku, dengan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Baiklah. Saya cek dulu ya, Bu. Semoga ada kabar baik yang akan segera menanti Anda. Dan semoga dugaan saya juga benar." ucap sang Dokter yang terdengar ambigu di telinga ku.


Lalu aku pun mengernyitkan dahi ku, sambil menatap Dokter tersebut.


"Maksud Dokter?" tanyaku sambil menyipitkan mataku.


"Kita tunggu dulu saja hasilnya ya, Bu. Karena ini baru dugaan Saya. 2 jam lagi saya akan kembali lagi untuk mengetahui hasilnya. Untuk sekarang saya minta urin Anda untuk di tes, Anda akan di temani suster Vera. Silahkan, Sus!" ucap Sang Dokter lagi.


"Baik, Dok!" sahut suster Vera.

__ADS_1


"Silahkan, Bu! Saya antar ke kamar mandi, untuk mengambil urin Anda." pinta suster Vera dengan seulas senyum manisnya.


Dengan sekuat tenaga, aku pun segera bangun dari ranjang ku dan di bantu oleh suster Vera untuk berjalan ke kamar mandi. Benar-benar suster yang sabar dan telaten, meskipun aku berjalan perlahan dan tertatih-tatih. Suster Vera selalu siap siaga untuk mengimbangi gerakan kakiku yang masih sedikit sempoyongan.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, kini urinku sudah berada di genggaman suster Vera.


Kemudian suster Vera pun membantu ku kembali untuk berbaring di ranjangku.


"Baik, Bu. Kalau begitu kami permisi dulu. Nanti setelah hasilnya keluar, saya akan kembali lagi." ujar sang Dokter.


"Baik, Dok. Terimakasih." ucapku dengan seulas senyum yang dipaksakan.


Secara bersamaan, sang Dokter dan suster Vera menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun keluar dari kamar rawat ku.


***


"A-apa, Dok? Sa-saya ham-il?" tanyaku sambil menutup mulut ku dengan kedua tanganku, karena merasa sangat terkejut.


"Iya, Bu. Selamat atas kehamilannya ya, Bu! Semoga hadirnya janin di dalam kandungan Bu Andini, bisa membawa kebahagiaan untuk keluarga kecil Anda." ucap sang Dokter dengan tulus.


"Nggak, Dok! Pasti ini salah 'kan? Coba Anda cek lagi! Pasti terjadi kesalahan." ucapku yang mencoba untuk menyangkal fakta yang baru saja aku dengar.


"Tidak, Bu. Ini adalah hasil yang benar-benar murni dari urin Anda. Dan hasilnya sangat jelas garis dua dan itu artinya positif." jelas suster Vera.


"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak ingin ada di dalam rahimku! Tolong segera singkirkan dia dari dalam sana, Sus! Aku tidak ingin kehadirannya! Hidupku sudah benar-benar hancur! Dan aku tidak ingin membawanya ke dalam kehancuran ku. Tolong singkirkan dia, Suster! Hiks... Hiks... Hiks..." racauku dengan suara histeris.


"Baik, Dok." jawab suster Vera.


Aku pun mencoba untuk memberontak. Akan tetapi saat jarum suntik sudah menyentuh dan memasuki pori-pori kulit ku, tenaga ku pun semakin melemah. Dan akhirnya aku pun kembali tak sadarkan diri.


Akan tetap masih sedikit samar-samar aku masih mendengar percakapan mereka.


"Sus, tolong panggilkan suami pasien! Untuk datang ke ruangan Saya ya?" pinta Sang Dokter sambil berlalu meninggalkan ruanganku.


Setelah suara langkah kaki keluar dan pintu tertutup, kini kesadaran ku pun benar-benar menghilang.


_________________


POV Devano 


Setelah aku menemui Siska di dalam kamar rawatnya. Aku pun bergegas untuk ke taman rumah sakit, hanya sekedar ingin menenangkan diri sejenak.


Selama tiga jam aku merenung di sana, lalu aku pun kembali berjalan menuju ke kamar rawat istriku.


Akan tetapi saat aku baru saja tiba di lorong dekat kamarnya, dengan raut wajah khawatir perawat yang biasa ikut memeriksa istriku pun menghampiri ku.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan Anda di sini, Pak." ucap sang perawat dengan napas tersengal-sengal.


"Lho, ada apa, Sus? Apa terjadi sesuatu?" tanyaku dengan hati-hati.


"Anda di minta Dokter Hendra untuk ke ruangannya, Pak! Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan. Sekarang beliau sedang menunggu kedatangan Anda." jelas sang perawat kepadaku.


"Baiklah, Sus. Tolong antarkan saya ke ruangan beliau ya?" pintaku kepada sang perawat.


"Baik, Pak. Silahkan Anda ikuti Saya!" ucapnya sambil berjalan di depan ku.


Aku pun menganggukinya, kemudian dengan langkah kaki yang cukup lebar kami pun berjalan menuju ke ruangan Dokter Hendra.


Akhirnya kami pun tiba di depan sebuah ruangan, kemudian sang perawat pun mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok... Tok... Tok...


"Permisi, Dok!" panggil sang perawat.


"Ya, silahkan masuk!" sahut Dokter Hendra dari dalam ruangannya.


Kemudian aku pun mengikuti sang perawat itu masuk ke dalam ruangan dengan nuansa serba putih.


"Oh, Pak Devano. Silahkan duduk, Pak!" pinta Sang Dokter.


Saat pandangan ku menyapu setiap ruangan kini aku pun melihat papan nama yang terletak di meja tersebut.


"dr. HENDRA WIBOWO s.kd."


'Mengapa aku merasa tidak asing dengan nama ini?' gumamku dalam hati.


"Jadi begini Pak Devano, sebelumnya saya ingin menyampaikan kabar bahagia untuk Anda terlebih dahulu. Sebelum saya juga menyampaikan kabar buruknya." ucap Dokter Hendra membuka pembicaraan kami.


"Iya, Dok. Silahkan!" ucapku dengan seulas senyum tipis.


"Pertama saya ingin menyampaikan, bahwa dugaan tentang istri Anda yang sedang hamil memang benar. Karena kami sudah melakukan tes kehamilan dengan urin beliau. Akan tetapi -" kini ucapan Dokter Hendra pun terpotong. Sepertinya dia sangat ragu untuk melanjutkannya.


"Apa, Dok? Istri saya hamil? Benarkah?" tanyaku dengan raut wajah yang terkejut sekaligus bercampur dengan rasa bahagia.


Akan tetapi semua itu perlahan memudar, saat mendengar ucapan Dokter Hendra yang sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Tetapi apa, Dok?" tanyaku lagi, yang semakin penasaran.


"Mohon maaf sebelumnya, Pak. Bukan saya ingin mencampuri urusan rumah tangga Anda. Akan tetapi setelah istri Anda mengetahui kehamilan tersebut, sepertinya beliau sangat terguncang dan tertekan. Apakah sebelumnya Anda dan istri Anda mengalami masalah yang sangat besar?" tanya Dokter Hendra dengan ragu-ragu.


Sebelum menceritakan semuanya, aku pun menghela napas beratku.

__ADS_1


"Jadi begini, Dok ...."


BERSAMBUNG....


__ADS_2