Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Jangan Katakan Itu Lagi


__ADS_3

Di saat kebahagiaan kami nyaris sempurna dengan kehadiran buah cinta kami. Kini kami justru berada di ambang kehancuran, karena sebuah pengkhianatan yang telah dilakukan oleh suamiku, Kak Devano.


Aku pun tak menyangka jika semuanya harus terjadi, di saat benih yang ia tanamkan di rahimku sedang berkembang, justru pengkhianatan yang aku dapatkan darinya.


Awalnya aku memang menolak kehadirannya, akan tetapi setelah aku sudah bisa berpikir. Kini aku pun mulai menerima dan menyayanginya.


Meskipun masih ada luka menganga yang di goreskan oleh Ayahnya. Namun, aku juga tidak boleh egois untuk menghilangkan titipan yang Allah berikan kepadaku.


"Maafkan Bunda, Sayang! Bunda janji, Bunda akan berusaha untuk mempertahankan mu. Agar nanti kita bisa bertemu di saat kamu sudah terlahir ke dunia ini." ujarku sambil mengusap lembut perut ku yang masih rata.


Dan setelah aku mengajukan beberapa syarat kepada Kak Devan. Kini aku pun sedikit merasa lega, karena untuk beberapa waktu aku bisa menghindarinya.


Jujur saja, saat aku melihat wajahnya. Aku pun merasa sangat muak, dan rasa benci kini telah menguasai hatiku. Sehingga rasa cinta yang dulu sangat besar, kini telah tertutup rapat oleh rasa benci dan kecewa itu sendiri.


***


"Apa kamu yakin ingin pulang ke rumah Ibu? Dan meninggalkan ku sendiri, Sayang?" tanya Kak Devan dengan suara paraunya.


"Ya," jawabku singkat.


"Tidak bisakah kamu tetap tinggal bersama denganku, agar aku bisa menjagamu dan anak kita? Berat rasanya jika aku harus berjauhan denganmu, Sayang." ujarnya sambil menatap sendu ke arahku.


Jika sebelum pengkhianatan itu terjadi, mungkin aku tidak akan pernah meninggalkannya dan memilih untuk pulang kembali ke rumah Ibu.


Akan tetapi setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Kak Devan, kini hatiku pun menolak keras untuk tinggal bersamanya.


"Apa Anda melupakan syarat-syarat yang Saya ajukan, Pak? Apa Anda pikir semudah itu saya akan kembali ke rumah itu? Apa Anda pikir saya tidak memiliki hati, sehingga dengan mudahnya meminta Saya untuk kembali bersama dengan Anda? Maaf! Tidak semudah itu, sebelum Anda memberikan semua bukti secara detail kepada Saya. Dan ingat! Jangan meminta bantuan orang lain termasuk Kak Daniel." ujarku dengan penuh penekanan.


Sayup-sayup kini terdengar suara helaan napas beratnya.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang. Secepatnya aku akan memberikan bukti itu kepadamu, agar aku bisa segera menjemput mu dan kita bisa hidup bahagia bersama kembali." ucapnya dengan penuh keyakinan.


Perlahan tanganku di genggam oleh Kak Devan, sehingga kini pandangan kamu saling bertemu.


Saat aku melihat sorot matanya, kini rasa sakit itu pun kembali terasa nyeri di hatiku. Aku pun segera menepisnya dan menarik kembali tanganku dari genggamannya.


Akan tetapi dengan gerakan cepat, kini tangan ku kembali di genggam erat olehnya.


"Lepaskan tangan, saya! Apakah Anda memang sudah melupakan syarat-syarat yang saya ajukan, Pak Devano?" tanyaku dengan tatapan mata tajam.


"Biarkan seperti ini untuk sementara waktu, jika kamu menolaknya. Aku akan melakukan hal yang lebih kepadamu, di sini dan saat ini juga. Kamu juga harus ingat! Aku masih SAH menjadi suamimu secara agama dan hukum." ujarnya sambil menatap lekat wajahku tanpa senyuman yang menghiasi bibirnya.


Aku yang mendapatkan tatapan itu, kini aku pun langsung membuang muka darinya.


Akan tetapi perlahan dan lembut, kini tangan Kak Devan kembali menyentuh daguku dan menarik kembali untuk menatapnya.


"Jangan pernah membuang muka dariku, sayang. Aku memang bersalah dan kamu juga berhak marah. Tetapi jangan pernah membuang pandangan dariku, semarah apapun dirimu saat ini. Aku masih juga berhak untuk menatap wajah cantik istriku tercinta ini," ujarnya sambil menatap sendu.


"Ckk! Apa Anda tau? Setiap saya menatap Anda, saya merasa muak dan jijik dengan apa yang Anda lakukan kepada Saya. Apa Anda lupa, jika kesetiaan saya telah Anda nodai dengan pengkhianatan yang telah Anda lakukan? Apa-" belum selesai aku menyelesaikan ucapanku, kini bibir Kak Revan menyambar bibirku dengan cepat.


Cup!


"Jangan ingatkan hal itu kembali, Sayang! Aku tau akan semua kesalahanku, tetapi untuk kali ini saja. Biarkan aku menggenggam dan memandangi wajah cantikmu, sebelum kita berpisah untuk beberapa waktu. Seperti syarat yang telah kamu ajukan kepadaku." titahnya sambil mengeratkan genggaman tangannya.


Kini buliran bening yang sejak tadi ku bendung, akhirnya luruh membasahi pipiku.


"Baik. Lakukanlah sesuka Anda dan itu bisa membuat Anda bahagia. Saya juga hanya sadar diri, jika Saya juga tidak punya kuasa apapun untuk melawan seorang Pak Devano Wicaksana yang banyak di kenal oleh semua orang. Karena sekuat apapun Saya menolaknya, pasti Anda juga memaksa Saya untuk tetap menuruti Anda. Hiks... Hiks... Hiks..." ujarku sambil mengusap kasar air mataku dengan menggunakan tanganku yang terpasang selang infus.


Dengan cepat Kak Devan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, Sayang! Tolong jangan katakan apapun lagi. Aku mohon! Aku juga sangat tersiksa saat melihat kesedihan yang kamu rasakan. Tolong jangan buang air matamu, untuk suami yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri dari jebakan wanita ular itu. Maafkan aku, Sayang! Tolong jangan menangis lagi! Sungguh aku juga sangat terluka melihat kesedihan yang aku goreskan kepada hatimu. Aku benar-benar tidak menyangka, jika firasat mu di kala itu ternyata menjadi masalah serumit ini." ujar Kak Devan dengan suara parau.


Aku pun kembali berdecak saat mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya.


"Ckk! Bukankah Anda juga menikmati momen itu? Dimana Anda berulangkali melakukan hubungan layaknya suami-istri, dengan MANTAN KEKASIH yang masih menjadi PEMILIK HATI ANDA? Bukankah aku hanya tamu sementara untuk menggantikan posisinya? Jadi silahkan Anda kembali kepadanya, dan tinggalkan KAMI!" ucapku dengan penuh penekanan.


Sengaja aku tekankan kata "MANTAN KEKASIH" dan "PEMILIK HATI" serta "KAMI", agar dia bisa menentukan pilihannya.


"Tidak, Sayang. Dia sama sekali tidak berada di dalam hatiku, karena hatiku telah terisi penuh oleh namamu. Dan hanya kamu yang akan menjadi tahta tertinggi yang menjadi pemilik hatiku selamanya. Tidak akan pernah ada orang lain yang bisa menggantikan posisimu dan calon anak kita, Sayang. Tolong berhentilah untuk mengingatkan kejadian yang membuatku semakin merasa bersalah kepadamu." ujarnya sambil meneteskan air matanya.


Aku pun sudah mulai kebal dengan berbagai macam ucapan yang dia lontarkan untuk meyakinkan ku. Akan tetapi aku tidak akan pernah goyah begitu saja, sebelum bukti-bukti dia tunjukkan kepadaku.


"Huh! Ya, memang Anda benar. Karena saat ini yang berada di hadapan Anda adalah Saya, bukan MANTAN KEKASIH ANDA itu. Jadi Anda dengan mudahnya mengatakan hal-hal manis di depan Saya. Huh! Seharusnya sejak kejadian di kantor, saat mantan kekasih Anda datang. Saya keluar dari pekerjaan itu, lalu pergi sejauh mungkin dari Anda dan membuang jauh-jauh perasaan yang selalu saya pendam sendiri." ujarku sambil tersenyum getir.


Kak Devan yang mendengar pernyataan yang aku lontarkan, hanya membelalakkan matanya.


"Apa? Jadi selama ini, bukan aku saja yang memendam perasaan ini, Sayang? Jadi kamu juga-" sebelum Kak Devan melanjutkan ucapannya, aku pun langsung memotongnya.


"Ya. Tapi itu dulu, sebelum aku tau bagaimana dirimu yang sebenarnya. Setelah aku tau, bahwa kamu juga sering melakukan hubungan suami-istri dengan mantan kekasih mu. Kini aku pun merasa jijik kepada diriku sendiri dan merutuki semua kebodohanku. Karena dengan mudahnya tertipu oleh ucapan dan janji manismu. Dan benar saja, janji manis mu memang hanya semu untukku. Setelah kamu mendapatkan semuanya dariku, kamu pun kembali lagi dengannya. Ah! Memang gadis polos dan lugu seperti ku memang pantas untuk mendapatkan semua ini," ujarku lagi, sambil terkekeh dengan senyuman getir yang menghiasi sudut bibirku.


Dengan gerakan cepat, Kak Devan kini memelukku dengan erat. Dan air mataku pun luruh kembali dengan derasnya.


Sambil memberontak, aku pun merutuki kebodohanku sendiri.


"Seharusnya sejak awal aku pergi dari kantor itu. Seharusnya sejak awal aku juga tidak memiliki perasaan ini kepadamu. Dan seharusnya aku menjauh sejauh-jauhnya darimu. Mengapa? Mengapa kamu begitu tega kepada Kak? Apa kesalahan ku? Sehingga kamu tega mempermainkan perasaanku dan juga hatiku. Apakah aku memang serendah itu di matamu? Apakah aku memang tidak pantas bahagia? Apa seharusnya aku MATI saja. Hiks... Hiks... Hiks..." sesalku sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri dari pelukan Kak Devan.


"Sayang? Tolonglah! Jangan katakan itu lagi, aku mohon! Maafkan aku, Andini! Aku benar-benar minta maaf!" serunya dengan suara paraunya.


'Aku memang bodoh! Setelah ini aku akan pergi sejauh mungkin darimu! Agar aku tidak bertemu dan melihat kembali wajahmu,'

__ADS_1


BEDSAMBUNG.....


__ADS_2