Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Menghilang


__ADS_3

Setelah memberikan perintah kepada sang resepsionis, dia pun langsung mencari tempat persembunyian yang tidak akan dilewati oleh mereka.


Dirasa sudah aman, Devano langsung bergerak cepat agar bisa mendapatkan semua rekaman CCTV itu. Semua rekaman CCTV itu langsung di salin ke dalam sebuah flash disk kosong yang telah dia siapkan.


Dengan lihai Devan langsung mengontak-atik semuanya tanpa melihat satu persatu rekaman itu. Karena yang dia butuhkan saat ini hanya menyalin semuanya, dan menghapus beberapa rekaman yang memperlihatkan kehadirannya di jam-jam ini. Agar dia tidak ketahuan oleh kedua sepasang ular beracun itu, karena telah menyalin semua CCTV hotel itu.


"Akhirnya aku berhasil menyalin semuanya. Semoga saja rekaman ini masih lengkap. Dan seandainya ada rekaman yang dihapus aku masih bisa memulihkannya kembali, karena kejadiannya juga belum lama dan hanya baru beberapa hari saja." gumamnya sambil tersenyum memandangi flash disk yang berada di tangannya.


Perlahan di pun memutar kenop pintu, lalu menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk memastikan jika kondisi sudah aman.


Baru selangkah Devano mengayunkan kakinya, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki dan kasak-kusuk orang sedang berbicara. Dengan cepat Devan pun langsung mencari tempat persembunyian yang dia kira cukup aman.


"Apa kamu sedang mempermalukan ku, Sandra? katanya tadi ada masalah di komputer mu, tetapi setelah aku mengeceknya, semua terlihat baik-baik saja." ketus sang penjaga keamanan CCTV itu.


Wanita matang yang bekerjasama dengan Devan kini berkali-kali mengucapkan kata maaf, jika dirinya tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan komputernya.


"Maafkan aku, Rafa! aku tidak bermaksud untuk membohongi mu, apalagi sampai mempermainkan mu. Tadi komputer itu benar-benar tidak berfungsi dengan baik, jadi aku memutuskan untuk memanggilmu. Karena kamu juga ahli dalam bidang elektronik dan permesinan 'kan?" sangkal seorang wanita yang baru saja dipanggil Sandra.


"Oke. Baiklah. Aku bisa memaafkan mu kali ini. Tetapi tolong, jangan kamu ulangi kembali! karena tugas ku di sini tidak main-main, Sandra. Jika terjadi sesuatu dengan semua rekaman CCTV ini, maka aku akan habis di tangan Pak Damian. Kamu pasti tau sendiri 'kan, bagaimana perangai bos besar kita?" cecar seorang pria yang bernama Rafa.


"Ya. Aku mengerti, Rafael." ucap Sandra dengan raut wajah sendu.


"Sudahlah. Jangan memasang wajah seperti itu! kamu pasti sangat mengetahui apa kelemahan ku. Jadi sekarang aku mohon tinggalkan aku sendiri, San." usir Rafael sambil memalingkan wajahnya.


Sandra pun langsung meninggalkan pria yang bernama Rafael itu sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan Rafael hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap punggung wanita itu.


"Maafkan aku, Sandra! aku harus bisa menjaga jarak denganmu. Karena aku sadar diri dengan posisiku, dan tidak seharusnya kamu meninggalkan rumah dan kemewahan dari keluarga mu, hanya karena aku." gumam Rafael saat punggung Sandra sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Kemudian Rafael pun langsung memasuki ruangan itu kembali, dan menutup benda persegi panjang itu dengan rapat.


Devan yang mendengar dan melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua orang itu, hanya bisa diam dan memilih untuk meninggalkan tempat itu terlebih dahulu.


Setelah berhasil keluar dari ruangan itu, akhirnya Devano memutuskan untuk menemui Sandra kembali di tempat resepsionis.


Saat kakinya hendak mengayun ke arah Sandra berada, tiba-tiba dia mendengar suara isakan tangis dari wanita itu.


Wanita yang telah berhasil membantunya untuk mendapatkan semua rekaman CCTV yang dia inginkan.


"Hey, Sandra? Kenapa kamu menangis?" tanya Devano setelah memutuskan untuk mendekati wanita itu.


"Lebih baik kamu ikut denganku sekarang juga!" titah Devan dengan penuh penekanan.


"Tap-tapi pekerjaan ku?" tanya Sandra dengan ragu-ragu.


"Jelaskan semuanya kepada ku, Sandra! aku akan membantumu, sebagai balasan karena kamu juga sudah membantuku." ucap Devan meyakinkan Sandra.


Kemudian Sandra langsung menceritakan semuanya kepada Devano, dan Devano pun menyimak dan mencerna setiap ucapan yang dikatakan oleh Sandra.


***


Keesokan harinya..


"Sial! sepertinya Andini telah mengelabuhi kita, Sayang. Dan dengan bodohnya kita mempercayainya begitu saja, setelah kejadian itu menimpa dirinya." maki Daniel yang merutuki kebodohannya sendiri.


Siska yang masih mematung di tempat, tepat di depan meja resepsionis kini hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia juga mempercayai begitu saja ucapan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Lalu kita harus mencari Andini kemana, Kak? Tidak mungkin jika Andini pulang ke rumah Ibunya. Dia bukan gadis yang selalu lari ke keluarganya, di saat sedang ada masalah." terang Siska sambil menatap sendu ke arah Daniel.


"Lebih baik sekarang kita kembali ke mobil terlebih dahulu, dan memberitahukan semuanya kepada Devano. Karena dia juga berhak untuk tau, jika istrinya menghilang saat ini. Agar dia bisa ikut mencari dimana istrinya berada saat ini." saran Daniel sambil merangkul pinggang ramping Siska.


Siska hanya bisa patuh kepada Daniel. Karena hanya dia yang di percaya dan yakini bisa membantunya untuk keluar dari masalah yang menjerat sahabatnya itu.


Setiba di dalam mobil, Daniel langsung menginjak pedal gas nya menuju ke arah kantor sahabatnya. Dimana saat ini Devan masih berkutat dengan laptopnya.


Hanya beberapa menit saja, akhirnya sepasang kekasih itu sudah sampai di kantor milik Devano. Keduanya lalu berjalan beriringan, tanpa menghiraukan ucapan dari beberapa karyawan yang menatap iri Siska.


Ceklek!


"Dev?" panggil Daniel dari ambang pintu sambil merangkul pinggang Siska.


"Daniel? Siska? Syukurlah kalian datang kemari. Baru saja aku akan menemui kalian, karena aku telah berhasil mengumpulkan semua bukti-buktinya. Dan apakah kalian tau, jika aku benar-benar di jebak saat itu oleh sepasang ular itu. Aku bahkan dibawa ke dalam kamar itu, di saat kesadaran ku mulai terkikis karena obat tidur yang mereka berikan kepadaku. Bahkan yang melakukan hubungan intim itu adalah Damian dan Vania, bukan aku, Daniel." terang Devan dengan raut wajah yang berbinar.


Daniel dan Siska masih bergeming, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Sebelumnya Daniel juga sudah yakin jika Devan tidak mungkin mengkhianati Andini, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Di saat semuanya terungkap, Andini menghilang dari pandangan mereka, tanpa diketahui dimana keberadaannya saat ini.


"Dev, aku ingin mengatakan hal yang jauh lebih penting dari masalah ini." ucap Daniel dengan ragu-ragu.


Devan yang melihat raut wajah Daniel dan Siska yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu, kini hanya menatap lekat kedua wajah sepasang kekasih itu dengan penuh selidik.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Katakanlah, Daniel! Jangan membuat ku seperti orang bodoh yang tidak tau apapun!" cetus Devan sembari meninggikan suaranya.


Siska yang mendengar perubahan sikap mantan bosnya, semakin mengeratkan genggaman tangannya dengan Daniel.


Daniel yang menyadari jika kekasihnya sedang ketakutan, kini langsung membalas dengan genggaman eratnya.

__ADS_1


"Andini menghilang dan ....''


__ADS_2