
Hari demi hari pun akhirnya terlewati dengan cepat. Tak terasa kini bayi Arvin sudah menginjak usia satu tahun. Tepat di hari ini, si tampan Arvin mengadakan acara ulangtahun di ballroom hotel pribadi milik Devan.
Acaranya pun dimeriahkan oleh beberapa tamu khusus dari panti asuhan dan beberapa putra dari kolega Devan itu sendiri. Devan memang sengaja mengundang panti asuhan yang sudah beberapa tahun ini dia berikan donasi rutin di setiap bulannya.
"Bagaimana, Sayang? Apakah masih ada yang kurang? Atau aku harus menambahkan beberapa dekorasi tambahan lainnya?" tanya Devan sambil menggenggam erat tangan Andini.
Andini pun langsung menggelengkan kepala cepat. Dia tidak pernah habis pikir dengan sosok yang selalu memberikan kemewahan dan kenyamanan untuk keluarganya. Bahkan Arvin yang baru berusia satu tahun, mendapatkan perayaan yang sangat luar biasa. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh suaminya, untuk mendekorasi ballroom hotel itu.
"Tidak, Kak. Apakah ini tidak berlebihan? Arvin masih sangat kecil, dan dia juga belum membutuhkan semua ini. Seharusnya Kak Devan memberikan perayaan yang sederhana saja, dan tidak perlu semewah ini." cetus Andini.
Devan pun terkekeh saat mendapatkan jawaban dari istrinya. Devan akui, jika sifat istrinya yang sederhana masih terbawa hingga saat ini. Bahkan Andini sering mengomelinya hanya karena Devan memberikan barang-barang bermerek, dengan harga yang fantastis untuk putra mereka.
"Em, jika ini menurut mu berlebihan. Maka untukku ini hanyalah sebuah kesederhanaan untuk kita, Sayang. Arvin juga putraku, dan dia juga berhak untuk mendapatkan semua yang terbaik dari kita. Dan kamu tenang saja, sifat Arvin pasti akan menurun darimu. Dia tidak akan seperti ku, Sayang. Aku percayakan dia kepadamu, karena kamulah Ibu yang terbaik untuk mendidiknya." tutur Devan sambil merengkuh pinggang ramping Andini, lalu menciumi seluruh wajahnya.
Andini hanya bisa menghela napas panjang. Jika suaminya sudah mengatakan hal seperti itu, maka dia juga tidak bisa menolaknya. Jurus andalannya adalah demi kebahagiaan putra kesayangan mereka.
"Baiklah. Aku ikut dengan Kak Devan saja. Mungkin sesekali kita bisa memberikan kemewahan untuk Arvin. Tapi ingat! Jangan pernah memberikan sesuatu yang berlebihan untuk putraku!" tegas Andini dengan lirikan tajam.
Devan yang merasa sangat gemas dengan istrinya, kini langsung mengeratkan pelukannya dan berjalan lebih cepat meninggalkan ruangan itu.
"Kamu memang benar-benar sangat manis, Sayang. Bahkan kamu membuatku semakin ingin memakanmu saat ini." ucap Devan.
Dengan cepat Devan langsung menggendong tubuh mungil istrinya, dan membawanya ke sebuah kamar hotel yang biasanya dia tempati.
"Kak Devan! Kita mau kemana? Bukankah dekorasinya belum selesai?" tanya Andini sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Devan.
"Biarkan itu menjadi urusan mereka, Sayang. Mereka bekerja juga di gaji, jadi kita tinggal menunggu hasilnya saja. Dan untuk sementara, kita akan melakukan aktivitas yang sangat menyenangkan dan membuat ku candu tentunya." ucap Devan dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Andini yang merasa jika suaminya ingin memanfaatkan kesempatan yang ada. Akhirnya dia pun mencebikkan bibirnya sambil memutar bola mata jengah.
__ADS_1
"Kak, Ingat! Arvin menunggu kita di rumah. Kasian jika dia, kita tinggalkan terlalu lama. Dan sebaiknya kita harus segera pulang ke rumah." kilah Andini.
Devan yang sudah tidak bisa menahan lagi, akhirnya dia pun mengabaikan ucapan istrinya dan tetap membawa tubuh mungil itu ke dalam kamar pribadinya.
"Sebenarnya saja, Sayang. Apa kamu tidak ingin membuatkan adik untuk Arvin?" goda Devan.
Bugh!
"Jangan ngadi-ngadi ya, Kak! Arvin baru berusia satu tahun hari ini. Dia masih sangat kecil jika harus memiliki seorang adik." gertak Andini.
Devan yang saat ini sedang berada di depan pintu, hanya mengabaikan gertakan dari istrinya. Jika sudah seperti itu, istrinya pasti akan terus menjawab setiap ucapan yang dia katakan. Jadi dia hanya menganggukkan kepalanya dan bergegas untuk membawa istrinya untuk terbang ke nirwana bersama.
Setelah berhasil masuk ke dalam kamar, akhirnya Devan pun membanting perlahan tubuh istrinya ke atas ranjang. Sebelum memulai ritualnya, Devan pun mengunci pintu kamar itu terlebih dahulu.
"Kak, kita pulang saja ya? Aku takut jika Arvin akan rewel nanti. Kasian Mama jika nanti akan kewalahan karena mengurus Arvin." ucap Andini sambil memalingkan wajahnya dari suaminya.
"Sebentar saja, Sayang. Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Apa kamu tidak merasa kasian denganku. Lihatlah! Python ku sudah merasa sangat sesak dan terus memberontak." pinta Devan dengan raut wajah yang memelas.
Andini yang selalu saja merasa kalah jika suaminya sudah memasang wajah yang itu, kini hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang.
"Baiklah. Hanya satu kali saja, Kak. Ingat! Ada Arvin di rumah yang menunggu kepulangan orangtuanya." tegas Andini.
Devan yang sudah mendapatkan lampu hijau, kini perlahan langsung menghampiri istrinya dengan tatapan mata yang lapar. Dengan lembut Devan menciumi seluruh wajah istrinya sebelum melakukan pemanasan.
"Kak, hentikan! Geli.. hahaha.." pekik Andini sambil terkikik.
Devan yang saat ini sudah sangat merasa lapar, kini langsung membungkam bibir istrinya dan menciuminya dengan lembut.
Semakin lembut dan dalam, akhirnya Andini mulai terbuai dengan permainan Devan. Devan yang memperlakukan wanitanya dengan sangat lembut dan hati-hati, kini menyunggingkan senyuman mautnya.
__ADS_1
Andini yang mulai menikmati setiap sentuhan lembut Devan, akhirnya hanya pasrah saat berada di dalam kungkungan pria yang berstatus sebagai suaminya.
Setelah merasa puas menjelajahi setiap jengkal tubuh mungil istrinya. Dia pun bergegas untuk mengeluarkan python nya, dan dengan perlahan memasuki sarang yang selalu dia rindukan.
"Uuughh! Kak Devan!" pekik Andini, saat sarang itu dipenuhi oleh python milik Devan.
"Uugh! Rasanya masih sama, Sayang. Selalu membuatku candu dan terus menginginkannya lagi." ucap Devan sambil menatap lekat wajah Andini.
Andini yang mendengar ucapan Devan, kini tersipu dan wajahnya kini bersemu merah. Mendapatkan pujian dari orang yang dicintai memang bisa membuat kita melayang, meskipun hanya pujian yang sederhana.
Melihat istrinya yang sedang malu-malu. Dengan sangat lembut dan perlahan, Devan menggerakkannya python nya dengan hati-hati agar tidak menyakiti istrinya.
Meskipun Devan sering melakukannya setelah Andini melahirkan, dia tetap saja mendamba dan memuja istrinya. Sehingga semakin hari, rasa cinta mereka semakin besar dan tidak pernah terkikis.
Andini yang semakin terbuai membuat Devan bersemangat untuk membawa istrinya terbang ke nirwana bersamanya. Tidak lupa mereka saling menyebutkan nama pasangan masing-masing, saat melakukan olahraga panaas itu.
Karena tidak ingin berlama-lama meninggalkan putra mereka, akhirnya mereka pun melakukan pelepasan bersama setelah bermain selama satu jam.
"Sayang, satu kali lagi ya?" mohon Devan.
"NO! Jangan macam-macam lagi, Kak! Kita harus pulang sekarang!" tolak Andini dengan tegas.
Devan pun hanya bisa pasrah, dan segera membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah.
"Baiklah. Kali ini aku melepaskan mu, Sayang. Tapi lihatlah nanti malam setelah acara selesai, aku tidak akan membiarkan mu untuk beristirahat meski hanya sebentar saja." ucap Devan sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Andini yang mendengar ucapan Devan, hanya mendengus sambil mencebikkan bibirnya. Dia tidak habis pikir, jika dia akan menikah dengan mantan Casanova.
"Huft! Menyebalkan!" gerutu Andini.
__ADS_1