
Happy reading..,
Ya, orang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawatku adalah pak Devano, yang selama ini menjadi orang yang diam-diam aku kagumi bahkan aku cintai.
'Apa ini? Apa jangan-jangan dia adalah pendonor itu? Jika memang benar, mengapa Ibu dan nenek menyembunyikannya dariku? Apa sebenarnya maksud dan tujuannya? Mengapa dia bersikap sangat lembut kepadaku di saat aku tidak sadarkan diri? Dan apa tadi? Dia memanggilku sayang? Apa jangan-jangan?' kini batinku pun menyimpan begitu banyak pertanyaan.
Cup!
Kini kecupan lembut mendarat di keningku. Seketika tubuhku membeku saat itu juga.
"Cepatlah sembuh, sayang! Agar setelah ini, aku bisa untuk segera menghalalkan dan menjagamu dengan sepenuh hatiku," ucap pak Devano dengan suara lembutnya.
Dari sudut mataku kini air mataku mengalir perlahan di sudut mataku, sebenarnya sudah sekuat tenaga aku menahannya agar tidak luruh. Akan tetapi aku tidak bisa membendungnya, setelah mendengar pernyataan dari pak Devano.
Tiba-tiba saja sebuah tangan dengan lembutnya, mengusap sudut mataku yang basah.
"Andini, bangunlah! Apa kamu sedang bermimpi menangis saat ini?" Perlahan dia mengguncangkan tubuhku, agar aku tersadar.
Akhirnya perlahan-lahan aku pun membuka mata, tepat di depan ku dengan jelas aku bisa melihat wajahnya. Wajah yang beberapa hari ini selalu aku rindukan dan ku nantikan kehadirannya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga. Apa kamu sedang bermimpi sedang menangis?" tanya pak Devano yang merasa cemas.
Aku pun masih bergeming, sambil menatap lekat wajah dan manik mata elangnya.
"Hey, bicaralah! Jangan diam saja seperti ini! Apa perlu aku panggilkan Dokter Irawan?" tanyanya kepadaku.
Akhirnya aku pun hanya menggelengkan kepalaku.
Kini aku lihat raut wajahnya yang begitu sangat mengkhawatirkan ku.
"Katakan kepadaku, apakah ada yang masih merasa sakit?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku pun masih bergeming tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Kini aku hanya meraih satu tangannya, dan meletakkannya di atas dada.
Aku hanya ingin memberi taunya, bahwa di dalam hati ini aku merasakan rasa sakit itu.
"Hey, kamu kenapa? Ada apa? Cobalah berbicara agar aku paham dengan apa kau maksud,'' ucapnya dengan suara lembut.
Ku hela napas panjang untuk menetralkan rasa gugup dalam diriku.
"Hatiku yang sakit, Pak,'' jawabku singkat.
"Maksudnya?" Dia pun kini terlihat kebingungan saat mendengar jawaban yang terlontar dari bibirku.
Dengan cepat aku pun menggelengkan kepalaku kembali. Kini terlihat dia mengerutkan dahinya, entah apa yang dia pikirkan saat ini, aku pun juga tidak tau.
*Flashback off*
Sejak saat itulah, aku menjadi irit berbicara. Bahkan Ibu dan Nenek pun merasa bingung dengan perubahan ku.
"Sayang," panggil Ibu.
"Iya Bu," sahutku.
"Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Ibu dengan suara lembutnya.
Aku pun bingung, apakah harus jujur atau tidak kepada Ibu. Akan tetapi aku juga harus mencari tau tentang apa yang aku pikirkan saat ini.
"Bu, bolehkah aku bertanya sesuatu? Tetapi Ibu harus berjanji kepadaku, untuk mengatakannya dengan jujur!" ucapku sambil menatap lekat wajahnya.
Dengan ragu-ragu sambil melirik ke arah Nenek, akhirnya beliau pun menganggukkan kepalanya.
"Insya Allah, jika Ibu bisa menjawabnya pasti Ibu akan mengatakannya dengan jujur," jawab Ibu sambil menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Apakah yang menjadi pendonor ku selama ini adalah pak Devano?" tanyaku kepada Ibu.
Ibu pun terkejut dengan pertanyaan yang ku ajukan.
Lalu terdengar helaan napasnya yang panjang.
"Iya, sayang. Dia adalah pendonor mu," jawab Ibu dengan sedikit ragu.
Degh!
'Berarti benar dugaanku selama ini, dan ucapannya yang terdengar ambigu akhirnya terkuak juga. Ya Allah, mengapa dia begitu baik kepadaku? Apa sebenarnya tujuannya melakukan semua ini? Tidak mungkin dia memiliki perasaan yang sama denganku saat ini. Siapa aku yang terlalu banyak berharap, bahwa cintaku akan terbalas olehnya,' gumamku dalam hati.
Kini air mataku pun kembali menetes, saat mendengar pernyataan dari Ibu.
"Sayang, maafkan kami! Bukannya kami bermaksud untuk menyembunyikan fakta ini. Akan tetapi ini adalah permintaan dari nak Devano sendiri, agar kami tidak mengatakannya kepadamu. Ibu minta maaf, sayang! Tolong jangan menangis lagi!" pinta Ibu dengan raut wajah sendunya.
Perlahan tubuhku di tarik ke dalam pelukannya, lalu beliau pun perlahan mengusap punggungku dengan lembut hanya sekedar untuk menenangkan ku.
"Mengapa harus dia, Bu?" tanyaku yang masih berada di dalam dekapannya.
"Apakah tidak ada orang lain selain dia? Apakah itu artinya aku sedang berhutang nyawa dengannya?" tanyaku lagi.
Kini Ibu pun bergeming, hanya isakan tangis kami yang saling beradu. Lalu Ibu pun mencium keningku dengan sangat lembut.
"Tidak, sayang! Jangan mengatakan seperti itu! Dia benar-benar tulus melakukannya untukmu. Apakah kamu lupa, bahwa dia adalah calon suamimu?" tanya Ibu dengan suara paraunya.
"Tapi ....''
"Tidak ada yang berhutang nyawa, Andini! Apa kamu masih meragukan ku?"
Degh!
__ADS_1
Suara itu ....
BERSAMBUNG......