Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Bab 71


__ADS_3

Beberapa kali panggilannya diabaikan oleh istrinya, Devan langsung mengguncang bahu Andini. Namun apa yang dia lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil. Andini tetapi saja terdiam dengan pandangan kosong.


"Sayang, tolong jangan seperti ini! Katakanlah sesuatu! Jangan membuat ku takut! Maafkan ucapanku tadi, jika kata-kata ku sempat melukai hatimu!" cetus Devan.


Andini sama sekali tidak merespon setiap ucapan dan tindakan Devan. Bahkan, pandangannya pun saat bertatap dengan Devan hanya berkedip tanpa respon apapun.


"Apa yang sebenarnya telah kamu lakukan kepadanya, Van? Mengapa Andini bisa menjadi seperti ini? Apakah kamu sempat mengancam Andini, dengan ucapan yang tidak seharusnya kamu katakan kepadanya?" tanya Rahma dengan tatapan penuh selidik.


Devan yang mendengar pertanyaan dari Rahma, hanya bisa mengangguk kecil dan pasrah. Saat ini dia siap untuk mendapatkan omelan dan cacian dari Mamanya. Karena sejujurnya dia memang bersalah telah meladeni ucapan yang tidak jelas dari istrinya.


"Astaghfirullah, Van, Van! Apakah tadi kamu tidak mendengarkan ucapan dari Dokter Andra? Apakah kamu sama sekali tidak bisa mencerna setiap ucapan yang dia katakan kepadamu, huh?" bentak Rahma, yang merasa sangat geram dengan tindakan bodooh putranya.


"Maafkan Devan, Ma! Devan......"


"Jangan meminta maaf kepada Mama, Van! Ingatlah, jika yang kamu lakukan ini bisa berdampak buruk untuk mental dan psikis Andini! Apakah kamu merasa puas sekarang, karena sudah membuatnya seperti ini?" potong Rahma, disertai dengan Omelan.


Devan hanya bisa pasrah saat mendapatkan omelan dari Mamanya. Tidak bisa dipungkiri, jika ucapannya tadi memang sudah melewati batas. Dan itu menjadi pemicu utama, istrinya bisa seperti saat ini.


"Maafkan aku, Sayang! Aku benar-benar menyesal karena telah mengatakan hal itu kepadamu. Aku tau jika tadi hanyalah amarah sesaat, dan itu sangat menyakitkan untukmu. Maafkan aku! Aku memang suami yang sangat bodooh!" sesal Devan sambil merengkuh tubuh mungil istrinya.

__ADS_1


Satu tetes buliran bening itu pun lolos dari mata hazel Andini. Hal yang sangat menyakitkan untuknya, adalah dipatahkan oleh belahan jiwanya untuk kesekian kalinya.


"Aku istri yang buruk! Aku bukan Ibu yang baik! Aku tidak bisa menjadi wanita yang baik! Aku memang tidak pantas untuk bahagia! Hahaha...." racau Andini disertai dengan air mata dan tawa.


Devan yang mendengar racauan Andini, semakin merasa sangat sesak. Melihat istrinya yang bersikap seperti itu, membuat ulu hatinya terasa sangat nyeri. Bahkan buliran bening di mata elangnya pun lolos seketika.


"Tidak, Sayang! Jangan pernah berpikir seperti itu! Maafkan jika ucapanku telah melukai hatimu! Maafkan atas kebodohan ku! Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Tolong sadarlah, Sayang! Aku mohon, demi anak kita!" sesal Devan sambil membingkai wajah Andini.


Rahma yang melihat kejadian di depan mata kepalanya sendiri, kini ikut menetes buliran bening dengan derasnya. Dia juga tidak pernah menyangka, jika menantunya akan mendapatkan guncangan hebat pada jiwanya.


"Hahaha.. Aku memang bodoh! Aku tidak pantas untuk bahagia! Ah, aku harus segera pergi dari sini! Ah, dimana putraku? Oh, kamu disini, Sayang. Ayo kita pergi, dan tinggalkan neraka ini!" racau Andini sambil meraih bantal yang berada di sampingnya.


Devan yang semakin merasa jika istrinya saat ini sedang berhalusinasi, kini langsung meraih tubuh mungil istrinya. Dia sama sekali tidak pernah berpikir sejauh itu, sehingga membuat istri tercintanya menjadi tertekan.


"Tidak. Pergi! Jangan mendekati ku! Jangan pisahkan aku dengan putraku! Pergi!" pekik Andini sambil memberontak.


Devan yang sedikit merasa kewalahan, kini meminta tolong kepada Mamanya untuk memanggil Dokter pribadi mereka kembali. Karena saat ini hanya Dokter Andra yang bisa dia percaya.


"Ma, tolong panggil Dokter Andra kembali! Katakan kepadanya, jika ini benar-benar darurat. Dan minta dia untuk cepat!" pinta Devan yang masih menahan tubuh mungil istrinya.

__ADS_1


Dengan sigap, Rahma langsung menggulir ponsel yang selalu dia bawa. Dia pun mencari nama Dokter Andra dan segera memencet tombol berwarna hijau agar panggilan terhubung.


Tepat saat dering pertama, akhirnya panggilan suara itu langsung dijawab oleh Dokter Andra. Rahma pun mengatakan apa yang baru saja Devan katakan kepadanya.


"Sudah. Dokter Andra mengatakan jika dalam 15 menit akan segera sampai. Karena kebetulan saat ini dia masih berada di perjalanan, dan dia akan kembali berputar arah ke sini." jelas Rahma, dan di angguk i oleh Devan.


.


.


"Apakah setelah kepergian saya, Anda dan istri Anda sempat beradu mulut, ah maksud saya bertengkar?" tanya Dokter Andra yang sedikit merasa tidak enak, karena pertanyaannya menyangkut hal yang sedikit privasi.


Semua itu bukan karena dia ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Tetapi dia hanya ingin memastikan saja, jika dugaannya memang benar.


"I-iya, Dok. Sebelumnya kami memang sempat bertengkar, dan saling melontarkan ancaman. Em, apakah itu adalah salah satu pemicu utama istri saya menjadi seperti ini?" ujar Devan dengan ragu-ragu.


Dokter Andra langsung menganggukkan kepalanya, dan menatap ke arah istri dari pasiennya. Dia pun kembali berpikir, jika saat ini jiwa Andini memang sedang tertekan dan terguncang hebat.


"Mohon maaf, Pak Devano! Saya tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga anda. Tetapi jika boleh saya sarankan, lebih baik anda lebih bisa mengontrol emosi dan ucapan anda. Semua ini hanya untuk menghilangkan rasa cemas dan ketakutan yang luar biasa dari diri Bu Andini. Dan jika anda bisa lebih bersabar dan lebih lembut lagi, InsyaALLAH Bu Andini akan kembali seperti semula." nasehat Dokter Andra.

__ADS_1


Devan yang langsung tanggap dengan ucapan dan nasehat Dokter Andra, kini hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menghela napas panjang.


"Baiklah, Dokter. Terimakasih atas bantuannya. Semoga saja saya bisa lebih bersabar, untuk menghadapi setiap mood istri Saya yang berubah-ubah." ucap Devan sambil menatap sendu istri tercintanya.


__ADS_2