
POV DanielĀ
Setelah aku melihat raut wajah sendu Devano, akhirnya aku pun bersedia untuk membantunya semampu ku. Entah bagaimana hasilnya nanti, biarkan menjadi keputusan Andini.
Toh, Andini pasti juga tau, bagaimana yang terbaik untuk hubungan mereka. Aku di sini hanya sebagai perantara untuk menjadi penengah dalam hubungan mereka, dan tidak lebih.
Kemudian aku pun menepuk-nepuk pundaknya, lalu bergegas untuk pergi ke kamar rawat Siska terlebih dahulu.
Saat aku membuka pintu, kini ku lihat Siska sudah terbangun dari tidurnya. Lalu melayangkan sebuah senyuman manisnya kepadaku.
'Ah, benar-benar manis dan menggemaskan sekali!' gumamku dalam hati, sambil berjalan menghampiri kekasihku.
"Sayang? Kamu sudah bangun? Kenapa tidak memanggilku, hem?" tanyaku sambil mengusap lembut rambutnya.
"Aku juga baru saja bangun kok, Kak. O, iya, Kak Daniel darimana? Kenapa sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikiran Kakak?" tanya Siska dengan polosnya.
Aku pun hanya tersenyum getir saat mendengar pertanyaan darinya.
"Apakah aku harus membagi pikiran ku saat ini, Yang? Di saat kamu sedang terbaring lemah di sini?" tanyaku dengan hati-hati.
Dengan lemah, Siska pun menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Memangnya Kak Daniel mau berbagi dengan siapa lagi, kalau bukan kepadaku? Atau jangan-jangan Kak Daniel seperti ---" Kini aku pun menempelkan jari telunjuk ku di bibir Siska.
"Ssttt!! Aku tau ke arah mana pembicaraan mu nanti, Sayang. Emn, apa kamu meragukan kesetiaan ku saat ini? Apa kamu memerlukan bukti sekarang? Apa aku harus melamarmu di depan kedua orangtuamu setelah keluar dari kamar rawat ini? Atau kamu ingin aku melakukan hal nekat sebelum kita SAH?" tanyaku sambil menggoda Siska.
"Bukan seperti itu, Kak. Hanya saja yang baru saja di alami oleh sahabat ku sendiri, kini membuatku menjadi sedikit ragu dengan sebuah kesetiaan dan ketulusan. Saat ini bagiku kedua itu hanya sebuah kata-kata saja, dan hanya sebuah harapan hampa untuk wanita seperti kami. Sangat menyedihkan bukan? Kami hanya orang-orang rendahan yang hanya menjadi injakan kaki untuk orang-orang kaya seperti kalian." jelas Siska dengan suara paraunya.
Aku yang mengetahui bagaimana ketakutan yang sedang mengguncang dirinya. Kini aku hanya bisa memeluknya agar dia bisa lebih tenang.
__ADS_1
'Sungguh benar-benar teriris hatiku, saat melihat kekasihku mulai meragukan kesetiaan dan ketulusan ku. Akan tetapi aku tidak boleh menyerah, aku harus mendapatkan kepercayaan dari Siska kembali. Dan akan aku tunjukkan bahwa aku tidak seperti Devan.' gumamku dalam hati.
"Sayang? Tolong percayalah kepadaku! Aku tidak seperti dia. Kami memang laki-laki brengs*k, akan tetapi setelah kami menemukan pawang kami, kami tidak pernah melakukan hal yang menyimpang dari komitmen kita, Sayang!" jelasku dengan suara parau.
Kini di dalam pelukanku, terdengar suara isakan tangis dari Siska. Sungguh benar-benar terdengar sangat pilu, hatiku pun terasa sangat perih saat mendengarnya.
"Ssttt!! Sayang? Tolong jangan menangis lagi! Mana Siska yang terlihat ceria dengan senyuman manisnya? Dimana Siska ku yang aku kenal, hemm?" tanyaku dengan suara lembut.
Perlahan pelukan kami merenggang, kini terlihat wajah sembab kekasihku yang masih terlihat sangat sayu dan pucat.
"Siska yang Kak Daniel kenal entah sudah pergi kemana, aku sendiri pun tidak tau. Semenjak kejadian yang menimpa Andini, kini aku mulai meragukan kesetiaan para laki-laki, Kak. Maafkan aku! Bukan maksud ku menyamakan Kak Daniel dengan Kak Devan. Akan tetapi, yang aku tau kalian adalah dua sahabat yang selalu bersama dimana pun dan kapan pun itu. Bahkan kalian juga sering pergi bersama 'kan?" ucap Siska dengan raut wajah sendu.
Aku pun sedikit terkejut dengan ucapan Siska. 'Bagaimana Siska mengetahui semua itu? Apa selama ini dia dan Andini juga mencari tau semua tentang kami? Astaghfirullah! Ini tidak bisa ku biarkan! Aku harus segera mendapatkan kepercayaan dan hati Siska kembali.' tekatku dalam hati.
"Iya, Sayang. Tapi itu dulu, sebelum aku mengenal kamu. Dan apa kamu tau? Kamulah yang telah merubah warna di dalam hidupku. Dulu hidupku hanya berwarna abu-abu dan sangat kelam, akan tetapi semua berubah saat aku mengenalmu, Yang. Percayalah! Ini semua adalah ungkapan tulus dari dalam hatiku, tanpa ada yang aku tambahkan atau kurangi." jelasku dengan nada sendu.
Sesaat suasana terasa hening, kami pun sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Siska yang menyadari kedatangan Devan, kini dia hanya membuang muka dan mengacuhkannya.
"Sis?" panggil Devan dengan suara lirih.
Hening tanpa ada sahutan sama sekali dari Siska. Aku pun hanya terdiam, dan menyimak apa yang akan dilakukan oleh Devan di sini.
Tanpa ku duga, Devan pun bersimpuh di samping ranjang Siska. Akan tetapi Siska pun masih enggan untuk menoleh ke arahnya.
"Siska? Tolong bantu aku! Tolong katakan kepada istriku, bahwa semua ini hanya sebuah kesalahpahaman saja. Aku mohon, Sis!" pinta Devan dengan suara paraunya.
Kemudian Siska pun menoleh ke arah Devan, dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Hah? Apakah seperti ini sifat asli seorang laki-laki? Setelah mereka mendapatkan segalanya yang dia inginkan, mereka dengan sesuka hatinya menghancurkan dan mematahkan hati kami? Dan untuk Anda Tuan Devano yang terhormat, saya juga tidak menyangka seseorang yang selama ini terkenal dingin dan arogan. Ternyata memiliki sisi buruk yang sangat menjijikkan. Terserah Anda akan mengatakan saya ini sebagai bawahan yang kurang ajar atau apa, yang jelas Saya di sini sedang mewakili perasaan sahabat Saya yang telah Anda hancurkan! Apa Anda belum puas? Sehingga meminta bantuan Saya untuk membujuk kembali Andini, agar mau memaafkan Anda, Tuan Devano?" jelas Siska yang meluapkan semua amarahnya kepada Devan.
Aku yang berada di samping Siska, hanya terdiam dan mencoba untuk menenangkannya.
"Ssttt!! Sudah, sudah Sayang! Kamu jangan terlalu banyak pikiran, agar kesehatan mu segera pulih! Apa kamu tidak ingin menjaga sahabat kamu?" ucapku sambil mengusap lembut rambutnya.
Kemudian tatapan tajamnya kini berpindah ke arahku.
"Hah? Apa, Kak? Apa kamu juga mau membela sahabat mu ini? Apa kamu juga akan mengikuti jejaknya? Atau jangan-jangan kamu juga sudah mengikuti jejaknya di belakang ku?" tanya Siska dengan senyum miringnya.
Lalu aku pun menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Tidak, Sayang! Bukan seperti itu! Hanya saja aku tidak ingin kesehatan mu kembali menurun. Aku ingin kamu segera sehat kembali, dan kita bisa sama-sama menjaga Andini. Dia sangat membutuhkan dukungan kita, Sayang." ucapku dengan raut wajah sendu.
"Hah? Apakah seperti ini jika para laki-laki sedang menghadapi masalahnya dengan wanitanya? Apakah dengan meminta bantuan orang ketiga, agar masalah mereka segera terselesaikan? Atau dengan meminta bantuan orang-orang terdekatnya, agar mereka mendapatkan pembelaan?" tanya Siska yang kini semakin memojokkan ku dan Devan.
Aku sendiri pun tidak pernah menyangka, jika seorang Siska yang aku kenal dengan kepolosan dan keluguannya. Dia bisa seganas seekor singa betina yang sedang melindungi anak-anaknya.
Sungguh benar-benar di luar dugaan, jika kemarahannya bisa melampaui batas. Padahal saat ini dia sedang benar-benar dalam keadaan lemah.
Aku pun menjadi semakin khawatir dengan kesehatannya. Aku takut jika kesehatannya akan kembali menurun, karena dia tidak bisa mengontrol emosinya.
"Sayang? Aku mohon jangan seperti ini! Aku tau Devan memang sangat salah dan bod*h. Akan tetapi jangan libatkan aku dalam hal ini, karena aku benar-benar tidak tau menahu tentang masalah ini, Sayang." ucapku sambil melirik Devan yang masih menunduk.
"Daniel benar, Sis! Semua ini tidak ada kaitannya dengan Daniel. Dia sama sekali tidak tau menahu tentang masalah ini. Sebelumnya dia juga sudah memperingatkan ku, agar aku menjauhi kedua manusia ular itu. Akan tetapi aku sama sekali tidak menggubris peringatan dari Daniel. Maafkan aku, Sis! Aku memang laki-laki bod*h dan ceroboh. Tetapi aku mohon, tolong bantu aku untuk meyakinkan Andini. Bahwa semua ini hanya sebuah kesalahpahaman." pintaku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan dada.
Aku yang melihat tingkah Devan yang tidak biasa, kini hanya menghela napas panjang. Karena selama aku mengenal Devan, aku sama sekali tidak pernah melihatnya seperti ini. Apalagi meminta bantuan hingga dia seperti seorang pengemis seperti ini.
"Oke! Aku akan membantumu. Tapi dengan syarat ...."
__ADS_1
BERSAMBUNG....