
POV Devano
Keesokkan harinya...
Saat aku terbangun dari tidurku, kini ku pandangi wajah teduh istriku yang sangat merasa kelelahan karena ulahku semalam.
Karena semalam adalah malam yang indah untuk kami, malam penyatuan yang akan semakin membuat hubungan kami menjadi kuat.
"Cantik!" gumamku.
"Emmh ..." kini Andini pun menggeliat dan menenggelamkan kembali wajahnya di dadaku.
Lalu aku pun kembali memeluknya, sambil mengecup lembut keningnya.
'Ah, akhirnya aku bisa mendapatkan kamu seutuhnya, Sayang. Aku benar-benar bahagia saat ini, karena aku telah berhasil meruntuhkan pertahananmu. Hingga semalam kamu benar-benar memberikan kepuasan untukku. Terimakasih karena kamu telah menjaga mahkota mu hanya untukku.' gumamku dalam hati lagi.
Tak berselang lama kemudian, kini tubuh mungilnya menggeliat kembali. Lalu perlahan matanya terbuka, saat mata kami saling bertemu dia pun mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kak Devan?" panggilnya dengan suara paraunya.
'Ah, sangat terdengar seksi sekali,' gumamku.
"Hem, iya sayang?" sahutku.
Kini dia pun ingin mengubah posisi tidurnya, akan tetapi.
"Aawww! Kak, Sakit!" rintihnya.
Aku pun langsung tersenyum lebar kepadanya, saat melihatnya dia merintih karena kesakitan.
"Tenanglah Sayang! Hanya sebentar saja, nanti perlahan akan membaik kembali. Apa kamu mau mengulanginya lagi?" tanyaku dengan senyum yang mengembang.
"Tidak!" serunya dengan lantang.
"Aish! Jangan berteriak, Sayang! Pelan-pelan saja, aku masih bisa mendengarnya juga kok," ucapku dengan suara lembut.
"Ish! Dasar mesum! Istri sedang kesakitan, bukannya bagaimana eh malah ngajak perang lagi. Tau tidak sih, Kak? Ini tuh benar-benar sakit, perih dan badanku terasa remuk semua. Karena ulah Kak Devan. Jadi Kak Devan harus bertanggungjawab atas perbuatan Kakak ini!" gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya lalu memberikan tatapan tajam kepadaku.
Aku pun langsung terkekeh saat melihat tingkahnya yang sangat menggemaskan.
"Ah, Sayang. Bisakah kamu tidak bersikap seperti itu? Apa kamu ingin membangunkan kembali adik kecilku, untuk kembali memasuki sarangnya? Ah, pasti menyenangkan sekali jika pagi-pagi seperti ini kita melakukan olahraga panas seperti tadi malam." ucapku sambil menggoda istriku.
__ADS_1
"Tidak, Kak!" serunya lagi, kini suaranya benar-benar memekakkan telingaku.
"Oke, oke! Maafkan aku, Sayang! Aku hanya bercanda saja, mana mungkin aku tega menyakiti mu lagi. Lalu aku harus bagaimana, Sayang? Aku harus melakukan apa?" tanyaku dengan suara lembut.
"Peluk!" pintanya dengan nada manja.
Aku pun kembali terkekeh saat mendengar permintaannya.
"Ya ampun, Sayang. Hanya minta peluk saja, harus marah-marah dulu ya?" tanyaku sambil menarik kembali secara perlahan pinggang rampingnya.
'Ah, kan. Aku lupa kalau kita sedang tidak memakai apa-apa. Kan bangun lagi jadinya adik kecilku, saat dia menempel pada sarangnya.' gerutuku dalam hati.
"Kak?" panggilnya dengan suara parau.
"Iya, Sayang?" sahutku.
"Kok rasanya ada yang aneh ya?" tanya Andini kepadaku.
"Emn, apa Sayang?" tanyaku sambil memicingkan mataku.
"Di bawah sana seperti ada yang mengganjal, Kak. Terasa keras dan menegang, apa ada sesuatu di bawah sana?" tanyanya dengan wajah polosnya.
Aku pun kembali terkekeh karena sifat polos istri mungilku.
Lalu dia pun menganggukkan kepalanya, kemudian kami pun segera bangkit lalu duduk dan bersandar.
"Kamu yakin ingin melihatnya, Sayang?" tanyaku lagi.
"Iya, Kak. Memangnya kenapa?" tanyanya masih dengan sifat polosnya.
'Ah, kamu memang masih benar-benar polos dan lugu, Sayang. Ingi sekali aku kembali memakanmu,' gumamku dalam hati.
"Aawww! Tunggu, Kak! Bagian bawahku masih terasa sakit dan nyeri sekali." ucapnya sambil merintih kesakitan.
Aku pun langsung tersenyum tipis saat melihat tingkahnya, benar-benar menggemaskan.
Lalu dia pun perlahan menggeser tubuhnya, kemudian menyingkap selimut yang menutupi posisi sebelumnya.
"Hah! Darah? Itu berarti?" serunya sambil terkejut, sambil melotot ke arahku.
"Hehehe, iya Sayang. Semalam aku telah berhasil meruntuhkan pertahananmu. Apa kamu melupakan kejadian semalam yang begitu sangat indah?" tanyaku sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"A-apa? Jadi aku sudah tidak-" ucapnya dengan suara parau.
Kini aku melihat matanya yang berkaca-kaca.
Lalu aku pun bergegas untuk menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Iya, Sayang. Terimakasih karena kamu telah menjaga mahkota mu hanya untukku! Terimakasih, Sayang! Terimakasih!" ucapku sambil mengecup lembut keningnya secara bertubi-tubi.
"Ja-jadi apakah setelah ini, Kak Devan masih ingin meninggalkan ku setelah surat perjanjian pernikahan kontrak itu berakhir?" tanya Andini dengan suara paraunya.
Aku yang mendengar ucapannya, kini aku langsung melepaskan pelukanku lalu membungkam bibirnya menggunakan bibirku.
Saat mataku melihat buliran bening yang menetes dari pelupuk matanya. Kini aku pun menjauhkan kembali wajahku darinya.
"Ssttt!! Jangan menangis, Sayang! Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sampai kapan pun juga. Karena kamu hanya akan menjadi milikku untuk selamanya. Tidak akan pernah ada orang lain yang akan menggantikan posisimu di hatiku. Hanya ada nama Andini Amalia yang terukir selamanya di sini." jelasku sambil menarik satu tangannya ke dadaku.
"Tap-"
"Dan untuk surat perjanjian pernikahan kontrak itu. Sudah pernah aku katakan sebelumnya, bahwa itu hanya alibi ku agar bisa mendapatkan mu. Karena aku benar-benar jatuh cinta kepadamu, Sayang. Sangat sangat mencintaimu." ucapku dengan suara lembut dan tulus.
Tiba-tiba istri mungilku pun langsung berhambur ke dalam pelukanku. Kini terasa tubuhnya bergetar karena isakan tangisnya yang kembali pecah.
"Ssttt!! Sudah ya? Jangan menangis lagi! Aku tidak suka melihat air matamu, Sayang. Aku ingin melihat mu tersenyum bahagia saat bersamaku. Apa saat ini kamu tidak bahagia saat bersamaku?" tanyaku sendu.
"Tidak, Kak! Bukan seperti itu! Aku hanya takut, setelah Kak Devan mendapatkan apa yang Kakak inginkan, Kakak akan meninggalkan Andini dan-" ucapnya yang terpotong, karena bungkaman bibirku.
Lalu aku melepaskan kembali bungkamanku, kemudian menatap dalam-dalam matanya sambil menangkupkan kedua tanganku di pipinya.
"Apa kamu pikir aku laki-laki yang tidak memiliki hati, datang dan pergi untuk menikmati setiap tubuh wanita? Apa kamu pikir aku serendah itu, Sayang? Apa kamu tidak mempercayai ketulusan ku? Setelah semua perjuangan yang aku lakukan untukmu?" tanyaku dengan suara parau.
Kini air mata Andini, kembali membanjiri pipi mulusnya. Kemudian dia pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Kak! Maafkan Andini! Karena Andini sangat takut, jika nanti ada seseorang yang hadir di antara hubungan kita. Dan dia akan merebut Kak Devan dari Andini." ucap Andini dengan suara bergetar.
Aku pun kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, siapapun itu orangnya. Jika cinta kita semakin kuat dan kita saling percaya, itu tidak akan pernah terjadi, Sayang. Percayalah kepadaku! Aku hanya milikmu dan kamu hanya milikku selamanya." ucapku dengan penuh keyakinan.
Akan tetapi, kini terbesit di pikiran ku. Di saat malam resepsi kami semalam. Yang tanpa sengaja menangkap sosok yang pernah mengisi hatiku, akan tetapi sekarang dia yang sangat 'ku benci.
'Vania.'
__ADS_1
BERSAMBUNG....