
Cafe Louva
"Oh, jadi ini wanita yang ingin kau kenalkan kepada Mama? Emn, cantik juga," Ucap bu Rahmawati, Ibu Devano.
Aku yang mendengar ucapan beliau hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Iya, Ma. Apa Mama menyetujui hubungan kami? Dan berhenti menjodohkan aku dengan anak dari teman-teman, Mama?" tanya pak Devan, sambil mengernyitkan dahi.
"Baiklah. Sebelumnya Mama ingin mengenal gadis ini terlebih dahulu. Apa kau keberatan?" tanya Mama, dengan suara lembut.
"Tentu saja boleh! Dia 'kan memang calon menantu, Mama,'' jawab pak Devan kepada ibunya.
Aku yang mendengar obrolan antara Ibu dan anak, hanya merasa kikuk.
"Oh, iya, nama kamu siapa cantik?" tanya bu Rahma dengan suara lembutnya.
"Emn, na-namanya sa-saya Andini, Bu," ucapku sambil terbata-bata.
Saat melihat aku yang sedang gugup, kini bu Rahma mengusap lembut bahuku.
"Santai saja, jangan gugup seperti itu! Ibu tidak akan menyakitimu. Ibu hanya ingin mengenal calon menantu Ibu saja,'' jelas bu Rahma dengan seulas senyum manisnya.
'Oh, pasti bahagia sekali mempunyai Ibu yang sangat perhatian, seperti Bu Rahmawati ini!' batinku.
"Baik Bu,'' jawabku singkat, dengan seulas senyum yang dipaksakan.
"Coba tarik napas panjang dahulu, lalu hembuskan perlahan. Semoga cara ini bisa sedikit menghilangkan rasa gugupmu," ucap bu Rahma lagi.
Aku pun mengikuti arahan dari beliau, sedangkan pak Devano hanya mengernyitkan dahinya, sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Nah, sudah lebih baik 'kan?" tanya bu Rahma.
"Sudah Bu," jawabku dengan seulas senyum tipis.
"Alhamdulillah! Oh ya, Andini berasal dari mana? Dan kerja dimana, Nak?" tanya bu Rahma dengan lembut.
"Emm, saya berasal dari Solo Bu! Saya bekerja di---"
"Dia menjadi asisten pribadi ku di kantor, Ma.'' Pak Devan, yang memotong ucapanku.
Aku yang mendengar ucapan pria itu pun hanya mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Pantas saja jika Devan jatuh hati kepadamu. Siapa yang bisa menolak pesona gadis cantik dan anggun sepertimu, Nak," jelas bu Rahma dengan semangat.
Aku yang mendengar pujian yang di lontarkan oleh bu Rahma, hanya tersipu malu.
"Tentu saja, Ma. Dia memang sangat cantik dan anggun, sehingga mampu menggoda iman seorang Devano Wicaksana. Bukankah begitu, sayang?" tanya pak Devano dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Aku yang mendengar ucapan pria tampan tersebut, merasa telingaku semakin memanas. Ingin rasanya aku mencabik-cabik muka yang sok polos itu.
'Huft! Seandainya tidak ada Bu Rahma, sudah habis kau Pak!' gerutuku dalam hati.
Kini tangannya menggenggam tanganku, lalu menciuminya di depan Ibunya.
"Hah!" Aku pun terkejut dengan perlakuan manisnya itu.
"Tidak perlu malu seperti itu, Nak. Wajar saja jika Devan menjadi bucin seperti itu, soalnya dia juga pernah kandas kisah cintanya, karena di khianati oleh orang yang sangat di cintainya,'' tutur bu Rahma dengan suara sendu.
"Sudahlah, Ma, jangan membahas tentang hal yang sudah berlalu! Aku tidak mau mendengar bahkan mengingatnya kembali. Sudah ku tutup rapat-rapat hati ini untuk wanita ular itu," jelas pak Devano dengan penuh penekanan.
"Oke, oke. Mama tidak akan membahas tentang hal itu. Lagi pula saat ini kau juga sudah mendapatkan ganti yang lebih baik, bukan?" tanya bu Rahma kepada putranya tersebut.
'Apa jangan-jangan wanita kemarin itu, yang di katakan wanita ular oleh pak Devano?' gumamku dalam hati.
"Oke, Andini, kapan kami bisa bersilaturahmi dengan kedua orangtuamu?" tanya bu Rahma dengan semangat.
"Lho, kenapa? Kamu tidak mau kami menemui orangtuamu?" tanyanya lagi dengan raut wajah sendu.
"Eh, iya Bu! Maaf. Bukan begitu maksud saya. Apa kalian yakin ingin singgah ke gubuk sederhana saya? Gubuk saya kecil Bu. Apa kalian tidak keberatan?" tanyaku dengan hati-hati.
"Hahaha ... memangnya kenapa, Nak? Apa kau tau! Dulu rumah kami juga sangat sederhana, dan banyak atap yang bocor, sehingga kami sulit untuk meneduh meskipun di dalam rumah. Semua itu berubah, saat Devano bertekad untuk merintis usahanya dengan susah payah. Meskipun dia dulu hanya tamat SMA, tapi kegigihannya patut di acungi jempol," jelas Bu Rahma dengan suara lembutnya.
"Benarkah?" tanyaku sambil menatap ke arah bu Rahma dan pak Devano.
Pak Devano pun hanya mengedikkan bahunya.
"Iya, Nak. Jadi kau jangan berkecil hati ya! Seperti apapun bentuknya, rumah akan menjadi tempat ternyaman untuk kembali pulang,'' jelas bu Rahma lagi.
Aku yang mendengar ucapan bu Rahma, hanya mampu menundukkan kepala.
"Andai saja semua rumah terdapat kasih sayang yang tulus, pasti penghuni di dalamnya akan selalu merasakan kebahagiaan bukan kehampaan," ucapku lirih hampir tak terdengar, hingga buliran bening di mataku tak terasa menetes.
"Kamu bicara apa tadi, Nak?" tanya bu Rahma dengan suara lembut.
__ADS_1
Aku pun buru-buru menghapus air mataku, lalu mendongakkan kepalaku, dengan seulas senyum tipis yang ku paksakan.
"Ah, tidak apa-apa Bu," jawabku dengan lirih.
"Tapi kenapa kau menangis, Nak? Apa tadi Mama salah berbicara?" tanya bu Rahma dengan hati-hati.
Aku pun langsung menggelengkan kepala cepat.
"Tidak Bu, maafkan saya. Mungkin saya yang terbawa perasaan saja," jelasku dengan seulas senyum tipis.
"Emm, baiklah kalau begitu, pesanan kita sudah datang. Lebih baik kita makan dahulu, dan melanjutkan mengobrolnya nanti," ucap bu Rahma dengan suara lembutnya.
Aku dan pak Devano pun menganggukkan kepala secara bersamaan. Kini suasana pun terasa hening, hanya suara dentingan alat makan yang saling beradu. Setelah selesai makan, kami pun melanjutkan obrolan yang tadi tertunda.
"Ma, bagaimana kalau minggu ini kita ke rumah Andini? Bukankah lebih cepat lebih baik?" tanya pak Devano dengan antusias.
"Emn, kalau Mama sih setuju saja! Bagaimana dengan Andini? Apa kau keberatan jika minggu ini kami bersilaturahmi sekaligus melamarmu kepada orang tuamu?" tanya bu Rahma kepadaku.
Aku yang mendengar pertanyaan bu Rahma pun tersedak saat sedang meminum-minumanku.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk ...."
'Kenapa Ibu dan anak kompak sekali sih? Kenapa aku di sini seperti orang bodoh, yang harus mengikuti kemauan mereka?' gerutuku dalam hati.
"Apa saya boleh mengatakan terlebih dahulu kepada orang di rumah, Bu? Agar mereka mempunyai persiapan dan tidak merasa terkejut nantinya!" tanyaku dengan hati-hati.
"Baiklah, tidak masalah. Yang terpenting kami tidak merepotkan kalian saja. Dan yang terpenting, kalian tidak perlu mempersiapkan apapun! Karena kami yang akan menanggung semuanya nanti. Kamu mengerti?" jelas bu Rahma dengan suara lembut.
Aku pun terperangah mendengar ucapan bu Rahma.
'Apa Bu Rahma sadar, jika itu terlalu berlebihan? Andai saja aku bisa menolaknya dengan cara halus, mungkin aku akan melakukannya. Tapi sayang, kenapa sulit sekali menolak setiap ucapan Bu Rahma?' gumamku dalam hati.
"Iya Bu, saya mengerti," jawabku dengan seulas senyum.
"Baiklah, sayang, sekarang sudah malam, kami akan mengantarkanmu pulang terlebih dahulu ya. Besok kita akan bertemu kembali di kantor. Jadi kau jangan bersedih saat kita berpisah nanti! Aku sangat menyayangi!" Pak Devano mendekat dan mengecup lembut keningku di depan Ibunya.
"Ah, kalian ini! Jangan membuat Mama iri deh?" Goda bu Rahma.
Aku pun masih diam mematung, tanpa menjawab ucapan bu Rahma.
"Andini ayang, ayo!" ajak pak Devano, yang kini membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Oh, iya."
BERSAMBUNG....