
"Sayang?"
Devan yang merasa sangat terkejut dengan gerakan tiba-tiba istrinya. Kini dia pun langsung pasang badan untuk menahan tubuhnya sendiri yang mendapatkan serangan dadakan dari sang istri tercinta.
"Sayang, apakah kamu-"
"Maafkan aku, Kak! Aku tau jika sikap ku sudah sangat keterlaluan, bahkan beberapa hari ini aku selalu mengabaikan Kak Devan. Dan seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Maafkan aku! Jika aku sudah menjadi istri dan buruk untuk kalian. Aku memang wanita Bodooh yang tidak memiliki pendirian dan prinsip di dalam hidupku. A-aku hanya wanita yang sangat lemah dan tidak percaya diri, Kak." racau Andini yang saat ini masih berada di dalam pelukan Devan.
Devan pun semakin mengeratkan pelukannya, dia juga sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pelukan mereka. Rasa tenang dan damai yang sempat hilang dari dalam dirinya. Kini rasa itu hadir kembali setelah istrinya kembali menerimanya.
__ADS_1
"Ssstt! Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, Sayang. Karena aku telah membawamu ke dalam kehidupan ku yang masih terlihat kacau. Bahkan aku sendiri juga belum bisa menjadi pemimpin, suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Tetapi setelah kejadian ini, aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Agar kesalahpahaman seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi diantara kita, dan kita bisa hidup bahagia bersama dengan Arvin." tutur Devan dengan penuh kasih sayang.
Andini pun semakin terisak, karena ucapan suaminya. Dia juga memaki dirinya sendiri yang belum sepenuhnya mempercayai suaminya. Padahal suaminya benar-benar tulus mencintai dan menyayangi dirinya.
Rahma yang melihat momen yang sangat mengesankan itu, hanya bisa menitikkan buliran bening dari pelupuk matanya. Rasa bahagia pun saat ini sedang menyelimuti hatinya, saat melihat putra semata wayangnya kini kembali mendapatkan kebahagiaan yang sempat redup karena kesalahpahaman itu.
Dengan gerakan cepat, Devan langsung menggendong tubuh mungil istrinya untuk dipindahkan ke atas ranjang. Dia ingin istrinya untuk beristirahat, setelah mengalami guncangan hebat karena kejadian yang terjadi sebelumnya.
Cup!
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, dan setelah itu kita akan bermain dengan si tampan Arvin. Dia sangat merindukan kehangatan darimu, Sayang. Dia sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang dari Bundanya. Apakah kamu tidak merindukan putra tampan kita?" ujar Devan sambil membelai surai rambut Andini.
"Em, bolehkah jika Arvin tidur di sampingku? Aku ingin sekali tidur sambil memeluknya. Aku benar-benar sangat merindukannya, Kak. Aku mohon!" pinta Andini sambil menggenggam tangan Devan.
Devan pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia juga ingin melihat perkembangan istrinya, setelah kehadiran putra tercinta mereka.
"Tentu saja boleh, Sayang. Arvin itu putra kita. Jadi dia juga harus berada di dekat kita. Dan aku berharap jika keluarga kecil kita akan bahagia dan lengkap karena kehadiran malaikat kecil itu." ucap Devan dengan suara lembutnya.
"Biar Mama saja yang mengambil Arvin. Nanti Mama yang akan mengantarkannya kemari. Jadi untuk sementara waktu, lebih baik kalian menghabiskan waktu bersama terlebih dahulu." usul Rahma.
__ADS_1
"Terimakasih, Ma, Kak. Kalian memang yang terbaik. Kalian memang tau apa yang aku mau. Bahkan kalian juga sangat peka dengan apa yang aku rasakan. Semoga kita bisa hidup bahagia, dan dihindarkan dari berbagai macam godaan yang akan menghancurkan keluarga kita." ucap Andini dengan suara bergetar.
"Iya, Sayang. Kalian tunggulah! Mama akan segera kembali." ucap Rahma dengan seulas senyum.