
Devano.
Kehadirannya kembali adalah suatu hal yang sangat paling aku benci. Ya, dia adalah Vania Rinjani. Mantan kekasih sekaligus pengkhianat cinta yang pernah aku puja dan aku banggakan.
Jika melihat dia saat ini, sama seperti membuka luka yang susah payah ku pendam rapat-rapat. Kini dia hadir kembali setelah beberapa tahun menghilang bagai di telan bumi. Akan tetapi, untuk apa sekarang dia muncul kembali di hadapanku.
Kini kehadirannya bagaikan tamu yang tak di undang.
Aku sangat muak melihat gelagatnya yang sangat menjijikkan.
"Maaf Pak, saya sudah menahannya agar tidak masuk. Akan tetapi, Nona ini memaksa untuk tetap masuk,'' ucap sekertarisku dengan tubuh sedikit gemetar.
Aku pun hanya memberikan isyarat padanya agar keluar dari ruangan.
"Untuk apa kau kembali? Apa kau belum puas membuat luka yang sangat dalam di hatiku?" tanyaku dengan menatap tajam ke arahnya.
"Aku ke sini ingin meminta maaf kepadamu, Van. Aku ingin kita memulainya dari awal. Aku janji, aku tidak akan mengkhianatimu lagi," ucapnya sambil berjalan ke arahku.
"STOP! Berhenti di situ! Jangan coba-coba untuk mendekat ke arahku. Aku sudah merasa jijik denganmu. Apa kau lupa bagaimana dulu kau bermain api di belakangku, dengan rekan kerjamu pada malam itu? Oh, apa kau kurang puas dengan pelayanan ranjang yang dia berikan?" marahku dengan nada meninggi.
"Tolong maafkan aku, Van. Aku benar-benar menyesal!" jawabnya sendu dengan tangisan palsu.
Aku pun menyunggingkan bibirku ke atas.
"Hah! Apa, menyesal? Setelah kau merasa puas dengan bajingaan itu, kau baru bilang menyesal sekarang?" terangku dengan lantang.
Tanpa ku sadari bahwa, Andini masih berada dalam ruanganku. Dia hanya terdiam tanpa beranjak dari tempatnya.
"Bukan seperti itu Van, biar aku jelaskan dulu semua kepadamu. Tolong dengarkan aku dulu!" Dia berkata sambil duduk bersimpuh di depanku.
"AKU TAK BUTUH PENJELASAN APAPUN DARI MULUT KOTORMU! BAGIKU KAU SUDAH MATI. JADI KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG! DAN JANGAN COBA UNTUK KEMBALI LAGI! JIKA KAU TIDAK INGIN MENYESAL SEUMUR HIDUPMU!'' usirku dengan amarah yang berapi-api, seperti bom waktu yang telah meledak.
"Van."
"CUKUP! PERGI SEKARANG JUGA! APA KAU SUDAH TULI?!" marahku dengan nada semakin meninggi.
Kini Vania pun bangkit, dan berjalan keluar dengan menghentakkan kakinya. Aku yang masih meredam amarahku pun, masih belum menyadari kehadiran Andini di sampingku.
.
.
"Maaf Pak, silahkan di minum dulu!" Andini menyerahkan segelas air padaku.
__ADS_1
''Pelan pelan, Pak.''
Aku pun langsung membelalakkan mata.
'Berarti dia melihat dan mendengar semua kejadian tadi? Astaga!' gumamku dalam hati.
"Sejak kapan kau di sini?" tanyaku dengan nada datar.
"Bukankah sejak tadi saya memang berada di ruangan ini, Pak? Pak Devano juga tau 'kan kalau saya tadi bilang ingin melanjutkan pekerjaan saya yang tertunda,'' jawabnya dengan nada santai.
Aku pun terdiam sejenak.
"Kejadian tadi, anggap saja kau tidak tau, apalagi mendengarnya. Dan jangan sampai kejadian tadi sampai tersebar keluar. Apa kau paham?" tegasku dengan tatapan tajam ke arahnya.
Andini pun masih terlihat santai, tanpa merasa takut sedikitpun.
"Baik, sesuai dengan perjanjian tadi. Saya tidak akan mencampuri urusan Anda, apalagi ikut campur dalam permasalahan Anda,"jelasnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Bagus, sekarang lanjutkan pekerjaanmu, dan sementara jangan ganggu saya dulu! Jika sudah selesai, kau bisa beristirahat di sofa!" titahku sambil menyandarkan kepalaku.
Kini Andini pun berlalu dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ku pandangi langit-langit dalam ruangan kerjaku.
'Kenapa dia harus datang kembali lagi, di saat aku sudah mendapatkan obat luka di hatiku? Sungguh tak pernah berharap sedikitpun dari wanita murahaan itu setelah pengkhianatan yang telah dia lakukan,' gumamku dalam hati.
Lalu ku gulirkan layarnya untuk mencari aplikasi hijau dan mencari nama seseorang.
"Halo," sapaku saat telepon tersambung.
(............)
"Gue mau ketemu lo di tempat biasa, sekarang!" titahku dengan nada tegas.
(...........)
"Oke! Gue tunggu kedatangan lo secepatnya!"
Setelah mendapatkan jawaban dari seseorang itu, aku pun memutuskan panggilan suara kami. Kini aku bangkit dari tempat dudukku, lalu berjalan ke arah Andini.
"Saya mau keluar dulu, ada hal yang sangat penting untuk segera saya bereskan. Dan selama saya tidak ada, kamu tetap berada di ruangan saya dan jangan kemana-mana, kecuali atas izin saya. Apa kamu mengerti?" tuturku dengan nada tegas.
"Baik Pak, sesuai dengan perintah Anda. Saya akan tetap di sini sampai Anda kembali," jawabnya dengan nada datar.
Aku pun beranjak pergi meninggalkan ruangan kerja ku. Kini aku menuju ke tempat parkir, lalu mengendarai mobilku dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
_______###________###_______
Cafe R*Star
Setelah tiba di lokasi, aku pun bergegas masuk dan memesan ruangan khusus. Tak berselang lama, kini seseorang yang aku nantikan kehadirannya pun sudah datang.
"Tumben lo lambat banget datangnya?" tanyaku dengan nada dingin.
"Eitss, tunggu! Kenapa lo jadi kayak es gini sih bro ke gue? Dingin banget! Seperti ada sesuatu yang ngga beres sama lo?'' tanya Daniel dengan heran.
Ya, orang yang tadi menerima panggilan suara dariku adalah Daniel. Karena hanya dia satu-satunya orang yang aku percaya.
"Ngga usah bertele-tele, gue mau langsung ke inti masalahnya aja. Tadi Vania datang ke kantor gue," kataku masih dengan nada dingin.
"Hah, apa Dia nemuin lo lagi? Bener-bener tuh cewek, gak ada rasa bersalah sedikitpun? Aku rasa, dia udah gak waras?!'' terang Daniel dengan lantang, kini suaranya benar-benar memekakkan telingaku.
"Woy, lo bisa pelan-pelan aja ngga sih ngomongnya? Telinga gue masih normal bro, jadi lo ngga perlu teriak-teriak gitu,'' terangku sambil menutup telingaku yang berdengung.
"Hehe, sorry bro. Reflek gue. Habisnya gue beneran kaget sih. Terus dia bilang apa aja bro?" tanyanya sambil menumpukan kedua tangannya di atas meja.
Aku pun menghela napas panjang.
"Dia minta maaf ke gue, dan minta balikan lagi sama gue,'' jelssku sambil melipat kedua tangan di dada.
Daniel pun membelalakkan matanya.
"Apa! Terus lo setuju?" tanyanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Ya ngga lah. Gue masih waras kali bro, masa iya gue mau mengulang kejadian yang sama lagi. Kayak ngga ada wanita lain aja di dunia ini?'' jawabku dengan nada santai.
"Bagus. Ini baru Devan yang gue kenal. Terus lo mau apa ngajak gue ketemu di sini? Apa ada tugas lagi buat gue?" tanyanya dengan rasa penasaran.
"Tentu saja! Emang gue pernah ngajak ketemu lo, dan ngebiarin lo pulang gitu aja tanpa tugas?" kekehku sambil menyunggingkan senyum.
"Sudah gue duga, pasti bakalan gue lagi yang harus turun tangan dengan masalah lo,'' terangnya dengan nada malas.
"Kalo gue harus turun tangan sendiri, gue ngga perlu manggil lo ke sini. Gue langsung babat aja tuh orang sekalian,'' jelasku dengan seulas senyum sinis.
"Yaelah bro, kayaknya hari ini lo emang ngga bisa sedikit di ajak bercanda deh. Terlalu serius amat sih hidup lo? Yaudah, lo mau gue ngelakuin apa sekarang?" tanyanya dengan nada serius.
"Oke, gue akan kasih tau tugas lo sekarang.''
BERSAMBUNG.....
__ADS_1