
Disaat Devano sedang kelimpungan mencari sosok wanita yang sangat dia cintai. Di lain sisi Andini justru sedang merasakan sebuah kebahagiaan baru, yang dia dapatkan dari Bi Sarah atau lebih tepatnya Bibi dari Pak Purnomo, sang sopir taksi yang beberapa hari yang lalu, telah menolong sekaligus menawarkan tempat tinggal kepada Andini.
"Kamu sedang apa, Sayang? Kenapa kamu terlihat sangat sibuk sekali?" tanya Bi Sarah dari arah belakang.
Andini yang sedang menyiangi sayuran, kini hanya menoleh sambil tersenyum. Kemudian tangan lincahnya pun bergerak kembali, dan dengan sigap Bi Sarah pun langsung membantu Andini.
"Kenapa kamu melakukannya sendiri, Sayang? Kenapa kamu tidak memanggilku, agar kita bisa melakukan bersama? Jangan sampai kamu kelelahan karena banyak melakukan pekerjaan di rumah ini. Jaga kesehatan dan keselamatan mu dan bayimu, Sayang. Aku juga ingin menantikan kelahirannya." ujar Bi Sarah.
Andini pun merasa terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Bi Sarah kepadanya. Dia yang baru beberapa hari bertemu dengan wanita bertubuh gempal ini, sangat merasa bersyukur. Karena Bi Sarah selalu saja memperhatikan semua kegiatan yang dia lakukan.
"Iya, Bi. Aku hanya mengerjakan semua yang ringan saja. Dan memasak pun juga tidak akan membuatku kelelahan. Aku minta maaf ya, Bi? Karena selama beberapa hari aku tinggal di sini, aku selalu merepotkan Bi Sarah." ucap Andini dengan suara merendah.
Bi Sarah pun menghentikan aktivitasnya, lalu menghampiri Andini yang saat ini sedang duduk bersebrangan dengannya. Perlahan tangannya terlentang, dan berharap jika wanita muda yang sedang hamil itu memeluknya.
Dan benar saja, saat Bi Sarah merentangkan kedua tangannya. Andini dengan mata yang berbinar langsung berhambur ke dalam pelukan Bi Sarah.
"Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian. Aku berharap selalu bisa mendampingi mu dan anakmu kelak, Sayang. Dan suatu saat aku sangat yakin, jika kebahagiaan yang sesungguhnya akan datang kembali kepadamu." ujar Bi Sarah.
Andini yang saat ini masih berada di dalam pelukan Bi Sarah, sudah tak mampu untuk menahan buliran bening yang sudah sangat memenuhi pelupuk matanya.
"Apa kamu menangis, Sayang? Oh... maafkan Bibi jika sudah membuatmu bersedih!" desah Bi Sarah saat merasakan bajunya sedikit basah.
"Terimakasih, Bi. Seharusnya aku yang meminta maaf kepada Bi Sarah. Karena aku disini hanya akan menjadi beban untuk Bibi, apalagi jika nanti bayiku lagi. Pasti Bibi akan semakin kerepotan karena ku." ucap Andini dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Bi Sarah pun sedikit mengeratkan pelukannya. Entah mengapa, sejak pertama kali bertemu dengan Andini, wanita paruh baya itu selalu bahagia.
"Oh... Iya. Bibi hampir lupa! Apakah kamu sudah memeriksakan kandungan mu?" tanya Bi Sarah yang mencoba untuk mengalihkan perhatian Andini.
Andini langsung menggelengkan kepala saat masih berada di dalam pelukan Bi Sarah. Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas panjang.
"Setelah selesai memasak dan makan siang, aku akan menemani mu untuk memeriksakan kandungan mu, Sayang. Kita harus mengeceknya secara rutin, agar bisa selalu melihat dan memantau perkembangannya." jelas Bi Sarah.
Andini hanya menganggukkan kepalanya, dan menuruti semua kata-kata yang membuatnya kembali tersadar, jika kehadiran bayinya adalah sebuah kebahagiaan yang baru untuknya nanti. Setelah apa yang telah dialami sebelumnya.
'Kamu apa kabar, Kak Devan? Apakah kamu saat ini sedang mencari ku, atau justru sedang bersenang-senang dengan wanitamu itu setelah kepergian ku? Apakah kamu bahagia jika aku tidak ada di sampingmu lagi, Kak?' batin Andini.
Andini yang saat ini sedang merindukan sosok ayah dari calon buah cinta mereka, hanya bisa pasrah dan menghela napas berat. Dia ingin melupakan sosok yang selalu membuat hidupnya berwarna, meskipun harus redup kembali.
.
.
"Van, tenangkan dirimu, Nak! Mama yakin dia pasti baik-baik saja. Dia pasti bisa menjaga dirinya, dan juga calon bayi kalian. Mama sangat yakin itu." ucap Rahma, yang mencoba untuk menenangkan putra semata wayangnya.
Devan yang saat ini sangat terlihat kacau, hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Seandainya saja dia tidak pergi di saat itu, pasti saat ini dia masih bersama dengan istri tercintanya.
"Semua ini salah Devan, Ma. Devan memang suami yang bodoh dan tidak peka terhadap firasat seorang istri. Seharusnya Devan mengajak Andini di saat itu, untuk meminimalisir terjadinya kesalahpahaman ini." cetus Devan.
__ADS_1
Rahma yang sudah kewalahan untuk menghadapi putranya saat ini, langsung menghubungi Daniel untuk meminta bantuan kepada sahabat Devan, yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri.
Saat sering pertama panggilan masuk, Daniel pun langsung menjawabnya dengan suara lembut dan sopan.
"Halo, Daniel?"
"Iya. Halo, Ma. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Jika ada waktu, tolong kemarilah! Devan saat ini benar-benar sangat kacau, Nak. Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri, atas menghilangnya Andini." ujar Rahma, sambil menatap nanar putranya.
"Baik, Ma. Daniel akan segera kesana. Tolong tunggu, Daniel!"
"Baiklah. Terimakasih, Nak."
Akhirnya panggilan suara pun berakhir.
Rahma masih setia menemani putranya, meskipun dia tidak tau harus berbuat apa.
Setelah menunggu 15 menit, akhirnya Daniel pun tiba di sebuah rumah bertingkat tiga, dengan halaman yang sangat luas dan tertata rapi.
"Ada apa, Ma? Kenapa kamar Devan menjadi berantakan seperti ini? Apakah semua barang dia hancurkan dengan mudahnya?" tanya Daniel kepada Rahma.
BERSAMBUNG....
__ADS_1