
"Halo, Bro."
"Iya, gimana? Lo udah ngumpulin semua informasi yang gue butuhin 'kan? Gue mau semua harus detail dan jangan sampai terlewatkan. Lo pasti paham 'kan?" tanyanya tanpa basa-basi.
Sudah kuduga, sifatnya yang tidak sabaran dan to the point kini dia tunjukkan. Aku pun hanya bisa menghela napas panjang.
"Santai dulu napa, Bro. Nggak sabaran banget sih jadi orang. Kalo lo mau tau semuanya, temuin gue di cafe biasa. Gue tunggu dalam 15 menit,'' jawabku dan langsung mematikan sambungan telepon.
Aku pun langsung mengambil kunci mobil dan bergegas untuk ke tempat yang sudah kusebut tadi.
Lalu, aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun.
_________###_______###______
Cafe R*Star
Saat ini aku sudah tiba di lokasi, tak berselang lama Revan pun menyusul ku dari belakang.
Tanpa basa-basi ku sodorkan satu map yang cukup tebal kepadanya. Yang berisi beberapa informasi dan beberapa lembar foto yang mungkin diperlukan olehnya.
"Gimana? Apa lo puas dengan hasil kerja gue sekarang? Lo hanya memberikan waktu gue sehari, dan sekarang belum ada sehari gue udah dapat semua informasi yang lo perlu. Ingat! Seperti biasa jangan lupa transfer bonus gue," kataku santai sambil menunggunya membolak-balik kertas-kertas itu.
"It's okay. Lo emang paling bisa gue andelin. Tenang aja, gue bakal kasih bonus 2x lipat. Karena lo bisa kerja lebih cepat dari waktu yang gue kasih," jawabnya sambil menyeringai.
"Sebenarnya tujuan lo apa sih bro? Kenapa lo harus repot-repot mencari informasi tentang cewek itu? Lo suka sama dia? Nggak biasanya lo seperti ini? Gak seperti saat--'' heranku dengan nada penasaran.
Lalu Devan pun memberikan aku tatapan tajam.
__ADS_1
"Sekali lagi lo sebut cewek murahaan itu, gue bakal tonjok muka lo saat ini juga!" ancamnya dengan tatapan berapi-api.
Ya, aku memang tahu bagaimana perjalanan asmara seorang Devano Wicaksana. Dia telah menjalin hubungan dengan seorang wanita selama tiga tahun. Akan tetapi ternyata wanita itu bermain belakang dengan rekan kerjanya sendiri. Sungguh benar-benar miris kisah asmara sahabatku ini.
"Iya, iya. Gue diem Bro. Tapi lo harus jujur ke gue, dan jangan sembunyikan apapun dari gue. Sesuai dengan perjanjian kita tadi pagi," ucapku dengan penuh penekanan.
Devan pun menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang.
"Entahlah, Bro. Sepertinya hati kecil gue pengen banget ngelindungin dia. Firasat gue bilang, ada yang tidak beres dengan kehidupan cewek itu. Dan setelah gue udah dapat semua informasi dari lo, ternyata firasat gue memang nggak salah," jawabnya dengan nada santai.
Aku pun masih terdiam dan memberikannya ruang untuk bercerita kembali.
"Tadi siang gue udah ngambil paksa ciuman pertamanya Bro. Dan gue juga ngajuin perjanjian nikah kontrak sama dia. Tapi dia belum ngasih keputusan, dia sepertinya marah sama gue," lanjutnya lagi.
Aku pun langsung menegakkan dudukku karena merasa sangat terkejut.
"Apa Lo sudah gila bro? Atau Lo memang sudah benar-benar udah nggak waras? Pantas saja dia marah sama lo. Ciuman pertamanya lo embat gitu aja," jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sudah menjadi hal biasa bagi kami jika menjalin hubungan dengan seorang wanita, ciuman adalah sebuah kewajaran dalam pergaulan yang kami jalani.
"It's okay. Tapi apa lo nggak bisa bedain mana cewek lugu dan polos, sama cewek yang udah terbiasa dengan pergaulan kita. Dan asal lo tau Bro, cewek yang namanya Andini itu sudah sangat terluka oleh perlakuan ibu kandungnya sendiri. Jadi saran gue, kalo lo mau ngejaga dia, lakukan dengan setulus hati, bukan atas dasar rasa kasihan. Kalau lo nggak mau, buat gue aja cewek itu Bro. Pasti bakalan gue jaga dengan sepenuh hati gue," kataku sambil mengerlingkan sebelah mataku.
Devan memberikan tatapan tajam padaku. Akan tetapi aku sama sekali tidak gentar, karena aku sudah tau bagaimana sifat asli sahabat ku itu.
"Apa lo mau cari masalah sama gue? Kalo lo sampai berani menyentuh dia sedikitpun, gue pastiin lo bakal masuk ke Rumah Sakit. Jadi gue saranin, jangan ikut campur dalam urusan gue saat ini. Urusan lo udah selesai dan bonus akan segera gue transfer. Lo bisa cabut sekarang!" usirnyandengan nada ketus.
"Baik. Tapi ingat ya Bro, kalo lo udah bosan nanti, jangan lupa kasih ke gue. Gue siap nampung dia meskipun bekas lo," kataku kemudian berlalu meninggalkan Devan sendirian.
__ADS_1
Setelah tugasku selesai, aku pun melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Untuk menghilangkan kejenuhan, aku memutar musik untuk menemani perjalanan seperti biasa.
Saat aku sedang asyik bersenandung kecil, tanpa sengaja aku melihat sosok wanita yang sedang duduk di sebuah warung pecel lele. Dan ketika mobilku mendekat, aku pun segera memelankan laju mobilku. Ku lihat sesaat wanita itu.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita itu? Tapi dimana? Ahh, mungkin hanya perasaanku saja," gumamku.
Lalu aku pun melanjutkan perjalanan menuju ke apartemen. Sungguh sangat melelahkan hari ini. Jika saja Devan bukan sahabat karibku, mungkin sudah masa bodoh aku dengan masalahnya.
Meskipun sikap dan sifatnya yang begitu keras seperti batu. Akan tetapi dibalik semuanya, ada sisi baik yang Devan miliki. Yaitu rasa kasih sayang dan sebuah ketulusan.
Meskipun dia sering bersikap dingin padaku, akan tetapi kesetiakawanan-nya patut di acungi jempol.
Aku sudah mengenalnya sangat lama dan paham bagaimana pengorbanan dan perjuangan sosok seorang Devano Wicaksana. Sampai bisa menjadi sukses seperti sekarang ini.
Kini aku sudah tiba di apartemenku. Aku membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum membaringkan tubuhku di ranjang. Tempat ternyaman untuk melepas rasa lelah.
Setelah selesai, aku langsung membaringkan tubuh untuk merilekskan otot-otot yang tegang.
"Ah, nyaman sekali," gumamku.
Sesaat kemudian, aku teringat dengan sosok wanita yang ku lihat di warung pecel lele tadi. Buru-buru aku bangun dari tidur, dan menegakkan tubuh.
'Bukankah wanita itu yang diceritakan Devan tadi? Jika dia orangnya, berarti dia tinggal tidak jauh dari tempat itu. Gue harus mencari tahu lebih lanjut lagi,' batinku dengan penuh semangat.
Sesaat akupun mengingat perkataan Devan, tentang ciuman pertama paksa yang di lakukan olehnya.
"Sungguh, benar-benar wanita yang sangat menarik dan membuat penasaran," ucapku sambil menyunggingkan bibirku.
__ADS_1
Malam pun semakin larut, dan rasa kantuk kini mulai menyerangku. Dan ku putuskan untuk membaringkan tubuhku di atas ranjang. Tak butuh waktu lama, aku pun terlelap.
BERSAMBUNG......