Istriku Bukan Pembawa Sial!

Istriku Bukan Pembawa Sial!
Tawaran Pak Devano


__ADS_3

Tak bisa ku pungkiri bahwa aku sangat bahagia saat berada dalam pelukan pak Revandra. Seseorang yang selama ini diam-diam aku cintai. Ya, aku memang sudah menaruh hati padanya sejak pertemuan pertamaku dengannya. Bisa di bilang cinta pada pandangan pertama.


Akan tetapi, yang aku tidak suka darinya adalah ciuman pertamaku telah di ambil dengan sengaja olehnya.


Aku pun merasa terkejut dengan perlakuan tiba-tiba darinya. Saat dia memeluk erat tubuhku, ada rasa nyaman dan gejolak dalam diriku menjadi satu. Entah apa yang sebenarnya terjadi.


Seusai kejadian tadi, aku hanya diam membisu saat berada di sampingnya untuk menemaninya lembur malam ini.


"Uhhuk! Uuhuk!''


Pak Devano kini terbatuk-batuk, entah dia sengaja atau tidak untuk mencari perhatian dariku. Aku pun bergegas untuk mengambilkannya minuman.


"Silahkan di minum dulu Pak!!" ucapku datar. Lalu ku sodorkan gelas dalam genggaman ku.


"Terimakasih," jawabnya singkat.


Kini pandangan kami saling bertemu kembali.


Lalu aku langsung memalingkan wajahku kembali. Aku tak boleh goyah lagi, cukup dia memeluk dan mengambil ciumanku yang pertama.


Aku masih marah padanya. Jika saya tidak ada perjanjian yang telah aku sepakati dengannya.


Mungkin aku sudah meninggalkan ruangannya sejak tadi. Tapi apalah dayaku, jika aku sampai melanggar poin-poin perjanjian itu, maka aku harus bersiap untuk di keluarkan dari kantor ini.


Ku hembuskan napas perlahan.


'Apakah dia sering melakukan ciuman kepada setiap wanita yang di temuinya? Apakah dia juga suka mempermainkan perasaan wanita? Tidak! Aku tidak boleh memendam terlalu lama perasaan ini padanya. Aku takut jika terluka, bahkan luka yang di torehkan oleh ibuku sendiri pun masih berbekas di dalam hatiku.' batinku.


Kini aku harus menekan paksa hatiku agar tidak terlalu jauh memendam perasaan ku ini pada Pak Revandra.


Kami ini berbeda. Dia seorang CEO terkenal di kalangan bisnis dan idaman para wanita-wanita cantik dan berkarir, sedangkan aku hanyalah sebuah butiran debu yang tak layak untuk bersanding dengan seorang Raja.


Ahh ... Aku tidak boleh berkhayal terlalu tinggi. Jika nanti aku terjatuh, pasti akan terasa sangat menyakitkan.


Saat aku sedang asyik dengan lamunanku sendiri. Tiba-tiba Pak Revandra mengejutkanku.


"Hei, jangan melamun! Sejak tadi aku mengajakmu berbicara. Kenapa kau justru malah melamun?" tanyanya sambil menautkan kedua alisnya.


"Eehh, eum, ma-maaf Pak," ucapku lirih sambil menunduk.


Dia pun menghela napas perlahan.

__ADS_1


"Hmm, apa kau sedang memiliki masalah? Atau justru sedang memikirkan kejadian tadi? Apa kau ingin mengulangi lagi?" tanya pak Revandra dengan seringai liciknya.


Aku pun membelalakkan mata dan tubuh ini rasanya seperti memanas. Entahlah mungkin sekarang wajahku sudah memerah.


"Ti-tidak Pak. Saya tidak memikirkannya." jawabku lalu memalingkan wajah darinya.


Lalu dia mulai mendekatkan kursinya ke arahku.


Jujur saja, saat ini rasanya jantungku seperti ingin melompat. Kini aku pun gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran.


Sungguh aku benar-benar tidak bisa menahan rasa gugup ini. Perlahan dia pun mendekatkan wajahnya ke arahku.


Kini hembusan napasnya yang hangat dan aroma mint dari mulutnya menerpa wajahku. Saat ku menatap lekat wajahnya. Aku benar-benar terpesona akan ketampanan yang dimilikinya.


Hidung mancung, kulit putih, bibir tipis, dan mata elangnya yang kini kembali menghipnotisku.


"Apa kau ingin saya berikan sebuah tawaran, agar masa hukuman mu segera selesai?" tanyanya perlahan, tepat di depan wajahku.


Aku pun masih tak bergeming.


"Jika kau menyetujui perjanjian yang saya berikan, saya akan membebaskanmu dari semua hukuman ini. Akan tetapi kau harus mengikuti aturan baru dari saya!" tekannya dengan lirih tepat di sebelah telingaku.


Kini hembusan napasnya membuat tubuhku kembali memanas dan menegang. Saat aku sengaja menoleh ke arahnya, kini hidung kamipun hampir bersentuhan kembali.


Kini bibir kami kembali menempel, akan tetapi kali ini pak Devano tak hanya diam seperti awal. Perlahan bibirnya mulai bermain, lalu tangannya pun perlahan sedikit menekan tekuk leherku.


Aku yang awalnya hanya terdiam, kini mulai mengikuti gerakan bibir pria itu. Jujur, ini adalah pengalaman pertama bagiku.


Aku yang masih sangat kaku, dengan perlahan dan hati-hati Plpak Devano mulai memperdalam ciumaannya. Sehingga napas kami semakin memburu, aku yang kini tak bisa mengendalikan diri karena merasakan sesuatu yang bergejolak dalam diriku.


Aku tak ingin munafik, jika kini aku benar-benar hanyut dan terbuai dengan ciuuman lembut darinya.


Tak berselang lama kemudian, aku pun seperti kehilangan pasokan oksigen untuk bernapas. Seketika aku pun tersengal.


Lalu dia pun langsung melepaskan pagutan bibir kami.


"Apa kau tidak apa-apa? Saya minta maaf," ucapnya dengan nada khawatir.


Aku pun menggelengkan kepala dan kembali memalingkan wajah ku darinya. Kini tangannya pun menyentuh daguku, kemudian menarik ke arahnya. Dan mata kami pun saling bertatapan kembali.


"Bagaimana rasanya? Apakah kau juga menikmatinya? Apa kau ingin mengulanginya lagi?" tanyanya dengan nada lirih.

__ADS_1


Aku pun langsung menepis tangannya.


"Jangan macam-macam Pak! Ingat, Anda adalah seorang CEO di sini. Apakah pantas jika CEO bermesraan dengan seorang office girl seperti saya? Bagaimana jika nanti ada orang melihat? Apa kata mereka nanti?" ucapku sambil menatapnya tajam.


Kemudian dia memegang kembali daguku.


"Saya tidak peduli! Jika pun ada orang yang berani untuk mengatakan hal yang tidak-tidak kepada saya maupun kau. Aku akan memberikan sanksi tegas bagi siapapun itu!'' ucapnya tegas.


'Sebenarnya apa mau Pak Devano? Apa yang sedang dia rencanakan padaku? Dan mengapa dia tidak jijik denganku, sampai dia bertindak jauh seperti tadi?' batinku.


"Apa kau mau menerima sebuah tawaran dari saya?" tanyanya dengan wajah datar.


"Tawaran seperti apa yang Pak Devano maksud?" tanyaku penuh selidik.


"Menikah kontrak dengan saya selama enam bulan. Dan akan saya bebaskan kau dari semua hukuman ini. Tenang saja, saya tidak akan meminta hak saya kepadamu. Saya hanya sudah lelah dengan berbagai bentuk perjodohan dari ibu saya. Jika kau bersedia, maka semua kebutuhanmu akan menjadi tanggungjawab saya nanti." jelasnya dengan ekspresi datar.


Mataku langsung membulat sempurna.


'Tawaran macam apa ini? Apa dia pikir pernikahan hanya untuk di permainkan? Sungguh aku tak mengerti bagaimana dengan pola pikir dari seorang CEO yang terkenal dingin dan arogan ini?' batinku dengan heran.


"Bagaimana? Apa kau terima tawaran saya ini? Saya tidak akan menuntut apapun darimu. Bahkan saya juga tidak akan menyentuhmu terlalu jauh. Nanti kita akan tinggal di kamar terpisah, jika kau takut saya akan berbuat yang tidak-tidak,'' sambungnya dengan santai.


"Apa Anda pikir, pernikahan hanya sebuah permainan? Karena bagi saya, pernikahan adalah hal yang sakral dan tidak pantas untuk di permainkan. Anda yang berpendidikan lebih tinggi dari saya, kenapa bisa berpikir seperti orang rendahan yang tak berpendidikan!'' kesalku dengan penuh penekanan.


Kini dia pun langsung membelalakkan matanya.


"Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu kepada saya? Apa kau pikir, kau bisa berbicara seenaknya di sini? Jika kau tidak mau menerima tawaran dari saya, saya pun tidak masalah. Toh yang rugi juga bukan saya!" marahnya dengan nada yang meninggi.


Sepertinya aku sedang memancing amarahnya. Aku yang melihatnya seperti ini, langsung bergidik ngeri. Aku pun langsung menundukkan kepala ku.


"Ma-maafkan sa-saya Pak. Bukan seperti itu maksud saya seb---"


Tiba-tiba Pak Devano memotong ucapanku..


"Diam! Jika kau memang melihat saya seperti orang rendahan yang tak berpendidikan, maka kau akan melihatnya sekarang!" ucapnya lantang.


Dia pun langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kini mata kami saling bertatapan dan kejadian tadi pun terulang kembali.


Tapi kali ini Pak Devano melakukannya dengan sedikit kasar, sehingga bibirku mengeluarkan darah segar dan sedikit membengkak.


Dia pun tanpa merasa jijik kembali ******* bibirku yang terasa sangat perih. Aku pun hanya bisa pasrah dan kembali meneteskan air mataku.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2