
Sesuai dengan kesepakatan kedua wanita beda usia itu, akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengunjungi anak dan menantunya yang tinggal di kota. Dengan menggunakan kendaraan umum antarprovinsi, mereka pun akhirnya menaiki kendaraan tersebut, setelah mendapatkan tiketnya.
Untuk sampai di kota itu, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 10 jam. Berangkat di pagi hari dan tiba di petang hari. Setelah tiba di sebuah terminal, akhirnya mereka pun langsung memesan taksi untuk menuju ke rumah menantunya.
"Mengapa perasaanku tidak enak ya, Bu? Aku memiliki firasat yang tidak baik, tetapi entah apa itu." cetus Shintya saat taksi mulai membelah keramaian ibukota.
"Semoga saja firasat dan perasaan itu salah, Shin. Semoga mereka baik-baik saja dan hidup bahagia. Ibu juga sudah sangat merindukan cucu Ibu, karena sudah beberapa bulan dia dan suaminya tidak mengunjungi kita." ucap Nenek dengan suara merendah.
Shintya yang memahami bagaimana perasaan Ibunya, kini hanya bisa menggenggam dan menatap lekat wajah yang sudah menua dan dipenuhi dengan keriputan.
"Ya, Bu. Semoga saja. Aku pun juga berharap demikian." ucap Shintya dengan seulas senyum tipis.
Kini keheningan pun kembali terjadi. Hanya membutuhkan waktu 30 menit saja, akhirnya mereka pun sampai di rumah mewah berlantai tiga. Dengan ragu-ragu, akhirnya mereka pun terus melangkah dan tiba di depan pintu utama.
Sebelum memencet bel, Shintya mengatur napasnya terlebih dahulu untuk mengurangi rasa cemas dan gugupnya. Semua itu terjadi bukan karena di merasa rendah jika dibandingkan dengan sang pemilik rumah, tetapi dia hanya takut jika firasatnya tepat dan benar.
Ting! Tong!
Suara bel pun akhirnya berbunyi, tak berselang lama kemudian, pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya dengan tampilan sederhana.
"Oh, Ibu dan Neneknya Non Andini ya? Mari silahkan masuk!" ucap asisten rumah tangga Devan.
"Silahkan duduk, Nyonya! Saya akan panggilkan Nyonya Rahma dan akan membuatkan minuman terlebih dahulu." ucap wanita paruh baya itu dengan sopan.
"Baik, Bi. Terimakasih." jawab Shintya dengan seulas senyum.
Kemudian wanita beda usia itu mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka datang ke sini, mereka pun menatap takjub dengan rumah yang mereka singgahi.
__ADS_1
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, kini sangat terdengar jelas di telinga mereka. Dalam sekejap mata mereka langsung menjurus kepada wanita yang sudah berkepala empat.
"Shintya? Ibu?" panggil wanita itu sambil berlarian kecil.
Shintya dan Ibunya pun langsung bangkit dari duduknya dan tersenyum. Rahma yang menghampiri Shintya dengan merentangkan kedua tangannya, kini Shintya pun menyambutnya dengan hangat.
"Apa kabar, Shin? Mengapa tidak mengabari kami terlebih dahulu?" tanya Rahma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Kemudian Rahma pun memeluk dan menciumi Nenek dengan penuh kasih sayang. Saat melihat wanita tua itu, dia kembali teringat kepada sang Ibu yang telah tiada.
"Em, maafkan kami! Jika kami lancang untuk mengunjungi kalian dan tidak mengabari kalian terlebih dahulu. Karena kamu ke sini juga mendadak tanpa merencanakannya." ujar Shintya dengan seulas senyum tipis.
Rahma pun terkejut dengan ucapan Shintya. Dia pun jadi teringat, dengan hilangnya Andini hingga saat ini. Dengan ragu-ragu akhirnya Rahma mengajak duduk kedua wanita itu.
"Oh, iya, Nak. Dimana Andini? Apakah dia juga ikut Nak Devano ke kantornya?" tanya Nenek secara tiba-tiba.
"Em, i-itu, Shin......"
"Mama?"
Tiba-tiba dari ambang pintu terbuka, muncul sosok seorang pria yang sangat Rahma nantikan kehadirannya. Seketika Rahma pun sedikit bisa bernapas, setelah dia merasakan sesak di dadanya.
"Devan, akhirnya kamu pulang, Nak. Ini ada Ibu mertua dan Nenek yang datang untuk mengunjungi......"
Tiba-tiba Rahma pun menjeda ucapannya, sambil melirik ke arah Devan dan kedua wanita itu secara bergantian. Devan yang sangat mengerti bagaimana situasi yang sedang dihadapi oleh Mamanya, langsung tersenyum dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Apa kabar, Bu, Nek? Mengapa kalian tidak mengabari kami terlebih dahulu? Aku kan bisa menjemput kalian, jika kalian ingin mengunjungi kami." tanya Devan dengan basa-basi.
Nenek yang saat ini masih mencari keberadaan cucunya, hanya celingukan saat tidak mendapati sosok yang sangat dia rindukan.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Nak Devano." jawab Shintya dengan seulas senyum.
"Dimana Andini, Nak? Apakah dia masih tertinggal di dalam mobil atau dia masih di kantor?" tanya Nenek tanpa basa-basi.
Devan pun tertegun dan gelagapan, sama halnya yang dirasakan oleh Rahma sebelumnya. Entah mengapa, untuk mengatakan kebohongan kepada kedua wanita beda usia itu, Devan sangat berat untuk membohongi mereka.
Tetapi jika dia berkata jujur, apakah kedua wanita itu akan memaafkannya karena telah gagal untuk menjaga putri dan cucu kesayangan mereka.
Seketika kaki Devan pun langsung melemas, dan dia pun bersimpuh di depan Shintya dan Nenek. Dengan kepala yang tertunduk, buliran bening yang berada di pelupuk matanya akhirnya menetes perlahan.
"Maafkan Devan, Bu, Nek! Devan telah gagal menjaga dan melindungi Andini. Bahkan Devan juga telah gagal membahagiakannya, Devan hanya bisa pasrah jika Ibu dan Nenek akan marah kepada Devan." ujar Devan dengan kepala yang masih tertunduk.
Kedua wanita itu pun hanya bisa beradu pandang, saat mendengar ucapan menantu mereka. Entah apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Devan meminta maaf kepada mereka, bahkan mereka pun sama sekali tidak mengetahui tentang kesalahan yang telah diperbuat oleh Devano.
"Ada apa, Nak? Mengapa kamu meminta maaf kepada Ibu dan Nenek? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Shintya dengan penuh selidik.
Dengan berurai air mata, Devan memberanikan diri untuk menatap kedua wanita beda usia itu. Dengan helaan napas berat yang disertai dengan rasa sesak di dada, sebagai seorang pria sejati dia harus berani mengatakan kejujuran, dan siap untuk menerima konsekuensinya.
Rahma yang saat ini berada tepat di belakang putranya, hanya bisa mengusap lembut bahu Devan. Berharap jika putranya bisa menjelaskan semuanya tentang bagaimana masalah itu bisa terjadi.
"Katakanlah sejujurnya, Sayang! Dan kamu juga harus menerima konsekuensinya nanti." ucap Rahma lirih, tetapi masih terdengar oleh kedua tamunya.
"Ada apa sebenarnya, Nak? Mengapa kalian terlihat sangat gugup dan resah? Ada apa dengan Andini? Dimana sebenarnya dia saat ini?" cecar Shintya yang sedikit merasa geram, karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu! Shintya menghilang." ucap Devan lirih.
"APA!''