
Saat Pak Devano menyodorkan sebuah berkas ke arahku, aku pun segera membuka dan membacanya.
*SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK*
BERIKUT INI POIN-POIN YANG HARUS DI SEPAKATI OLEH KEDUA BELAH PIHAK :
PERNIKAHAN KONTRAK AKAN BERJALAN SELAMA 6 BULAN, DAN SETELAHNYA AKAN DI BEBASKAN.
SELAMA PERNIKAHAN KONTRAK BERLANGSUNG, KEDUA BELAH PIHAK HARUS SALING MENJAGA NAMA BAIK MASING-MASING, BAIK ITU DI DEPAN KELUARGA MAUPUN DI LINGKUNGAN MASYARAKAT.
KEDUA BELAH PIHAK TIDAK BOLEH MENCAMPURI URUSAN PRIBADI MASING-MASING, KECUALI UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA.
JIKA SALAH SATU PIHAK MELAKUKAN PELANGGARAN, MAKA PIHAK YANG DI RUGIKAN BISA MENUNTUN DAN MEMINTA GANTI RUGI SESUAI KEINGINAN PIHAK YANG DI RUGIKAN.
SESUAI DENGAN PERJANJIAN DARI POIN 1-4, MAKA KEDUA BELAH PIHAK HARUS MELAKUKAN KESEMPATAN KARENA KEMAUAN SENDIRI DAN TANPA PAKSAAN.
DENGAN INI, SESUAI DENGAN ISI PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK AKAN BERJALAN SESUAI DENGAN KESEMPATAN KEDUA BELAH PIHAK ITU SENDIRI.
DEVANO WICAKSANA. ANDINI AMALIA.
__ADS_1
.
.
Aku pun langsung menatap tajam ke arah Pak Devano.
"Haruskah ada perjanjian tertulis seperti ini Pak? Bisakah hanya secara lisan saja?" tanyaku dengan nada tegas.
Kini Pak Devano pun menyunggingkan bibirnya ke atas. "Saya tidak mau jika salah satu pihak melakukan pelanggaran, saya atau kamu tidak akan bisa melakukan tuntutan kepada pihak pelanggar. Jadi sesuai dengan isi perjanjian yang tertulis, kamu harus menyetujuinya," ucapnya dengan nada santai.
Aku pun menghela napas panjang, haruskah aku mengikuti permainan darinya?
'Bagaimana jika nanti rasa yang terpendam di hatiku justru semakin dalam? Apakah aku akan sanggup jika setelah enam bulan berpisah darinya? Aku takut jika akan ada luka yang membekas lagi di hatiku!' gumamku dalam hati.
"Bagaimana? Jika kau menyetujuinya sekarang tanda tangan di sini, dan pernikahan akan kita lakukan satu minggu setelah perjanjian ini di sepakati," ucapnya dengan nada datar.
Kini mataku pun membulat sempurna.
"A-apa! Satu Minggu? Bagaimana dengan keluarga saya, Pak? Apa ini tidak terlalu cepat?" Tanyaku tanpa jeda.
Dia pun kini mendekat ke arahku.
"Saya tidak ingin menunda terlalu lama, semakin cepat ini terlaksana, maka akan cepat juga selesainya. Dan satu lagi, rahasiakan semua ini dari keluargamu maupun keluarga saya! Karena hanya kita berdua yang akan mengetahui perjanjian ini, tanpa adanya campur tangan pihak ketiga. Apa kau mengerti?" jelasnya dengan nada tegas.
Aku pun hanya terdiam, akankah keputusan ini tidak akan membawa petaka untukku nantim
Lalu Pak Devano menyodorkan sebuah bolpoin kepadaku untuk membubuhkan tanda tangan di atas materai. Ku pejamkan mata, lalu ku hirup napas panjang dan menghembuskannya.
"Baik, saya akan menyetujuinya, tapi saya juga mempunyai syarat untuk Anda,'' terangku dengan nada santai.
Kemudian dia mengangkat satu alisnya.
"Oke, syarat apa yang akan kau ajukan kepada saya?" tanyanya sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Syaratnya sangat mudah, selama pernikahan kontrak ini berlangsung, saya tidak mau jika Pak Devano meminta hak Anda sebagai seorang suami ataupun menyentuh saya dengan paksa. Dan satu lagi, kita harus menjaga jarak, agar selama perjanjian berjalan tidak ada yang terbawa perasaan nantinya. Apa Anda bisa memenuhi syarat saya ini, Pak?" tanyaku dengan nada tegas.
Kini Pak Devano terdiam sejenak, dan menatapku dengan tatapan tajam. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Baiklah, semua persyaratanmu akan saya lakukan. Akan tetapi, jika nanti di antara kita ada yang memiliki perasaan itu, maka perjanjian ini di nyatakan batal dan tidak sah. Apa kau juga mengerti?" tanyanya sambil menatap tajam ke arahku.
"Maksudnya batal dan tidak sah bagaimana, Pak?" tanyaku sambil menautkan kedua alis.
Dia pun menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas.
__ADS_1
"Jika nanti salah satu dari kita memiliki perasaan cinta, maka pernikahan kontrak ini akan batal dan pernikahan ini akan berlanjut sampai waktu yang tidak bisa di tentukan, yang artinya bisa selamanya,'' jawabnya sambil mendekat dan mengikis jarak di antara kami.
Aku pun membelalakkan mata.
'Apa maksudnya selamanya? Atau jangan-jangan dia hanya ingin menjebakku dengan tawaran pernikahan kontrak ini?' gumamku dalam hati.
"A-apa! Jadi---" Kini ucapku pun terpotong karena bibir pak Devano kembali membungkamku.
Sontak aku pun terkejut dan mendorongnya. Dan pria itu pun terjengkang karena kehilangan keseimbangannya.
"Cukup Pak! Jika Anda ingin saya menandatangani perjanjian ini, Anda jangan macam-macam lagi dengan saya!" marahku dengan nada meninggi.
Dia pun kembali bangkit, dan berjalan menuju kursi kebesarannya.
"Baik, sesuai dengan kesepakatan. Saya tidak akan menyentuhmu lagi. Kecuali saya memang khila,'' tuturnya dengan seulas senyum licik.
Aku yang sudah tidak peduli dengan ucapannya, kini membubuhkan tanda tangan di atas materai sesuai dengan kesepakatan bersama.
"Sudah, silahkan giliran Anda yang harus menandatanganinya. Dan saya harap, Anda tidak melanggar peraturan yang telah Anda buat sendiri. Atau Anda akan menyesalinya," ucapku sambil menatap tajam ke arahnya.
"Wow, wow. Mulai berani ya sekarang kau menggertak ku! Oke, kita lihat saja nanti, siapa yang akan kalah sebelum masa kontrak ini berakhir?" ejeknya dengan nada santai.
"Baik, sekarang apa yang harus saya lakukan? Apa hari ini saya masih melanjutkan masa hukuman ini?" tanyaku sambil menautkan kedua alis.
Dia pun tersenyum sekilas.
"Tentu, ini adalah hari terakhir masa hukumanmu. Jadi saat ini peraturan itu belum berlaku, dan saya masih bebas dengan hukuman yang saya berikan kepadamu," jawabnya dengan begitu santai.
Aku pun tidak terkejut lagi, seperti kali ini aku sedang bermain-main dengan seorang yang memiliki kepribadian ganda. Kadang dia sangat menyebalkan, akan tetapi kadang dia juga sangat lembut.
"Oke, kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi, Pak Devano yang terhormat,'' jelasku lalu bangkit dari tempat duduk.
Saat aku sedang membersihkan ruangan itu, pak Devano terus saja menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku yang merasa risih pun kini menghampirinya.
"Tidak bisakah Anda membuat saya tenang hari ini, Pak? Kenapa Anda terus saja menatap ke arah saya? Jujur, itu membuat saya sangat tidak nyaman,'' kataku sambil menatap tajam ke arahnya.
Dia yang sedang duduk dengan sebelah kaki bertumpu dengan kakinya yang lain, kini berdiri dan berjalan mendekat ke arahku.
Aku pun yang awalnya berani, kini nyaliku mulai menciut. Semoga kejadian tadi tidak terulang kembali. Saat dia maju selangkah, aku pun ikut mundur dan kini punggungku sudah membentur dinding.
Kedua tangan pak Devano pun kembali mengungkung tubuhku. Perlahan wajahnya kembali mendekat ke arahku. Namun, suara ketukan pintu kini berhasil menyelamatkanku dari pak Devano.
Dia pun kembali ke tempat duduknya, dan ternyata sekertarisnya pak Devano yang tadi mengetuk pintu itu. Akan tetapi, di belakang nya di ikuti oleh seorang wanita yang terlihat sangat cantik dan seksi.
__ADS_1
'Siapa dia?'
BERSAMBUNG...M