
Setelah kepergian Kak Devan beberapa menit yang lalu, kini perasaan resah dan gelisah mulai hadir kembali di dalam hatiku.
Meskipun hanya dua hari satu malam, akan tetapi firasat burukku benar-benar sangat kuat. Entah mengapa saat aku mencoba untuk menepisnya, kini rasa gelisah pun semakin menjadi-jadi.
"Ya Allah, ada apa sebenarnya ini? Mengapa perasaan ku saat ini benar-benar sangat kacau? Apa aku mulai meragukan kesetiaan suamiku? Ah, tidak tidak! Kak Devan tidak mungkin tega untuk mengkhianati cinta suci kami. Ayolah, Andini! Jangan berpikir macam-macam tentang suamimu! Percayalah kepadanya!" gumamku sambil mondar-mandir di dalam kamar.
Lalu aku pun mencoba mengalihkan perhatian ku dengan berkutat di dapur, sekedar ingin menenangkan dan mengalihkan pikiran ku dari hal-hal negatif yang terus membayangiku.
Akan tetapi saat pikiran ku tidak fokus, hingga pisau tajam melukai jari mungilku. Kini darah segar perlahan mengalir dari jariku.
"Argh!"
Aku pun meringis, karena menahan perih. Meskipun lukanya tidak terlalu dalam, akan tetapi rasa perihnya menjalar hingga ke ulu hati.
"Ah, percuma saja aku melakukan semua ini, jika pikiran dan hatiku tidak bisa diajak kompromi." gerutuku, sambil mengibaskan tanganku yang terasa perih.
________
Siang hari....
"Ah, kemana sih Kak Devan? Mengapa sejak pagi dia sama sekali tidak memberikan kabar kepadaku? Apa dia melupakan janjinya, untuk memberikan kabar kepadaku meski hanya sebentar saja?" gumamku dengan sendu.
Kini aku pun masih setia menggenggam ponselku, agar nanti saat Kak Devan memberikan kabar kepadaku, aku bisa langsung menjawabnya.
Ting!
Kini suara notifikasi dari aplikasi hijau terdengar, saat ku lihat. Ternyata sebuah pesan dari Kak Devan.
Kak Devan : "Sayang? Maafkan aku! Karena belum sempat memberikan kabar sejak pagi kepadamu. Karena setelah aku sampai, ternyata rekan kerja ku sudah tiba lebih dulu. Dan kami langsung mengadakan meeting saat itu juga. Aku benar-benar minta maaf! Tetapi aku berjanji, setelah meeting siang ini selesai. Aku pasti akan mengabarimu kembali. I Love you so much, mu sweety?"
Saat membaca pesan dari Kak Devan, aku hanya bisa tersenyum kecut.
Setelah beberapa jam menunggu kabar darinya, kini hanya sebuah pesan yang aku dapatkan. Akan tetapi aku harus tetap bersyukur, karena Kak Devan masih memberikan kabar kepadaku.
Lalu aku pun membalas pesan darinya.
Aku : "Iya kak, tidak apa-apa. Semangat ya kerjanya! Ingat ada istrimu yang selalu menantimu pulang ke rumah. I Love you more , my beloved husband."
Aku pun tersenyum kecut, saat jari-jari ku mulai membalas pesan dari Kak Devan.
Saat aku membalas pesan darinya, kini hanya ceklis dua berwarna abu-abu. Aku pun terus memandangi layar ponselku, dan berharap ceklis dua berubah menjadi biru.
Selama kurang lebih 30 menit aku menunggunya, belum ada tanda-tanda dia online kembali.
Dan tanpa sadar, kini rasa kantuk mulai menyerang ku.
"Hoam! Ah, mengapa ngantuk sekali? Padahal masih jam 12 siang, tumben sekali sih." gumamku sambil merebahkan tubuhku di atas ranjang.
"Emn, lebih baik aku tidur siang terlebih dahulu. Semoga saja setelah bangun nanti, Kak Devan kembali memberikan kabar kepadaku ku." gumamku dengan penuh harap.
Tak membutuhkan waktu lama, kini dengkuran halus terdengar dari bibirku.
_______
Malam hari....
Saat aku membuka mataku, tiba-tiba saja hari sudah mulai gelap. Lalu aku pun merenggang otot-otot ku yang terasa sangat kaku. Karena aku tidur selama enam jam lamanya. (Haha, tidur apa pingsan ya?)
__ADS_1
"Hoam! Ternyata hari sudah mulai gelap. Lebih baik aku membersihkan diriku terlebih dahulu, lalu memasak makanan malam untuk diriku sendiri." gumamku, kemudian aku pun bangkit dari ranjangku. Lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Tiga puluh menit kemudian, setelah aku selesai membersihkan diriku sambil berendam.
Kini aku pun bergegas menuju ke dapur, karena perutku sudah meronta-ronta ingin segera diisi.
Tak membutuhkan waktu lama untukku, kini sepiring nasi goreng dengan extra pedas menjadi teman makan malam ku.
"Hemn, lumayan juga ternyata masakanku. Besok aku harus berlatih memasak lebih giat lagi, agar Kak Devan betah memakan masakan ku," gumamku sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutku.
Setelah selesai makan malam, aku pun bergegas untuk kembali ke kamar. Aku ingin mengecek kembali ponselku, apakah ada kabar terbaru dari suamiku saat aku tidur siang tadi.
Dan saat aku ingin membuka aplikasi berwarna hijau, kini aku dikejutkan oleh sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal.
Aku pun merasa penasaran dengan isi pesan tersebut, lalu aku pun segera membukanya untuk mengetahui apa yang dikirim oleh pemilik nomor tersebut. Yang spam pesan kepadaku sebanyak 10 pesan masuk.
Perlahan aku pun membuka aplikasi berwarna hijau tersebut. Saat aku membuka pesan dari nomor tak dikenal mataku pun membulat sempurna.
"A-apa-apaan ini?" ucapku dengan bibir bergetar.
Kini tak terasa air mataku pun luruh dengan derahnya.
No name : "pesan gambar"
No name : "pesan gambar"
No name : "pesan gambar"
No name : "pesan gambar "
No name : "Ah, terimakasih! Karena malam ini adalah malam Terindah untuk kami."
No name : "Akhirnya malam ini, kami bisa saling melepas kerinduan yang terpendam."
No name : "Devan masih benar-benar perkasa, bahkan dari sore tadi dia meminta sebanyak 3x kepadaku. Ah, benar-benar sangat puas karena senjatanya yang tahan lama."
No name : "Jika kamu ingin melihat benar atau tidaknya foto ini. Datanglah ke hotel Hardon's, kamar nomor 103A dan minta kunci kepada resepsionis bilang saja kamar Pak Devano."
No name : "Kamu pasti belum percaya 'kan? Maka datanglah! Secepatnya!"
Bagai di tusuk pisau belati yang sangat tajam, kini hatiku terasa sangat hancur lebur saat mendapatkan pesan gambar dan beberapa pesan singkat lainnya.
Kini air mataku pun mengalir dengan derasnya, sehingga membuat tubuhku bergetar hebat.
Pertahanan ku pun goyah, akhirnya aku pun merosot ke lantai.
Tanpa berpikir panjang, aku pun segera menghubungi Kak Daniel. Karena hanya dia satu-satunya orang yang aku percayai saat ini.
Kini terdengar suara dering telepon masuk, lalu aku pun men-loudspeaker nya.
"Halo?" sapa Kak Daniel dari seberang.
"Ha-halo Kak Daniel?" ucapku terbata.
"Ada apa, Ndin? Mengapa kamu menangis?" tanya Kak Daniel dengan nada khawatir.
"Tolong ke sini sekarang, Kak! Aku sangat membutuhkan bantuanmu!" ucapku dengan nada bergetar, karena isakan tangisku.
__ADS_1
"Oke! Tunggu di sana, jangan kemana-mana. Sekarang aku sedang bersama dengan Siska. Jadi tolong tunggu kami sebentar ya?" ucapnya masih dengan nada khawatir.
"I-iya Kak." jawabku singkat.
Tut... Tut... Tut...
Kini panggilan pun terputus, dan aku menangis semakin menjadi-jadi.
Karena merutuki diriku sendiri, ternyata firasat ku semalam ada sangkut pautnya dengan kejadian hari ini.
"Ya Allah, mengapa terasa sakit dan sesak sekali? Apakah ini adalah awal dari kehancuran ku? Apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan?" racauku sambil terisak dalam tangisku.
Ting! Tong!
Tanda bel berbunyi, aku pun bergegas untuk membukakan pintu.
"Andini!" seru Siska, yang kini langsung berhambur ke pelukanku.
Aku pun hanya terdiam dan mematung di tempat, tanpa membalas pelukan dari Siska. Lalu aku pun langsung memandang ke arah Kak Daniel.
"Kak Daniel, tolong antarkan aku sekarang ke Hotel Hardon's. Sekarang juga!" pintaku dengan suara parau.
"Andin, ada apa? Jelaskan dulu kepada kami. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kak Daniel kepadaku.
"Nanti saja di jalan akan aku jelaskan semuanya. Sekarang juga antarkan aku ke sana! Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi." pintaku dengan penuh penekanan.
"Oke, oke! Sekarang juga kita berangkat. Karena jaraknya juga cukup jauh, jadi kita harus memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana." jelas Kak Daniel kepadaku.
"Tidak masalah. Jika perlu, lajukan dengan kecepatan penuh!" titahku dengan wajah datar.
Kak Daniel dan Siska hanya saling pandang. Akhirnya kami pun berangkat ke lokasi tersebut. Sesuai dengan isi pesan dari nomor tak dikenal tadi.
Di sepanjang jalan aku hanya terdiam, dan menyodorkan ponselku kepada Siska. Karena saat ini Kak Daniel sedang menyetir.
"Astaghfirullah! Ini benar-benar Gil*!" rutuk Siska saat membaca pesan itu.
"Ada apa, Yang?" tanya Kak Daniel kepada Siska.
Lalu Siska pun menyodorkan ponselku kepada Kak Daniel.
"Brengs*k! Sial*n! Benar-benar nekat wanita ular itu ternyata. Awas saja nanti jika aku menemukanmu di sana. Akan aku patahkan langsung lehernya!" maki Kak Daniel sambil menambahkan laju kecepatan mobilnya.
Aku pun masih terdiam dalam pikiranku sendiri, yang sedang berkecamuk dengan hatiku.
"Ada apa, Kak? Apa Kak Daniel mengenal wanita itu?" tanya Siska dengan hati-hati.
"Iya, Yang. Aku sangat mengenal wanita ular yang sangat licik ini. Dia adalah -" tiba-tiba Kak Daniel menghentikan ucapannya, sambil melirikku dari balik spion mobilnya.
"Dia adalah mantan terindah Kak Devan. Mereka saat ini sedang bersenang-senang dibelakang ku. Mereka pasti senang melihat kehancuran ku saat ini. Hah! Benar-benar pasangan yang sangat serasi." ucapku dengan ekspresi wajah yang datar.
"A-apa?"
Kini Siska pun terkejut dengan ucapanku.
Sedangkan Kak Daniel hanya diam, sambil melirikku dari balik spion mobilnya.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Akhirnya kami pun tiba di lokasi.
__ADS_1
'Tunggu aku di sana, Kak! Pasti kamu akan merasa puas dengan kehancuran ku!' gumamku dalam hati.
BERSAMBUNG.....