
Zemira memulai kehidupan baru, ditempat yang baru, suasana baru, dan semuanya serba baru. Zemira membantu kakaknya berjualan sembako dikarenakan kakak iparnya yang tengah mengandung karena sudah dua kali keguguran jadi harus exstra hati-hati agar janinnya baik-baik saja.
Kang Faisal💌
Apa kabar?
Zemira membuka pesan masuk dari Faisal, laki-laki itu masih saja berusaha sok akrab dengan Zemira. Namun Zemira berusaha baik-baik saja dengan Faisal meskipun Faisal tidak sadar kalau Zemira membuat jarak dengannya bahkan Faisal tidak tahu sebabnya kenapa.
Zemira💌
Alhamdulillah baik kang
Kang Faisal💌
Katanya berhenti kerja, kenapa?
Zemira💌
Iya kang, engga papa mau cari suasana baru dan tempat baru juga.
__ADS_1
Namun pada akhirnya Zemira mulai mengatakan sebenarnya, alasan kenapa dirinya berhenti bekerja. Tentunya bukan karena kemauannya dirinya, tapi melainkan karena permintaan yang tak sanggup dia tolak. Bahkan sering sekali Faisal menasehati Zemira agar menerima dengan ikhlas dan menjalani dengan sabar, tidak bisa dibohongi ada sedikit terbesit difikiran Zemira untuk membuka kembali dengan Faisal agar tidak terlalu cuek saat membalas pesannya.
Namun Zemira masih belum siap untuk kembali berbalik pada luka yang jelas-jelas akan sama ujungnya, entah mau apa lagi Faisal dalam fikiran Zemira saat ini.
Keesokan harinya, Zemira mulai membantu kakak iparnya membuka warung untuk jualan hari ini. Tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri warung, dan ternyata dia adalah kakak dari kakak ipar Zemira.
"Ini Zemira yang waktu kecil tinggal sama kamu" ucap bapak itu umurnya sekitar lima puluh enam tahun mungkin.
"Iya om" jawab Zemira datar karena tidak mengenal siapa laki-laki itu yang baru saja menyebut namanya.
Zemira waktu kecil sempat diurus oleh kakaknya dan kakak iparnya sampai sekitar SMP kelas sembilan.
"Belum om" jawab Zemira sesingkat mungkin.
"Kenapa belum punya? padahal kamu cantik loh" ucap bapak itu kembali.
Zemira merasa risih dalam keadaan itu namun bagaimanapun bapak itu juga masih terikat saudara dengannya, terpaksa Zemira menjawab pertanyaan-pertanyaan bapak itu.
"Abi masih belum ngizinin pacaran om" jawab Zemira.
__ADS_1
"Oh gitu, atau kamu emang engga dibolehin pacaran ya" bapak itu mulai mengakrabkan diri dengan Zemira.
"Iya om lebih tepatnya seperti itu" jawab Zemira sedikit tertawa kecil.
Motor berhenti didepan warung, seorang laki-laki yang hampir seumuran dengan Zemira turun dari motor kawasaki hitam merah. Menghampiri bapak-bapak yang sedang berbincang dengan Zemira, lalu duduk disebelah bapak itu. Siapa laki-laki ini? fikiran Zemira mulai dipenuhi tanda tanya akan sosok laki-laki yang baru saja turun dari motor.
"Pah bagi uang dong" ucap laki-laki itu sambil sesekali melirik kearah Zemira.
"Kamu malu sama Zemira, dia aja kerja buat cari uang. Kamu dengan enaknya minta uang sama papah, kamu udah kasih apa ke papah selama ini" jawab bapak itu mulai marah karena kelakuan laki-laki itu.
Ternyata laki-laki itu anak dari bapak yang mengenal Zemira, namun Zemira tidak terlalu ingat dengan sosok bapak itu.
"Siapa yang tadi papah sebut? Zemira? Zemira siapa?" tanya laki-laki itu mulai berfikir.
"Zemira adiknya om Devin" jawab bapak itu.
"Masa kamu engga inget, yang dulu kamu pernah suruh papah lamarin dia buat kamu. Sekarang masih berminat engga? kalau masih papah siap lamarin" lanjut bapak itu.
Laki-laki itu tidak sadar kalau wanita yang sedang disebut namanya ada didepannya ikut mendengarkannya juga, namun Zemira hanya membisu bagaikan batu.
__ADS_1
Hah? Lamar? siapa laki-laki ini, Zemira semakin bertanya-tanya dalam situasi ini. Karena dirinya sama sekali tidak bisa mengingatnya, apalagi soal laki-laki dihadapannya ini.