Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-35 Rumah Obatnya


__ADS_3

Zemira sampai dirumah dan langsung masuk kedalam kamar miliknya yang sangat ia rindukan, Zemira duduk dikursi yang biasa ia gunakan untuk menulis dan melakukan beberapa hal yang ingin ia lakukan.


"Aku sangat merindukan kalian" ucap Zemira sembari memeluk meja dihadapannya.


"Apa ini?" saat melihat buku catatan tebal milik Nizam.


Zemira mengambil notes yang tertepel dibuku tebal tersebut yang bertulisan 'do'nt touch this' dengan sedikit manjun Zemira melepaskan pegangan kedua tangannya pada buku tersebut dengan sedikit kesal.


"Kaya dia udah tau aku bakal pulang pake ditinggalin notes lagi, aku jadi kepo" ucap Zemira yang masih menatap serius pada buku dihadapannya.


"Aaahhhhh.... aku benci kamu Fadil!!" teriak Zemira menjadi-jadi.


tok.. tok..


"Zee" panggil Anne dari balik pintu kamar Zemira.


"Iya bentar" sahut Zemira segera membuka kunci pintu.


"Tumben banget sih pake dikunci, nih pake baju ini" ucap Anne memberikan baju kebaya syar'i couple pada Zemira.


"Iya bawel, makasih ya" jawab Zemira segera meraihnya.


"Ngomong-ngomong dokter yang tinggal dikamar kamu ko bisa nginep ditempat temennya sih Ze padahalkan kenapa engga dari pertama aja" ucap Anne.


"Engga tau, dan engga mau tau" jawab Zemira cuek.


"Besok akad jam berapa?" lanjut Zemira.


"Jam sepuluh siang" jawab Anne membaringkan badannya dikasur.


"Wow" teriak Anne.


"Kenapa?" tanya Zemira kaget langsung melirik kearah Anne.


"Wangi banget" jawab Anne.


"Apaan sih berlebihan" ucap Zemira melempar bantal kecil kearah Anne.


"Beneran Zee seriusan dah, udah lama aku sering tiduran dikasur kamu tapi engga pernah sewangi ini. Aku fikir kamernya bakal bau obat-obatan ataupun bauh kimia-kimia apaan gitu" jawab Anne.


"Tau ah, kenapa jadi ngomongin dia sih" ucap Zemira sebel.


"Yaudah deh iya, ngomongin kamu sama Fadil aja gimana?" tawar Anne sambil tertawa.


"Apaan sih, pasti udah ngeliat video aku ya" ucap Zemira.


"Cukup trending juga ya videonya" jawab Anne.


"Ko kamu engga bales tampar lagi sih Zee padahal seru tau kalau kamu bales tamparan itu perempuan" lanjut Anne.

__ADS_1


"Udah ah jangan ngomongin itu, yang lain aja" ucap Zemira.


"Itu apaan Zee?" tanya Anne melihat buku yang ada diatas meja.


"hustt.." tepakan mendarat ditangan Anne yang baru saja berusaha meraih buku tersebut.


"Aww.. apaan sih sakit tau" keluh Anne.


"Kamu engga baca apa, niihh" tujuk Zemira pada notes yang tertempel dibuku tersebut.


"Don't touch this" eja Anne pada tulisan yang berada dinotes.


"Sok english tau engga, emang kamu ngerti apa artinya?" lanjut Anne.


"Tau dikit, don't kan artinya jangan, sedangkan touch itu sentuh atau pegang. Yah jelas-jelas itu cowo engga mau buku ini ada yang pegang, apa lagi ngepoin" jelas Zemira.


"Itu artinya dia sengaja dong biarin kamu pulang kerumah dan tinggal dikamar kamu sementara, besok nikahan Milla dan besok lagi nikahan abang kamu. Itu artinya dia berkorban buat kamu" ucap Anne panjang lebar.


"Jangan aneh-aneh deh mikirnya ampe kesitu, dia itu siapa dan aku juga siapa. Bukan siapa-siapa dan akan tetap seperti itu faham" jawab Zemira ketus.


"Tapi kamu ngarep kan?" ledek Anne.


"Apaan sih" Zemira cemberut.


"Aku hanya butuh obat untuk menyembuhkan luka" lanjut Zemira.


"Gimana kalau aku tidur sini aja, biar besok kit bisa berangkat bareng. Giman?" usul Anne.


"Engga mau!!" tolak Zemira tegak.


"Yaelah ngambekan" jawab Anne.


"Jangan lupa besok akad Milla" lanjut Anne lalu melangkah keluar dari kamar Zemira.


Zemira bangkit dari duduknya dan menghampiri kasur miliknya, lalu perlahan membaringkan badannya bahkan sesekali mencium aroma harum yang berbeda disprei dan selimut yang terpasang dikasur.


"Ternyata bener apa yang dibilang Anne, wangi banget. Aku fikir kamer aku akan bau obat, karena kan dia seorang dokter" ucap Zemira setengah merem.


Dan pada akhirnya Zemira tertidur pulas siang itu, mengistirahatkan semuanya.


Malam itu tepatnya ba'da isya Fadil datang kerumah Zemira dan disambut hangat oleh paman Ahmed dan abi yang sedang bermain catur.


"Fadil, tumben mampir? apa ada hal yang mendesak yang perlu disampaikan sama abi?" tanya abi yang langsung melihat kedatangan Fadil.


"Assalamu'alaikum bi" sapa Fadil mencium pungung tangan abi dan juga paman Ahmed.


"Wa'alaikumussalam" jawab keduanya.


"Kebetulan tadi Fadil baru pulang kerja bi jadi mampir sebentar, mau ketemu Zemira" ucap Fadil langsung bergabung.

__ADS_1


"Kayanya tadi baru aja masuk kamer Dil selesai ngaji, engga tau langsung tidur atau engga karena besok sepupunya mau nikahan dia mesti hadir bantu-bantu" jelas abi Zemira.


"Oh gitu ya bi, yaudah besok lagi aja deh ketemu Zemiranya" jawab Fadil.


"Tuggu aja dulu disini, temenin abi sama paman main catur. Kalau Zemira belum tidur pasti bentar lagi keluar buat makan" ucap paman Ahmed sembari menyeruput secangkir kopi.


"Boleh deh kalau gitu" jawab Fadil dengan senyum.


Beberapa menit kemudian Zemira keluar dari kamarnya, kebetulan kamarnya dekat dari ruang tamu sebelah kiri menghadap pintu masuk.


"Tuh putri cantik yang ditunggu" ucap paman Ahmed melihat kearah Zemira yang keluar menggunakan piyama panjang dan memakai kerudung pashmina yang hanya asal pakai.


"Ka Fadil" panggil Zemira terkejut.


"Ngapain?" tanya Zemira.


"Main catur" jawab Fadil.


"Fadil dari tadi nungguin kamu keluar dari kamar tuh Zee" ucap paman Ahmed.


"Ada yang perlu aku omongin sama kamu Ze" tambah Fadil.


"Oh gitu, yaudah ngobrol didepan aja" jawab Zemira.


"Ajak makan aja sekalian, kebetulan kakak kamu udah masak banyak. Kasian Fadil baru pulang kerja, udah sana!!" perintah abi.


"Udah sana jangan malu-malu" tambah paman Ahmed.


Fadil akhirnya bangkit dari duduknya dan mulai mengikuti langkah Zemira menuju meja makan yang kebetulan bersebelahan dengan tempat menonton tvi dan disitu banyak ponakan Zemira yang sedang bermain. Ditambah kakak perempuannya yang sedang mencuci piring.


"Fadil ayo makan sekalian dengan Zemira" sapa kakak Zemira.


"Iya ka" jawab singkat Fadil.


Keduanya duduk bersebelahan, Zemira masih terdiam bahkab saat mengambil piring untuk Fadil.


"Zee sebenernya aku kesini mau minta maaf atas nama Indah" ucap Fadil.


Zemira hanya tersenyum sembari mengambilkan nasi untuk Fadil.


"Aku sudah memaafkannya, tidak perlu minta maaf" jawab Zemira mulai memakan, makanannya.


"Aku beruntung kan Zee? bisa disukai perempuan sepertimu" ucap Fadil menatap Zemira yang berada disebelahnya.


Zemira membalas tatapan Fadil pada dirinya, kini padangan keduanya saling bertemu dan membisu bersama. Perasaan itu masih sama, masih tinggal dihati Zemira.


"Ehem" dehem kakak perempuan Zemira membuat keduanya langsung mengalihkan pandangannya.


Keduanya mulai fokus menikmati makanannya.

__ADS_1


__ADS_2