Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-27 Malam Yang Tak Usai


__ADS_3

Motor Fadil sampai didepan halaman rumah Zemira yang lumayan luas, Fadil juga ikut turun dan mengikuti langkah Zemira.


"Ze" panggil Fadil membuat langkah Zemira terhenti yang berada didepannya.


"Iya kenapa?" tanya Zemira membalikan badannya.


"Mana minuman aku" ucap Fadil.


"Hah minuman? ini" jawab Zemira bingung sambil mengangkat cup yang sudah tidak terisi lagi.


"Ko kamu minum sih" ucap Fadil tidak terima.


"Apaan sih, yah aku mana tau kamu cuma nitipin doang ke aku bukannya ngasih buat aku. Engga sadar aku minum tadi pas naik motor" jawab Zemira tidak kalah dengan Fadil.


"Kenapa kamu tadi engga minta Juli aja buat bayarin minuman ngapain minum punya aku sih" ucap Fadil kesel.


"Apaan sih gitu aja marah kaya anak kecil tau engga" jawab Zemira langsung memunggungi Fadil dan melangkah pergi.


Fadil tidak lagi mengikuti langkah Zemira, dia hanya menunggu sambil duduk dibangku yang berada didepan rumah. Zemira masuk kedalam rumah, dan dilihatnya ada ayah dan ibu Fadil bahkan ada kakak perempuannya yang sangat dekat dengan Fadil, Zemira sangat tahu karena dia sering stalking sosmed milik Fadil.


"Assalamu'alaikum" ucap salam Zemira langsung menyalami semua orang yang berada diruangan itu.


"Wa'alaikumussalam" jawab semua orang.


"Kamu sudah pulang cantik" sapa ibu.


"Udah bu" jawab Zemira tersenyum.


"Ko lama sekali cuma suruh jemput kamu aja" ucap ibu.


"Iya tadi Zemira temenin ka Fadil makan dulu" jawab Zemira.


"Bukannya tadi kita debat dulu ya" ucap Fadil ikut menerobos tiba-tiba muncul.


"Debat? memangnya apa yang didebatkan?" tanya ibu.


"Ibu tanya aja sama putri kesayangan ibu" jawab Fadil.


"Kenapa Zemira?" tanya ibu memegang tangan Zemira.


"Loh ini kenapa tangan kamu berdarah" tanya ibu mengalihkan pertanyaan awalnya.


"Hah? iya kenapa ya kayanya kebeset enggga sengaja bu" jawab Zemira.

__ADS_1


Fadil melirik ke jari Zemira yang terluka dan ada bekas besetan dijari manisnya sebelah kanan, Zemira hanya tersenyum menatap ibu yang khawatir akan luka kecil dijarinya. Seolah Zemira merasakan sosok ibu yang lama hilang didalam hidupnya.


"Fadil tolong ambilkan plester dan kapas" pinta ibu.


"Tidak perlu khawatir, itu luka kecil dan akan sembuh" ucap abi.


"Biarkan saja, istriku memberikan perhatiannya pada Zemira" jawab bapak.


"Ini bu" ucap Fadil sambil menyodorkan kotak p3k.


Fadil duduk disebelah kiri ibunya sedang Zemira duduk disebelah kanan ibunya, ibu sedang membersihkan luka Zemira dengan sangat teliti seolah itu luka besar. Namun Zemira berusaha menahan nafasnya karena Zemira sangat fobia dengan yang berhubungan dengan rumah sakit, termasuk dengan bauh obat dan obat-obatan yang lain.


Karena bundanya dulu sebelum meninggal mengomsumsi obat lalu pingsan tak sadarkan diri dan sempat koma namun Zemira tidak bisa menemaninya berada disampingnya karena saat itu Zemira masih kecil. Dan sampai uminya meninggal dirumah sakit, saat itulah mulai kebenciannya pada hal yang berhubungan dengan kematian bundanya.


"Zemira kamu kenapa nak?" tanya ibu sambil mengobati lukanya karena melihat Zemira yang menekan hidungnya dengan jari kirinya sambil bernafas lewat mulut.


"Dia fobia sama bauh obat bu" jawab Fadil tertawa kecil.


"Owalah gitu rupanya, Fadil jauh-jauh ini kotak obatnya" suruh ibu.


Fadil menurut dan menjauhkan kotak obatnya dari hadapan Zemira, Hufff... akhirnya Zemira bernafas lega.


"Huhhhhh.. akhirnya bisa bernafas lega" ucap Zemira menatap Fadil disebelah sebrang tempat duduknya.


"Aku dicuekin deh" ucap Hana kakak Fadil.


"Maaf ya ka Hana" jawab Zemira cengengesan.


"Sudah selesai, sana ganti baju setelah itu sini peluk ibu" ucap ibu mengelus lembut kepala Zemira.


"Siap bu" jawab Zemira segera pergi menuju kamarnya.


"Kayanya ibu suka banget sama Zemira, tuh Dill kamu sama Zemira aja ibu udah pasti kasih restunya buat kamu" ucap Hana.


"Apapun pilihan Fadil ibu berharap itu yang terbaik ya sayang" jawab ibu sambil mengelus rambut Fadil.


"Fadil kamu masih sama Indah?" tanya ibu.


"Masih bu, Fadil engga punya alasan buat putus sama Indah. Dia sangat baik" jawab Fadil yang masih tenggelam dalam pelukan ibunya.


"Udah awas gantian" ucap Zemira mengusir yang tiba-tiba kembali.


"Cepet banget sih engga mandi kamu ya" jawab Fadil sambil melepaskan pelukkannya.

__ADS_1


"Emang engga mandi" balas Zemira sambil meledek Fadil.


Zemira mulai memeluk ibu dengan erat, dia mendengar apa yang dikatakan Fadil pada ibunya soal Indah. Namun Zemira menutup untuk baik-baik saja, Zemira mendongokkan kepalanya menatap ibu dengan senyuman teduh.


"Ibu kenapa engga tinggal aja disini sama Zemira" ucap Zemira.


"Kenapa engga Zemira aja yang tinggal sama ibu, jadi menantu ibu" jawab ibu.


"Emang ibu punya anak laki-laki lain selain ka Fadil?" tanya Zemira.


"Apa-apaan sih, engga ada dikeluarga aku cuma aku satu-satunya anak laki-laki. kalau kamu mau banget tinggal sama ibu kamu nikah aja sama aku" jawab Fadil ngegas.


"Apaan sih orang ngomongnya slow kenapa jadi ngegas" ucap Zemira semakin erat memeluk ibu.


"Yah habisnya nanyanya bikin ora emosi" jawab Fadil.


"Itu sih bagi kamu yang cemburu, takut kalau Zemira menikah sama laki-laki lain" ucap Hana.


"Apaan sih ka ikut-ikutan aja" sahut Fadil.


Zemira mengabaikan semua suara, karena sedang menikmati dekapan hangat yang selama ini hilang dari hidupnya dan tidak pernah ia rasakan lagi sampai sekarang.


"Bu kayanya dia tidur" ucap Hana.


"Ko bisa ya dia tidur dengan kaya gitu" tambah Fadil yang menyenderkan kepalanya dipundak ibunya.


"Zemira sayang" panggil ibu sambil menyentuh pelan pipinya.


"Eemm" jawab singkat Zemira.


"Zemira ayo bangung, ibu sama bapak udah mau pulang ini udah malem" ucap abi.


"Eemm iya bu" jawab Zemira.


Zemira mencium punggung tangan ibu dan bapak Fadil sekaligus dengan ka Hana dengan setengah sadar, Fadil mendekatkan wajahnya ke muka Zemira yang menyenderkan kepalannya diatas meja dengan tangan terlipat.


"Maaf ya, pasti luka itu karena aku. Aku engga sengaja, dan maaf" ucap Fadil berbisik.


"Emm" jawab Zemira.


Fadil tersenyum menatap Zemira yang masih bisa menjawab padahal setengah tertidur, Keluarga Fadil pulang. Abi membantu Zemira kekamarnya, karena harus dipapah kalau tidak bisa terjatuh nanti menabrak tembok.


"Kamu bener-beber jahat memberikan luka namun kamu juga obatnya, maka izinkan aku membencimu" Zemira mengigau setelah badannya dibaringkan dikasur.

__ADS_1


Abi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap putrinya kesal saat tertidur, lalu menyelimutinya.


__ADS_2