
Keesokan harinya Zemira sudah siap untuk bekerja seperti biasa, namun fikirannya masih teringat soal semalam.
"Lama-lama aku bisa gila mikirinnya, aaahhhhh" ucap Zemira sembari teriak.
"Kenapa sih Zee? kesambet ya?" tanya Helena.
"Engga tau, kayanya lebih parah dari kesambet deh" jawab Zemira.
"Periksa sana diRSJ (rumah sakit jiwa)" ucap Helena tertawa puas.
"Gila loh ya" sahut Zemira.
"Zemira" panggil Indah tersenyum kearahnya.
"Ka Indah, ngapain?" tanya Zemira.
"Ini temen aku, yang waktu itu nampar kamu. Dia kesini mau minta maaf" jawab Indah.
"Oh iya engga papa ko ka, udah aku lupain jadi engga usah dibahas" ucap Zemira.
"Ternyata bener ya apa yang dibilang Indah, loh perempuan baik-baik. Sorry udah nuduh yang engga-engga, karea gue udah anggep Indah kaya adek aku makanya aku engga rela kalau dia disakitin" jelas Keyla matanya yang berbinar-binar.
"it's ok" jawab Zemira tersenyum.
"Pokonya kapan-kapan aku akan teraktir kamu makan" ucap Kayla tertawa.
"Ok kakak punya utang sama aku ya" sahut Zemira ikut tertawa.
Tiba-tiba dokter Nizam dan dokter Kevin datang kewarung, mungkin ingin makan siang.
"Eh dokter Nizam" sapa Kayla tersenyum ramah.
Namun Nizam hanya membalas dengan senyum tipis, sedangkan Kevin yang membalas dengan lampaian tangan.
"Suster Kayla, sedang apa?" tanya Kevin genit.
"Sedang berdirik dok" jawab Kayla bercanda keduanya pun tertawa namun tidak dengan Nizam.
Justru Nizam hanya berlalu pergi menuju meja yang akan ia tempati, Kevin pun melampaikan tangannya kembali dan segera menyusul Nizam.
"Jangan cutek gitu ah sama karyawan lain" senggol Kevin pada bahu Nizam yang tingginya hampir sama.
"Apaan sih loh" jawab galak Nizam.
"Itu dokter emang gitu ya cutek banget" ucap Helena.
__ADS_1
"Itu namanya cool mba, biasalah dokter Nizam kan jadi idola banget dirumah sakit. Sayangnya masih jomblo, dan kabar-kabar dia engga bisa move on dari mantanya" jawab Kayla mala bergosip.
"Kalau gitu Zemira lanjut kerja dulu ka" ucap Zemira.
Kayla dan Indah akhirnya pergi dari warung, dan semua patner Zemira kembali bekerja.
"Hah? Loh ditolak sama tuh cewek" Kevin terkejut setelah mendengar cerita Nizam soal semalam.
"Husttt.. jangan keras-keras, ember banget sih jadi laki" omel Nizam.
"Sorry bro, gue kaget aja gitu. Seorang Adiyaksa bisa ditolak cewek, padahal banyak banget yang ngantri buat jadi pacar loh. Nah ini loh langsung ajak nikah tapi mala ditolak, tuh cewek ya emang beda dari yang laen" jawab Kevin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mentapa Zemira didepan sana yang sedang sibuk melayani beberapa pesanan.
"Gue udah mutusin minggu depan, gue pindah ke rumah sakit diAceh rekomendasi Prof Arnaf" ucap Nizam.
"Loh nyerah gitu aja?" tanya Kevin.
"Gue nyari yang pasti mau jadi istri gue, karena gue udah bosen basa-basi" jawab Nizam.
"Cowo kaya loh tuh antik tau gak, apa mau gue yakinin tuh cewe buat nerima loh" ide Kevin.
"It's ok, engga perlu" jawab Nizam.
Nizam membayar bilnya lalu kemudia pergi begitu saja dengan acu tak acu melihat kearah Zemira.
"Zam luh duluan aja gue ada hal bentar" ucap Kevin berhenti didepan warung.
"Aduh loh bikin gue takut tau engga, udah sana pergi" jawab Kevin.
Nizam akhirnya pergi kembali kerumah sakit, setelah melihat Nizam menyebrang. Kevin kembali lagi masuk kewarung dan menghampiri Zemira.
"Zemira ya?" tanya Kevin.
"Iya, kenapa ya?" tanya balik pada Kevin merasa heran.
"Boleh kita ngomong bentar" ajak Kevin.
"Emmm, boleh kebetulan lagi engga ada orang" jawab Zemira.
Keduanya mengobrol empat mata, ditempat sekiranya orang tidak terlalu begitu mendengarkan yang nantinya akan diomongkan oleh Kevin.
"Loh beneran nolak lamaran Nizam?" tanya Kevin langsung pada inti masalahnya.
"Oh, iya tapi engga juga. Gimana ya jawabnya" jawab Zemira bingung.
"Gini aja, semua perempuan juga kalau diposisikan aku. Tiba-tiba ada orang yang baru dikenal terus langsung ngajak nikah, apa yang mereka fikirkan. Terus apalagi dipaksa buat ngasih jawaban saat itu juga, gimana engga lebih bingung lagi" lanjut Zemira menjelaskan.
__ADS_1
"Aku butuh waktu untuk berfikir" tambah Zemira.
"Tapi loh engga akan punya waktu untuk penyelasan nantinya, karena Nizam bakal pindah ke Aceh" ucap Kevin.
"Ngapain pindah?" tanya Zemira.
"Dia itu dokter yang banyak diinginkan oleh beberapa rumah sakit terbesar diindonesia dari belahan mana saja, namun Nizam mencoba sedikit-sedikit sambil dia akan menentukan dia akan menetap bekerja dimana. Jadi, soal kejadian semalam itu membuat Nizam memutuskan untuk memilih bekerja disalah satu rumah sakit di Aceh. Dan mungkin juga dia akan pasrah dijodohkan dengan perempuan pilihan orang tuanya" jelas Kevin panjang lebar.
"Maaf ka Kevin, engga ada kaitannya sama aku. Jadi biarkan aja dokter Nizam safari kemana saja, itu bukan hak aku. Soal jodoh semuanya sudah menjadi ketentuan Tuhan, sejauh apapun dia akan pergi kalau memang dia yang ditakdirkan untuk Zemira. Dia akan selalu tau jalan untuk pulang" ucap Zemira.
"Loh ngomong gitu karena loh masih berpura-pura tegar dan ikhlas sama Fadil" sindir Kevin.
"Pura-pura atau tidak semua itu akan terbiasa ka, jadi jangan pernah bawa-bawa ka Fadil" jawab Zemira.
Kring.. kring..
Abi💌
Pulang nanti malam, ada hal yang ingin abi bicarakan.
Zemira membuka pesan dari abinya, fikirannya dipenuhi tanda tanya. Karena baru saja kemaren mereka bertemu, namun abinya tidak mengatakan apapun.
"Gue harap loh engga bakal nyesel karena udah ngelepasin laki-laki sebaik Nizam. Makasih waktunya" ucap Kevin lalu pergi.
"Apalagi sih ini" keluh Zemira sembari menyaggah kepalanya pada kedua tangannya.
Zemira kembali melanjutkan kerjanya, setelah waktu kerja habis sekitar jam sembilan malam Zemira keluar menuju sepeda miliknya.
"Aduh ban sepeda aku pake bocor lagi" keluh Zemira melihat ban sepedanya.
"Biar aku anterin aja mba" tawar Selina.
"Atau mau bonceng sama aku aja Zee" ajak Helena.
Bip.. bip..
Kelakson mobil yang tiba-tiba berhenti dipinggir terotoar depan tempat kerja Zemira, jendela mobil pun perlahan terbuka.
"Cepet masuk!!" perintah Nizam cuek.
"Dia fikir aku mau apa bareng sama dia" bisik Zemira.
"Gimana Ze? mau pulang sama siapa?" tanya Helena.
"Kalian duluan aja, aku pulang sama mobil itu" jawab Zemira.
__ADS_1
"Hati-hati ya Zee, kita duluan" ucap Helena.
Kedua teman kerja Zemira akhirnya pergi meninggalkan parkiran, lalu Zemira mengunci sepeda miliknya agar besok tidak hilang begitu saja. Kemudian akhirnya masuk kedalam mobil, walaupun sebenarnya Zemira ingin sekali menolak namun abinya pasti sudah menunggu dirinya.