
Zemira dan Nizam sudah duduk diruang tamu lesehan.
"Soal luka aku, sekarang udah engga papa ko ka Fadil nanti juga sembuh" ucap Zemira.
"Sebenernya aku kesini mau nganterin undangan pernikahan aku langsung ke kamu Zee, kamu orang pertama yang aku kasih" ucap Fadil menyodorkan udangan pernikahannya.
Zemira tersenyum bahagia, dan mengambil undangannya dengan penuh bahagia.
"Masyaallah, rasanya baru kemaren aku suka sama kamu ka" jawab Zemira.
"Dan sekarang kamu akan benar-bener bersama wanita itu" lanjut Zemira tersenyum haru.
"Makasih Zee, karena udah sempet suka sama aku dengan tulus" ucap Fadil
"Dua hari lagi aku akan menjadi seorang suami Zee" lanjut Fadil.
"Iya sebentar lagi ka, tanggung jawab kamu akan semakin besar karena ketika kamu meraih tangan ayah ka Indah saat qobul semua baik dan buruknya istri kakak nanti akan kamu tanggung. Maka bimbing ka Indah dengan baik ka, insyaallah akan menjadi keluarga yang Allah dan Nabi Muhammad ridhoi" pesan Zemira pada pernikahan Fadil.
"Oh ya mau minum apa?" tanya Zemira.
"Engga usah repot-repot Ze, ini yang didepan aja" jawab Fadil menunjuk kearah mineral gelas yang memang selalu tersediah diruang tamu dan sedikit makanan ringan.
"Sebentar ya aku panggilin dokter Nizam, biar kalian saling ngobrol" ucap Zemira bangkit dari duduknya.
Zemira melangkah masuk kedalam kamarnya, sedangkang diruang perpustakaan Anne dan Milla sedang bergosip.
Nizam sedang didepan leptopnya, Zemira menghela nafas dan sambil tersenyum melangkah mendekati Nizam.
"Dari tadi belum selesai juga buat laporan?" tanya Zemira.
"Eemm" jawab Nizam.
"Ada ka Fadil tuh didepan, sana ajak dia ngobrol temenin dia main catur kek apa kek soalnya abi engga ada dirumah" ucap Zemira.
"Kamu aja, dia kan kesini pengen ketemu kamu" jawab Nizam.
"Apaan sih, dia kesini nganterin undangan. Untuk Zemira dan suami" jelas Zemira sambil menunjukan selembar undangan dengan salah tingkah karena tulisan didepan undangan.
"Ka, ka dokter" panggil Zemira karena tidak mendapat respon dari Nizam.
"Iya kenapa? kamu engga liat saya lagi sibuk?" sahut Nizam.
"Saya, saya. Kenapa kamu marah kalau ka Fadil dateng?" tanya Zemira.
"Engga biasa aja" jawab Nizam jutek.
Zemira akhirnya duduk jongkong disamping kanan Nizam, sembari melingkari pinggang Nizam dengan tangan mungilnya lalu menempelkan wajahnya diperut Nizam.
"Temuilah dia dulu dok, basa-basi apa kek terserah dokter" bujuk Zemira.
"Aku engga suka kalau kamu panggil aku dokter, kakak dokter aku engga mau panggilan aku disamakan dengan panggilan kamu ke Fadil" ucap Nizam.
__ADS_1
"Yaudah kamu mau dipanggil apa?" tanya Zemira.
"Sayang" jawab Nizam.
"Yaa ampun, kamu ini ya" ucap Zemira mencubi perut Nizam.
"Aaaww.. sakit sayang" jawab Nizam.
"Yaudah-yaudah aku temuin Fadil dulu" ucap Nizam.
Muach..
Kecupan mendarat dibibir Zemira saat Nizam beranjak bangkit dari duduknya, lalu membantu Zemira berdiri.
"Coba aku mau denger kamu panggil aku sayang" ledek Nizam.
"Apaan sih, aku malu tau" ucap Zemira menempelkan wajahnya didada Nizam.
"Ayo cepet!! bilang sayang" perintah Nizam.
"Iya-iya sayang" ucap Zemira mendongkkan kepalanya sedikit menatap Zemira.
Dengan salah tingkah Nizam menjawab dengan senyuman lalu melangkah keluar dari kamar, dan disusul oleh Zemira yang kembali keruang perpustakaan.
Diruang tamu Nizam menghampiri Fadil yang tengah memainkan handphonenya.
"Maaf ya Dil lama biasa sibuk dirumah sakit dan sibuk juga dirumah" ucap Nizam.
"Hahaa..." Nizam tertawa puas melihat tingkah Fadil.
"Dokter jangan terlalu sibuk banget sama kerjaan, kasian Zemira dia juga butuh diperhatiin, dimanja, di.." ucap Fadil tiba-tiba dipotong Nizam.
"Udah-udah yaa, saya tau apa yang harus saya lakuin sama Zemir" jawab Nizam.
"Ngomong-ngomong apa yang memutuskan kamu untuk meneruskan pernikahan dengan Indah padahal kamu mulai sedikit menyukai Zemira" tambah Nizam.
"Cinta Zemira yang ngajari aku ketulusan dok, dia mencintai aku tanpa dia memaksa aku untuk tetap bersamanya. Bahkan anehnya dia rela terluka demi melihat orang yang dia cintai bahagia, dan aku bersyukur karena dia bisa bertemu dengan dokter" jelas Fadil.
"Jadi tolong dok jangan terlalu cuek sama Zemira" tambah Fadil.
"Zemira itu wanita yang susah aku cuekin Dil, makannya aku lamar dia tanpa basa-basi waktu itu karena dia wanita baik ketika dijadikan istri" jawab Nizam tersenyum.
Keduanya berbincang soal banyak hal kadang sambil tertawa, saling tukar menukar ilmu dan pengalaman.
Diruang perpustakaan Zemira kembali duduk disoffa sambil membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Helen, karena hari ini dia tidak bisa masuk kerja karena luka ditangannya sangat mengganggu.
"Mba" panggil Anne.
"Mba tau engga tadi pas Fadil dateng" tambah Milla.
"Kenapa emang?" tanya Zemira sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Suaminya mba ada dibelakang loh dengerin kalian ngobrol gitu, kayanya mau nyamperin tapi pas Fadilnya bahas luka ditangan mba dia langsung puter balik masuk kamar" jelas Milla.
"Kayanya cemburu kali mba suaminya mba" tambah Anne.
"Iya tau, tapi aku akan selalu punya cara buat bujuk dia" ucap Zemira tersenyum.
"Suami kamu ganteng banget mba, sumpah aku ampe pertama ngeliat dia kaya langsung mau jatuh cinta" ungkap Anne.
"Inget mau nikah!!" jawab Milla dan Zemira bersamaan.
Mereka pun tertawa bersama melihat ekspresi satu sama lain.
"Sayang" panggil Nizam yang tiba-tiba muncul diambang pintu.
Zemira merasa salah tingkah karena dipanggil sayang oleh Nizam.
"Oh, maaf menganggu. Aku fikir engga ada temen kamu" lanjut Nizam setelah melihat Anne dan Milla.
"Hai ka dokter" sapa Anne.
"Ko bisa tau kalau aku dokter? Kayanya Zemira udah banyak cerita" tanya Nizam.
"Engga banyak dok, tau sendiri Zemira diem-diem aja udah nikah kita sepupunya aja engga diundang" jawab Anne.
"Kalian sepupunya, oh aku pernah liat kalian berdua difoto" ucap Nizam.
"Udah yaa, ngobrolnyaa" sela Zemira ditengah obrolan Anne dan Nizam.
"Yaelah Zee, sama aku aja cemburu" ucap Anne.
"Apaan sih engga gituu" jawab Zemira lalu melangkah mendekat kearah Nizam.
"Kenapa masih disini? udah ayo" bisik Zemira langsung menggandeng Nizam kearah meja makan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Zemira.
"Kamu engga kerja hari ini" tanya bali Nizam.
"Oh soal itu, kamu mau nanya itu atau mau makan?" tanya lagi Zemira.
"Dua-duanya" jawab Nizam.
"Aku izin karena tangan aku masih luka, dan sekarang kamu mau makan apa?" ucap Zemira.
"Mau makan kamu boleh engga?" tanya Nizam.
"Boleh" jawab Zemira dengan tatapan meledek.
"Sekarang?" tanya Nizam serius.
"Hustt.. nanti ponakan aku ada yang denger gimana, udah-udah ah ngomongnya ngacoo" jawab Zemira mulai mengambilkan piring dan nasi untuk Nizam.
__ADS_1
Zemira menemani Nizam makan, dan sesekali Nizam menyodorkan suapannya pada Zemira. Cinta itu terlahir begitu saja, saat ini yang dialami Nizam dan Zemira.