Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-58 Malam Pertama Gagal


__ADS_3

Zemira setengah tersadar dari tidurnya, bangun karena pelukan yang diberikan Nizam.


"Hhmm" ucap Zemira terbangun dari tidurnya.


"Good night, sayang" sapa Nizam memandang wajah Zemira yang mengubah posisinya menghadap Nizam.


"Hemm" sahut Zemira yang masih terbius oleh tidirnya.


Nizam tertawa kecil melihat raut wajah Zemira yang masih belum sadar kalau saat ini Nizam berada disebelahnya.


"Aku berbohong demi kamu" bisik Nizam ditelinga Zemira dengan lembut.


Sekitar dua menit kemudian Zemira bangun enggeh dan sadar dari tidurnya lalu mulai menyadari kalau suaminya berada disebelahnya, spontan Zemira mendorong badan Nizam menjauh dari tubuhnya.


"K-kamu ngapain disini?" tanya Zemira terkejut sembari menutupi dadanya dengan bantal yang dia peluk.


"I miss you" ucap Nizam mendekatkan kembali badan Zemira.


"Kaa" jawab Zemira yang masih menutupi dadanya.


"Hem?" jawab Nizam.


"Menjauh, a-aku lagi engga pake bre" ucap Zemira malu.


"Aku udah nempel tadi, kenapa harus malu?" tanya Nizam.


"Lagian kamu ngapain disini ka? kalau oma tahu gimana pasti nanti marah, nanti terus oma dateng kesini terus ketem......" ucap Zemira panjang lebar namun dengan siggapnya Nizam langsung mengunci bibir Zemira dengan ciuman dibibirnya yang mendarat sangat cepat dan lama.


"Emm" ucap Zemira berusaha melepaskan bibir Nizam dibibirnya.


"Aaawww" Nizam langsung melepaskan ciumannya dan merasa kesakitan dibagian bibir bawanya dan sedikit berdarah.


"M-maaf ka" ucap Zemira panik.


Zemira langsung mengambil tissue dan menempelkannya dibibir Nizam yang baru saja tergigit oleh Zemira.


"Kenapa kamu gigit bibir aku?" tanya Nizam.


"Kamu kelamaan, aku kehabisan nafas tau" jawab Zemira yang masih mengobati luka dibibir Nizam.


"Kamu engga usah khawatir soal oma, aku udah telfon mama buat bilang ke oma kalau aku tidur dirumah sakit karena mengantuk kalau menyetir" jelas Nizam.


"Kamu bohong?" tanya Zemira.


"Iya demi kamu" jawab Nizam.


"Apa kita harus melakukan sekarang?" ucap Zemira menatap Nizam dengan pandangan penuh gairah.


"Engga malam ini sayang, aku capek" jawab Nizam yang langsung mendekap Zemira dan menutup matanya untuk tidur.


Zemira hanya menghela nafas dalam-dalam dan membalas kembali pelukan Nizam.


"Kamu engga mau ya punya anak sama aku?" tanya Zemira yang masih menatap Nizam.


Nizam langsung membuka matanya dan menatap Zemira, dan menghela nafas dalam-dalam.


"Ko kamu ngomongnya gitu?" tanya Nizam membalas tatapan Zemira.


"Ya habisnya setiap kali aku ajak kamu selalu ada aja alasannya" jawab Zemira antara jujur dan polos.


"Bukan gitu sayang" ucap Nizam.


"Justru aku pengen banget punya anak banyak dari kamu" tambah Nizam sembari mengelus pipi Zemira.


"Terus kenapa?" tanya Zemira yang semakin penasaran.


"Aku cuma takut, kalau kamu harus hamil akan membahayakan baby didalam perut kamu dan juga kamu. Aku tidak mau kalau harus dipaksa memilih antara kamu dan anak kita nanti" jelas Nizam.

__ADS_1


"Emang kenapa kalau Zemira hamil dan membahayakan?" tanya lebih lanjut Zemira.


"Karena fobia kamu terhadap rumah sakit, sedangkan orang hamil harus sering-sering kontrol kerumah sakit, minum vitamin, dan...." jawab Nizam menghentikan ucapannya.


"Zemira bisa hamil dan merawat baby didalam perut dengan aman, jadi kakak engga usaha khawatir soal itu" ucap Zemira.


"Karena aku tidak mau kehilangan kamu terlalu cepat" jawab Nizam mendekatkan wajahnya kewajah Zemira.


Zemira hanya memberikan senyuman, hidung keduannya saling menempel. Bahagia rasanya karena Zemira rasa bahwa Nizam memang benar-bener dihadirkan untuk dirinya.


Keduanya akhrinya memutuskan untuk tidur kembali dengan saling memeluk satu sama lain.


Pukul empat dini hari, Zemira terbagun lebih awal dari Nizam. Bahkan Zemira begitu menikmati sekali dengan wajah Nizam yang tertidur menghadapnya, sesekali Zemira tertawa kecil saat menyentuh beberapa bagian wajah Nizam.


"Untung aja cuma aku perempuan yang bisa ngeliat kamu saat tidur kaya gini" ucapnya lirih yang masih menyentuh beberapa bagian wajah Nizam.


Sesekali Zemira juga memberikan ciuman kecil dibagian pipi kanan dan kiri lalu dikening juga, Zemira sangat bahagia dan menikmatinya.


Selang beberapa menit kemudia Zemira dengan terpaksa beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai mandi, Zemira membangunkan Nizam seusai melakukan sholat tahajud.


"Ka dokter" panggil Zemira ditelinga Nizam dengan lembut.


"Hemm" sahut Nizam.


"Bagus ka, sebentar lagi adzan" ucap Zemira.


"Kiss" pinta Nizam sedikit memanyunkan bibirnya.


"No!! Zemir udah wudhu ka nanti aja" jawab Zemira.


"Kamu tahu kan hukumnya menolak permintaan suami" ucap Nizam.


"Iya-iya deh" jawab Zemira.


Muach..


Dimusholah Nizam, Pratama dan Zemira melakukan sholat subuh berjama'ah. Sholat pertama bersama Nizam bagi Zemira setelah datang bulan.


"Pratama setelah mengaji siap-siap buat berangkat sekolah dan pergi kesekolah diantar ka dokter pulang tante jemput" ucap Zemira sembari melipat mukenah miliknya.


"Engga mau ah, aku mau naik motor" jawab Pratama.


"Engga ada, engga boleh" ucap Zemira kekeh.


"Ka dokter tampan, bujukin dong istrinya dari semalem jadi nyebelin kaya ibu sama ayah" Pratama merayu Nizam agar membantunya.


"Sayang, jangan gitu ah sama Pratama kasih loh dia mau berusaha mandiri" ucap Nizam.


"Boleh bawa motor dengan satu syarat" tawar Zemira.


"Apa tan syaratnya?" tanya Pratama.


"Langsung pulang, engga ada nongkrong-nongkrong" jawab Zemira tersenyum sinis.


"Engga mau tante, syaratnya memberatkan sebelah pihak" ucap Pratama.


"Aku akan minta temen jemput aja kalau gitu" tambah Pratama lalu pergi begitu saja.


"Kamu liat, Pratama dulu terlalu dimanjakan sama mba aku dulu jadi susah diatur" ucap Zemira mengomel.


"Sayang" panggil mesra Nizam.


"Kamu harus pake hati kalau ingin didengar dan dipatuhi sama orang" ucap Nizam tersenyum lalu memeluk Zemira.


"Maaf ya aku jadi marah-marah sepagi ini" jawab Zemira mengalah.

__ADS_1


"Sekarang kamu kasih deh kunci motornya terus bilang maaf" saran Nizam.


"Ok, aku kekamarnya dulu" ucap Zemira.


Zemira melangkah kearah kamar Pratama, lalu membuka pintunya. Ternyata Pratama sedang mengaji, Zemira hanya menghela nafas dalam-dalam lalu menutup kembali pintunya.


Dia memutuskan akan meminta maaf saat sarapan, Zemira menyiapkan sarapan setelah mengganti pakaiannya.


Muach..


Nizam menciuman Zemira dibagian pipi saat sedang masak nasi goreng, bahkan tidak segan-segan Nizam juga memeluk Zemira dari belakang.


"Ka Nizam" ucap Zemira langsung melepaskan tangan Nizam yang melingkar dipinggangmya dan membalikkan badannya.


"Jangan gitu kalau diluar kamar, kalau ada anak kecil liat gimana. Itu bakal jadi contoh yang buruk" lanjutnya.


"Iya-iya maaf sayang" jawab Nizam.


"Apa kita beli rumah aja, cuma tinggal berdua biar lebih leluasa mesra-mesranya" ucap Nizam.


Plak..


Zemira memukul dada Nizam, lalu keduanya tertawa bersama. Pratama keluar dari kamarnya yang tidak terlalu jauh dari meja makan.


"Pratama sini" perintah Zemira.


"Iya tante" jawabnya menghampiri Zemira.


"Sarapan dulu ya sebelum sekolah" ucap Zemira dengan senyuman.


"Tante engga lagi kesambet kan?" tanya Pratama merasa aneh dengan tingkah Zemira.


"Udah jangan ngomong terus nanti telat kesekolah" ucap Zemira sembari memberikan kunci motornya disebelah Pratama.


"Kamu pergi naik motor sendiri aja, tapi inget nongkrong harus tau waktu" tambah Zemira.


"Iya tante, tenang aja. Pratama bakal atur waktu sebaik mungkin" jawab Pratama.


"Yaudah dimakan, ini bekel kamu ya dibawa sekalian" ucap Zemira.


"Makasih tante" jawab Pratama.


"Belajar yang rajin" ucap Nizam sembari memberantakan gaya rambut Pratama.


"Apaan sih nih pak dokter" jawab Pratama kesal sembari merapihkan kembali rambutnya.


"Udah-udah dimakan sarapannya" ucap Zemira.


"Pak dokter engga pulang?" tanya Pratama.


"Iya ka, kamu engga pulang?" tambah Zemira yang ikut bertanya.


"Iya sebentar lagi" jawab Nizam sembari mengambil roti isi keju yang dibuat Zemira.


"Kakak sebaiknya pulang deh, aku engga mau nanti oma dateng kesini. Abi dan yang lain akan sampai dirumah" ucap Zemira.


"Terus setelah abi sampai dirumah, terus nanyai keberadaan aku gimana?" tanya Nizam semakin membuat Zemira berfikir.


"Aku jamin tante engga bakal bisa bohong" ucap Pratama.


Zemira menghela nafas dalam-dalam dan berfikir ucapan Nizam, ditambah ucapan Pratama ada benernya juga.


"Aku akan coba berbohong" jawab Zemira.


"Tapi kakak engga pandai kalau bohong" ucap Pratama.


"Tetap tante akan coba" jawab Zemira percaya diri.

__ADS_1


Nizam tertawa kecil sembari menatap kegigihan Zemira yang penuh dengan semangat, Zemira membalas dengan senyuman saat melihat Nizam menatapnya.


__ADS_2