
Keesokan harinya, saat itu Zemira bersiap untuk berangkat kerja kebetulan sedang shift siang.
“Kang Faisal ngapain disini?” tanya Zemira terkejut melihat keberadaan Faisal yang berada didepan toko.
“Nunggu kamu, habisnya aku telfon engga diangkat jadi aku nunggu kamu keluar” jawab Faisal.
“Iya terus, kang Faisal ada maksud apa kesini?” tanya lagi Zemira dengan jelas.
“Mau nganterin kamu kerja, kebetulan aku lagi off kerjanya. Jadi aku kesini mau jemput kamu” jawabnya dengan jelas.
“Tapi aku engga minta kang Faisal jemput atau anterin, aku ngerasa engga wajar aja jadi mending kang Faisal pulang istirahat manfaatin waktunya buat istirahat okeh” ucap Zemira melangkah.
Namun langkahnya terhalang oleh Faisal yang menghalangi Zemira berusahan membujuk agar menerima tawaranya untuk mengantarkannya ketempat kerja.
“Kang!! Kang Faisal faham engga sih kalau aku engga mau dianter” ucap Zemira mulai kesal.
“Please! kasih aku kesempatan buat deket lagi sama kamu Zee, aku minta maaf kalau aku udah buat salah sama kmau” rayu Faisal membujuk Zemira.
Zemira merasa tidak tega dengan ketulusan Faisal yang berusaha memberikan yang terbaik pada dirinya.
“Ok, cuma sekali ini aja. Setelah itu please kang jangan jemput atau nganterin aku pulang atau berangkat kerja. Aku engga butuh semua itu. Aku bisa pergi dan pulang sendiri, dan aku engga mau orang lain salah faham” ucap Zemira memberikan kesepakatan.
“Ok aku janji, tapi jangan larang aku yang berusaha pengen deket lagi sama kamu” jawab Faisal menyetujuinya.
“Terserah” ucap Zemira pasrah.
Akhirnya Zemira memutuskan untuk ikut dengan Faisal pergi menaiki sepeda motor.
Sebrang tempat kerja Zemira berdiri tepat Fadil didepan sana dengan salah satu teman kerjanya yang melihat kearah Zemira yang turu dari motor Faisal.
“Dil bukannya itu Zemira ya” ucap Julianto teman Fadil yang sempat berkenalan dengan Zemira beberapa hari yang lalu.
“Bentar ya bro, aku mau kesana dulu” jawabnya menatap tajam kesebrang sana.
Fadil menyerang jalan raya menghampiri Zemira dan Faisal yang baru saja sampai didepan tempat kerja Zemira.
“Makasih kang” ucap Zemira memberikan helem milik Faisal.
“Sama..” jawab Faisal terputus.
“Oh jadi gini, menjaga perasaan Indah itu Cuma sebagai alasan kamu buat bisa jalan sama laki-laki ini kan Zee” ucap Fadil yang tiba-tiba datang dan langsung ngomong kaya gitu.
“Maksud kakak apaan sih? Dateng-dateng ngomong kaya gitu” jawab Zemira tambah badmood.
__ADS_1
“Sekarang aku ngerti dan faham alasan kamu minta aku buat engga akrab ke kamu ternyata kamu lagi jaga perasaan cowo ini” ucap Fadil semakin marah.
“Apaan sih bro dateng-dateng nuduh yang aneh-aneh” jawab Faisal.
“Kang Faisal sebaiknya pergi, dan sekali lagi makasih” ucap Zemira berusaha mengabaikan Fadil.
“Yaudah, nanti aku jemput kamu lagi ya” jawab Faisal menawarkan diri.
“Engga perlu, aku yang bakal nganterin Zemira pulang” ucap Fadil ketus.
“Engga usah semuanya, aku bakal nyuruh Dullah buat jemput” jawab Zemira tegas.
“Abdulallah sibuk, lagian ibu sama bapak bakal kerumah kamu nanti malem. Jadi mau engga mau kamu harus pulang bareng aku” ucap Fadil melangkah pergi dan menyebrang.
“Dia siap sih Ze, ngatur-ngatur kamu” tanya Faisal.
“Udah-udah aku pusing sekarang aku mau kerja, kamu bisa pergi sekarang” jawab Zemira pasrah.
Zemira melangkah masuk ketempat kerja sedang Faisal meninggalkan halaman tempat kerja Zemira dengan perasaan kesal karena Fadil, yang seolah-olah Zemira itu kekasihnya.
“Aku fikir aku yang bakal peranin pelakor dikisah Fadil dan Indah, taunya mba Zemira yang pura-pura memikirkan perasaan wanita lain tapi nyatanya Cuma omong kosong” ucap Selina tiba-tiba setelah Zemira meletakan tas miliknya diloker.
“Terkadang seseorang hanya bisa menilai lewat mata yaitu penglihatan, tidak bisa dengan hati kalau hatinya buta akan kebencian” jawab Zemira tenang.
“Udah-udah kita ini patner jangan saling sindir menyindir kaya gitu, kaya engga ada laki-laki lain aja. Kenapa mesti suka sama satu cowo yang sama sih” ucap Windi menghentikan.
Jam kerja berakhir, Zemira keluar dari tempat kerja dan disambut oleh Fadil disebrang sana yang sedang makan mie diwarung depan yang biasa dia beli.
Kring..
Pesan masuk diponsel Zemira.
💌Ka Fadil
‘Sini aku traktir mie, mie disini enak’(Fadil)
“Nyusahin” dumel Zemira melangkah untuk nyebrang.
“Masih lama engga?” tanya Zemira bete.
“Baru juga makan, udah sini duduk” jawab Fadil santai.
“Bu es teh tarik ya ka Fadil yang bayar” ucap Zemira memesan, lalu duduk disebelah Fadil.
__ADS_1
Kebetulan warung saat itu sedang sepih hanya ada Fadil dan Zemira, sesekali Zemira melirik kearah Fadil bahkan tidak segan menatap makanan yang sedang dimakan Fadil.
“Enak engg sih? Kayanya enak” tanya Zemira penasaran.
“Enak ko, cobain aja dulu nih” jawab Fadil menyodorkan satu suapan sendok didekatkannya dimulut Zemira.
Zemira menerima satu suapan dari Fadil, dan Fadil menatap Zemira dengan senang karena melihat ekspresi Zemira yang menikmati makanan yang dimutnya.
“Gimana?” tanya Fadil.
“Em.. enak” jawab Zemira sembari menghabiskan kunyahannya.
“Nih habisin” Fadil menyodorkan mangko yang ada ditangannya.
“Lumayan” jawab Zemira menerima dengan senang hati.
"Oh ya, ibu sama bapak kamu kerumah abi ada apa?" tanya Zemira sambil mengunya makanan yang ada dimulutnya.
"Melamar kamu" jawab Fadil sembari meminum minumannya.
"Apa? kamu bercanda, engga lucu tau engga" ucap Zemira merasa kalau Fadil sedang membuat lelucon.
"Aku serius, jawaban ada ditangan kamu" jawab Fadil serius.
"Kamu gila ya, buruan anter aku kerumah" ucap Zemira buru-buru.
"Cepetan!!!" tambah Zemira sudah bergegas mengambil helm.
Setelah Fadil membayar mereka berdua langsung pergi menuju rumah Zemira.
"Abiii" panggil Zemira dengan langkah yang sangat cepat.
"Zemira" Abi kaget karena kedatangan putrinya.
"Abi sudah bilang, jangan datang kerumah kalau Abi tidak kasih izin. Kenapa kamu kesini?" ucap Abinya menghentikan langkah Zemira yang berada diambang pintu utama.
"Fadil yang memberitahu kalau ibu dan bapak datang untuk melamar Zemira" jawab Fadil.
"Dan Zemira datang kesini untuk menolaknya Abi" ucap Zemira.
"Kenapa sayang?" tanya Ibu Fadil menatap Zemira.
Langkah Zemira mendekat kearah Ibunya Fadil dengan rasa harap agar ibunya boleh faham.
__ADS_1
"Ibu, Zemira seorang perempuan dan ibu juga. Bagaimana sesama perempuan bisa saling menyakiti satu sama lain, kalau ka Fadil sama Zemira akan ada dua wanita yang terluka. Sedang kan kalau ka Fadil tetap bersama dan menikah dengan ka Indah hanya akan ada satu hati yang terluka. Jadi aku mohon ibu, restui ka Fadil dan ka Indah" penjelasan Zemira panjang lebar sembari memohon.
Disaksikan oleh ibu dan bapak Fadil, ada paman Ahmed juga dan ada Abi Zemira.