
Sekitar jam sembilan siang, Zemira terbangun dari tidurnya.
"Hemmm.." Zemira menghela nafas sembari memandang Nizam yang masih tidur menghadapnya.
"Masyaallah ternyata dia ganteng banget, pantes aja banyak cewe yang ngantri. Apalagi mantannya pasti susah banget move on dari nih cowo, untung cuma aku yang sekarang ngeliat dia tidur" ucapnya lirih penuh dengan kehati-hatian agar Nizam tidak terbangun karena ocehannya.
Zemira terus menikmati wajah Nizam dengan kedua matanya yang penuh dengan kekaguman, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka.
Krek..
"Mbaa!!" Panggil Anne sahabatnya yang membuka pintu kamar Zemira.
Dengan kaget, Zemira segera menjauh dari wajah Nizam yang sedang tidur. Zemira juga memberikan kode dengan tangannya menyuruh Anne untuk keluar dulu, akhirnya Anne keluar dan pintu ditutup kembali.
"Gila itu orang ya" upat Zemira yang bergegas turun dari tempat tidurnya.
Namun tangan Nizam spontan menahan lengan Zemira dengan manja.
"Mau kemana sayang?" tanya Nizam yang setengah sadar.
"Sebentar dok aku ada temen diluar" jawab Zemira sedikit salah tingkah dengan panggilan Nizam padanya.
Nizam langsung melepaskan tangannya dan membiarkan Zemira pergi, namun Zemira sangat tidak tega meninggalkan suaminya yang tampan itu. Zemira memberikan ciuman dikening Nizam, sekiranya untuk menunjukan bahwa dia sangat ingin tetap tidur disebelahnya namun Anne yang tiba-tiba datang mengacau.
Zemira keluar dari kamarnya, Zemira terkejut karena Anne dan Milla sudah disisi pintu kamarnya kanan dan kiri.
"Yaa ampun, aku kaget. Ngapain kalian nunggu disini pada udunan engga pada bisa duduk?" keluh Zemira melangkah kearah ruang tamu dan duduk dilesehan ruang tamu.
"Serius kamu udah nikah mba?" tanya Milla.
"Parah sih ini, kamu engga kasih tau kita berdua. Dan untungnya tadi pagi abi dateng kerumah dan cerita soal kamu yang udah nikah, aku kaget banget langsung aku telfon Milla dan ternyata dia juga engga tau kamu udah nikah" jelas Anne panjang lebar.
"Sorry banget semuanya serba mendadak, tapi kalian tenang aja. Aku bakal ngadain resepsi soalnga rekan kerja dan temen dokter Nizam juga belum pada tau" alasan Zemira.
"Dokter?" ucap keduanya terkejut.
"Bukannya mba fobia ya sama hal-hal yang barbau rumah sakit ko bisa nikahnya sama dokter" tanya Milla.
"Iya bener aneh banget, jangan bilang itu dokter yang kamu kasih pinjem kamar kamu" tambah Anne.
"Iyaa, dia ponakan paman Ahmed" jawab Zemira.
"Kayanya abi sengaja tuh minjemin kamer mba ke dokter itu mau ngejodohin kalian berdua" ucap Milla.
"Entahlah, initinya aku wanita yang beruntung bisa menikah sama dia. Tapi entah buat dia, mungkin menikah sama aku itu adalah ujian terbesar yang harus dia hadapi" jawab Zemira pesimis.
__ADS_1
"Apaan sih mba, engga gitu tau. Mba itu wanita hebat yang dapetin juga pasti sangat beruntung, yang membedakan mba sama dia itu cuma dipekerjaan ko bedannya dia berpendidikan dan jadi dokter" ucap Milla.
"Iya bener banget, kamu berharga dan istimewa mba" tambah Anne yang kemudian merangkul Zemira.
Ketiganya berpelukan hangat, hal yang biasa diantara ketiganya. Ketika disalah satu mereka merasa bahwa dirinya tidak mampu atau kekurangan lain pasti saling memberikan suport satu sama lain.
"Udah-udah sedihnya, aku laper" ucap Anne ditengah mereka berpelukan.
"Makan aja fikirannya" ledek Milla.
"Yaudah hayo keruang makan, kayanya mba aku masak deh" ucap Zemira.
Mereka pergi menuju dapur, langsung Milla dan Anne menghampiri meja makan yang sudah terhidangkan beberapa masakan. Semua anggota keluarga sedang berkumpul diruang keluarga, sibuk menonton televisi.
"Ayo makan yang banyak" ucap istri Hasan.
"Milla sama Anne kapan datengnya?" tanya abang Hasan.
"Baru aja bang, tadi nebeng sama abi sekalian kesini. Tapi abinya mala pergi lagi sama Dullah" jawab Milla.
"Bang, makan bang" ucap Anne yang sudah siap menyantap makanannya.
"De kamu engga makan?" tanya kakak perempuan.
"Iya nanti mba, aku mau mandi dulu" jawab Zemira.
"Engga papa bang, nanti juga sembuh" jawab Zemira.
Lalu melangkah pergi kembali kekamarnya, setelah masuk kedalam kamarnya Nizam sudah duduk dimeja belajar Zemira sambil membuka leptop miliknya.
"Loh ko udah bangun?" tanya Zemira dan menghampiri Nizam.
"Iya, ada beberapa laporan yang harus dikirim" jawab Nizam yang sama sekali tidak melirik kearah Zemira.
Zemira memelukan Nizam dari belakang, lalu menyederkan kepalannya dibahu Nizam.
"Mau mandi bareng engga?" tanya Zemira dengan nada berbisik ditelinga Nizam.
"Emang kamu udah selesai haidhnya?" tanya Nizam.
"Udah sekalian mandi besar" jawa Zemira.
Nizam langsung melihat kearah Zemira dengan tersenyum, menempelkan hidungnya pada hidung Zemira.
"Kamu terlalu berani jadi perempuan" jawab Nizam.
__ADS_1
"Yaudah kalau engga mau" ucap Zemira langsung melepaskan pelukkannya.
"Hey.." jawab Nizam menahan pinggang Zemira.
"Aku belum jawab engga mau loh" ucap Nizam tersenyum.
Nizam langsung bangkit dari duduknya lalu mengangkat badan Zemira masuk kedalam kamar mandi bersama, keduanya mandi berdua.
Setelah selesai Zemira keluar dari kamar mandi terlebih dahulu yang hanya memakai handuk dan itu milik Nizam.
Segera Zemira memakai bajunya lalu menyodorkan handuk tadi ke Nizam yang masih dikamar mandi, namun dengan isengnya Nizam mala menyentuh tangan Zemira sehingga langkahnya tertahan.
"Ka dokter lepasin!!" ucap Zemira.
"Kamu engga mau mandi lagi?" tanya Nizam.
"Jangan bercanda ya" jawab Zemira.
"Barangkali berubah fikiran" ucap Nizam lalu melepaskan tangan Zemira.
Zemira melangkah keluar dari kamarnya dan menghampiri Anne dan Milla diruang perpustakaan yang pintunya terbuka lebar, yang berada disebelah kamar Zemira.
"Lagi ngapai woy" ucap Zemira sembari duduk disebelah Anne sedangkan Milla duduk dibawa soffa.
"Lagi baca buku lah, masa lagi tidur" jawab Anne.
"Biasa aja dong jawabnya" sahut Zemira.
"Eh mba, ngomong-ngomong kenalin dong suami mba ke kita-kita" ucap Milla.
"Iya nanti yaa" jawab Zemira.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi" panggil seseorang dari depan pintu utama.
"Bentar ya kayanya ada orang" ucap Zemira bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar ruangan menuju pintu utama.
"Ka Fadil? ngapai kesini ka?" tanya Zemira setelah melihat tamunya adalah Fadil.
"Aku cuma mau tau gimana sama luka ditangan kamu" jawab Fadil.
"Apa udah mendingan?" lanjut Fadil.
"Apa mau aku bantu mengganti perbannya?" tambah Fadil.
__ADS_1
Tiba-tiba Nizam berada dibelakang Zemira yang tidak sengaja mendengar ucapan Fadil soal luka ditangan Zemira, jadi Fadil lebih dulu tau soal luka ditangan Zemira itu fikirnya. Lalu Nizam berbalik badan dan melangkah masuk kembali kekamar, sedangkan Milla dan Anne mengintip dari balik pintu perpustakaan yang tidak jauh dari pintu utama dan melihat adegan tersebut.