
Keesokan harinya, saat jam makan siang Fadil menghampiri tempat kerja Zemira dan kebetulan sekali Zemira berada tepat ditempat Fadil berdiri.
"Ka Fadil, ngapain?" tanya Zemira terkejut.
"Ehem cie.. cie.. udah ada yang berani nyamperin nih" ledek Helena.
"Iya tumben kamu Dil biasanya juga engga pernah berani" lanjut Windi kompak.
Sedang Selina hanya terdiam dan juga terlihat kesal, karena Selina memang tidak terlalu akrab dengan Fadil hanya sekedar kenal sedang Helena, Windi dan Zemira sempat chattingan dan bahkan dulu sering videocall sekalipun Fadil sedang dines.
"Iya mba ada perlu sebentar sama Zemira" jawab Fadil nyengir.
"Cih elah perlu apaan tuh" jawab Windi semakin ngomporin.
"Perlu apa?" tanya Zemira malu.
"Ini" memberikan tepak makan berbentuk kotak.
"Ini apa?" tanya Zemira.
"Ini dari ibu, aku disuruh buat ngasih ini ke kamu" jawab Fadil berbisik.
"Oh gitu, yaudah bilangin sama ibu makasih ya. Nanti aku balikin tempatnya" ucap Zemira.
"Udah gampang masalah tempatnya, simpen aja dulu" jawab Fadil.
"Udah ya kalau gitu engga enak sama semua temen kamu" tambah Fadil.
"Iya aku juga engga enak sama temen-temen kamu juga, liatin tuh mereka lagi pada ngeliatin kesini semua. Kayanya kamu terlalu menarik buat jadi pusat perhatian" ucap Zemira.
"Cielah lama bener dah ngobrolnya" serobot Helen.
"Yaudah aku pergi dulu" ucap Fadil.
"Iya hati-hati" jawab Zemira.
Fadil pun berbalik badan dan kembali ke tempat kerjanya, karena tempat kerjanya tepat didepan kerjaan Zemira jadi hanya menyebrang jalan eaya saja. Dan tampak dari jauh semua teman Fadil melihat kearah Zemira yang sedang berdiri tepat didepan sebrang sana, mereka terlihat meledek Fadil dari sebrang sana.
__ADS_1
Kebetulan Fadil shift pagi dan sekitar jam tiga sore dia pulang karena berganti shift, diparkiran Fadil menunggu Indah kekasihnya. Indah adalah seorang wanita yang lembut, cantik, kulitnya putih dan juga baik. Indah juga bekerja sebagai suster dirumah sakit tempat Fadil bekerja.
"Ngapain kamu ketemu cewe itu?" tanya ketus Indah.
"Cewe mana?" tanya balik Fadil.
"Engga usah pura-pura engga tau Dil, tadi siang kamu nyamperin dia kan. Pake acara kasih kotak bekel lagi, sejak kapan kamu sok perhatian sama dia. Udah mulai suka kamu sama dia" jawab Indah marah.
"Sayang kamu salah faham, aku cuma nyampein apa yang ibu suruh itu aja engga lebih" jelas Fadil jujur.
"Sejak kapan Zemira deket sama Ibu kamu, sampe-sampe ibu kamu nyempetin buatin bekel buat Zemira" tanya Indah makin cemburu.
"Jadi gini sayang, Zemira itu putri dari anak sahabat ayah lagian umi Zemira itu udah engga ada dari Zemira kelas tiga sd jadi ibu mau ngasih perhatian ke Zemira karena ibu tahu kalau Zemira pasti kurang kasih sayang seorang ibu" jelas panjang lebar Fadil.
"Beneran, kamu engga bohong kan?" tanya Indah meyakinkan.
"Iya sayang" jawab Fadil memeluk Indah dengan hangat.
Keduanya pun berbaikan dan pulang bersama seperti biasa, ditempat kerja Zemira semua karyawan makan karena memang sekitar jam empat baru makan siang bagi yang shift siang dan kebetulan Zemira sedang shift siang.
"Sel kamu kenapa sih dari tadi diem aja?" tanya Helena sambil mengunyah makananya.
"Pasti gara-gara Fadil tadi siang sengaja ketemu Zemira, cemburu ya" ledek Windi sambil tertawa.
"Engga, ngapain cemburu" jawab Selin cuek.
Zemira hanya menelan ludahnya dan menarik nafas perlahan, karena Zemira tahu kalau Fadil memilih salah satu diantara dirinya atau Selina maka akan ada yang terluka oleh itu.
"Oh ya Ze, ngomong-ngonong Fadil kenapa sih kesambet ya ko tumben banget kesini" tanya Windi mulai kepo.
"Iya bener, sejak kapan hubungan kalian seakrab ini" tambah Helena.
"Ka Fadil cuma disuruh ibunya, udah engga kurang engga lebih" jawab singkat padat Zemira.
"Ibunya?" jawab bersamaan Helena dan Windi sedang Selina menatap tidak suka.
"Jangan mikir aneh-aneh dulu" jawab Zemira mengunyah sisa makanan yang ada dimulutnya.
__ADS_1
"Ibunya dan ayahnya adalah temen baik abi" lanjut Zemira setelah menyelesaikan kunyahannya.
"Gila ya Ze takdir emang bener-bener engga nanggung-nanggung, kamu udah deket banget sama Ibunya sampe Ibunya Fadil seperhatian itu sama kamu. Lah sedangkan pacarnya belum tentu dapet perhatian sama kaya yang dikasih ke kamu" ucap Windi panjang lebar.
"Apaan sih lebay tau engga" jawab Zemira mengalihkan suasana.
"Bener tau Ze yang dibilang Windi, kamu tuh beruntung dan juga hebat. Keren deh pokonya" tambah Helena.
"Udah ah kapan selesainya makan sambil ngerumpi kaya gitu" jawab Zemira.
"Yeh elah namanyanya juga jiwa-jiwa kepo merontah-rontah" ucap Helena.
Mereka mengakhiri obrolannya tentang sosok Fadil yang memang sangat terkenal dikalangan kaum wanita, dan itu salah satu alasan Zemira sangat membenci Fadil dan juga cintanya kepada Fadil karena Zemira berfikir kalau dia mencintai orang yang salah karena sebelumnya dia sangat pantang menyukai laki-laki yang sangat terkenal ditambah sangat berprestasi. Namun rasa itu datang secara begitu saja tanpa disadari, bahwa dia telah menjadi candu untuk matanya yang melihat dengan teduh dan sendu.
'Andai sang waktu boleh ku atur, aku ingin waktu selalu berpihak padaku. Aku ingin selalu punya waktu dengan dirinya, melihatnya tersenyum, tertawa, bercerita, bergurau dan masih banyak lagi tentangnya' Zemira Nuruddin
Tepat pukul sembilan malam, jam kerja Zemira berakhir. Zemira menunggu adiknya menjemput karena biasanya naik sepeda, kebetulan sepedanya harus masuk bengkel terpaksa dia diantar dan dijemput oleh adiknya.
Windi, Helena dan Selin sengaja menunggu Zemira sampai dijemput karena sudah menjadi tradisi setia mereka sebagi patner.
Tiba-tiba seseorang berhenti dihadapan mereka yang sedang duduk diteras area warung, lalu pengemudi membuka helemnya. Namun hati Zemira sudah mengenali akan sosok itu, semua mata menatap karena penasaran siapakah sosok dibalik helem itu fikir mereka.
'Ngapain lagi sih ka Fadil' ucap Zemira didalam hati.
"Fadil?" bersamaan Helena dan Windah memanggil dengan terkejut.
"Hai" sapa Fadil dengan senyuman.
"Belum puas siang tadi ketemu, harus ya sekarang ketemu lagi" ucap Helena.
"Aduhh so sweet banget mulai laper aku" tambah Windi semakin membuat keru keadaan.
"Ngapain?" tanya Zemira sambil menggerakan alis tebalnya keatas.
"Aku duluan ya lagian mba Zemira udah dijemput" ucap Selina memecahkan kegembiran menjadi kelesuhan.
"Ko gitu sih Sel" jawab Helena.
__ADS_1
"Iya ih Selina, ngambekan" tambah Windi.
Selina mengabaikan dan langsung pergi menaiki motor miliknya, sedang Zemira bergantian menatap Windi dan Helena. Suasana menjadi hening dan sedikit canggung karena Selina yang pergi begitu saja meninggalkan mereka.