
"Emang sekarang Zemira kaya gimana pah? cantik engga?" tanya laki-laki itu.
Dasar kaya sendirinya ganteng aja, ucap Zemira dalam batin mendengar kalimat yang dikeluarkan laki-laki itu.
"Kenapa kalau sekarang dia engga cantik?" tanya balik Zemira gatal ingin berbicara.
"Siapa sih loh ikut-ikutan aja dehh, udah sana-sana nguping aja bilangin sama tante gua nihh biar dipecat kerjanya engga bener" jawab laki-laki itu kesal.
Zemira setengah bangkit dari duduknya karena ingin pergi, kesal dengan tingkah laku laki-laki itu.
"Zemira tetaplah disini" pinta bapak itu.
"Hah? Zemira?" laki-laki itu tercengang mendengar papahnya memanggil wanita yang dihadapannya dengan nama Zemira.
__ADS_1
Akhirnya Zemira duduk kembali sambil menatap kesal kearah laki-laki itu, tersipu malu yang saat ini dirasakan laki-laki itu saat tahu kalau perempuan yang sedang diobrolkan dengan papahnya berada dihadapannya.
"Sorry Zee, gua engga bisa ngenalin loh sumpah" permintaan maaf laki-laki itu pada Zemira.
"Maaf, kamu siapa sih? aku engga kenal kamu" jawab Zemira.
"Loh lupa sama gua Zee, keterlaluan loh emang yaa" laki-laki itu mulai kesal karena Zemira tidak ingat tentang dirinya.
"Itu loh Zee yang dulunya kurus kerempeng, item lagi anaknya om namanya Kholid kakaknya Fais" jelas bapak itu mengingatkan Zemira siapa laki-laki yang ada dihadapannya.
"Dan om, om Jamal ya. Yaa Allah, maaf om aku baru inget beneran tadi engga inget" lanjut Zemira tertawa.
Kholid yang berada didepan Zemira tersenyum melihat perempuan yang ada didepannya tertawa, tentu saja pandangannya tak lepas dari melihat Zemira.
__ADS_1
"Ehem, jangan diliatin terus. Biar halal kamu lamar dulu, inget wanita baik sangat langkah didapatkan. bukan dia yang cantik rupanya, tapi dia yang baik agamannya. Ingat ituu" om Jamal membuyarkan pandangan Kholid pada Zemira yang jelas-jelas dari tadi menatap Zemira.
"Apaan sih pah, ini udah engga zaman kuno tau. Engga trend rasanya kalau pacaran" jawab Kholid.
"Islam itu engga ada yang kuno dan trend, hukum islam tetap sama dari dulu sampai sekarang engga ada tuh istilah dulu islam larang untuk pacaran. Dan sekarang islam izinin buat pacaran, jelas-jelas itu sih maunya kamu!!" ucap Zemira marah lalu bangkit dari duduknya lalu pergi.
"Zee loh mau kemana, ngambekan ya loh" halau Kholid namun tidak berhasil.
"Nak, dia bukan perempuan kebanyakan. Dia sedikit berbeda dan istimewa, kalau kamu suka papah bisa lamarkan nanti papah bicara sama umi" ucap om Jamal menepuk-nepuk pundak Kholid.
Tentu Kholid tersenyum lebar, bagaimana tidak cinta monyet yang terus-terus menghantuinya yang tidak pernah ada ujungnya dan akhirnya dipertemukan kembali bahkan Zemira tumbuh cantik menurut Kholid dan papahnya.
Kholid adalah sosok laki-laki baik, sedikit menjengkelkan karena kerjanya keluyuran, manja sering minta uang kedua orang tuanya, bahkan kulianya sering bolos, dan dia laki-laki yang suka memainkan perempuan.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Zemira tentunya sedikit berbeda, karena perempuan satu ini yang tidak mudah didekati dengan rayuan ataupun gombalan. Semakin menantang untuk Kholid mendekati wanita satu ini, sayangnya Zemira tidak akan semuda itu bisa didapatkan apalagi dengan laki-laki tengil seperti Kholid.