
Sekitar jam lima sore, Nizam pulang kerumah Zemira. Semua orang sudah berkumpul diruang tamu, ada oma, mama Hana, dan paman Ahmed. Kebetulan semua keluarga Zemira belum pada pulang.
"Assalamu'alaikum" salam Nizam lalu bergantian menyalami orang yang berada diruang tamu.
"Wa'alaikumussalam" jawab semua orang.
Nizam menghampiri oma dan langsung disambut dengan pelukan hangat sang oma yang merindui cucunya.
"Mama ko engga kasih tau Nizam sih kalau mau kesini?" tanya Nizam.
"Maaf ya sayang, oma kamu nih ngebet banget mau ketemu kamu" jawab mama Hana.
Plak..
Pukulan mendarat dipipi Nizam yang diberikan oma tapi tidak terlalu keras.
"Aaww.. oma" ucap Nizam.
"Kenapa kamu menikah tidak meminta restu pada oma? apa kamu tidak menganggap oma lagi?" tanya oma marah.
"Engga gitu oma, Nizam fikir oma bakal setuju-setuju aja manya Nizam mikirnya restu dari mama sama papa aja cukup" jelas Nizam.
"Mama tidak mempermasalahkan kamu menikahi wanita siapapun, tapi seengganya kamu menikahi wanita yang sepadaan sama kamu" ucap oma.
Zemira yang tiba-tiba muncul bahkan sudah diambang pintu saat oma mengucapkan ucapannya.
"Zemira, sudah pulang sayang?" tanya mama Hana.
Semua orang melihat kearah Zemira, Nizam yang memunggunginya langsung berbalik menghadap Zemira.
"O-oh iya, maaf Zemira ganggu" jawab Zemira.
"Tante Pratama masuk dulu" ucap Pratama melangkah masuk kerumah dan pergi kekamarnya.
Zemira langsung ikut bergabung duduk disebelah paman Ahmed, setelah menyalami semua orang kecuali oma yang masih tidak ingin membalas meraih tangan Zemira.
"Kamu lihat Nizam, istri macam apa seperti ini. Ada tamu bukannya dijamu, mala pergi gitu aja dan baru pulang jam segini" ucap oma.
"Zemira tadi pergi ke toko sebentar oma, ka Nizam juga udah kasih izin jadi engga ada yang salah dari apa yang Zemira lakuin" jawab Zemira.
"Pokonya oma engga suka sama wanita ini, mending kamu sama dokter Nabila itu baru sepadaan" ucap oma.
"Oma, tolong jaga ucapan oma" jawab Nizam.
"Zemira masuk kamar dulu" pamit Zemira namun dengan sigap tangan Nizam meraih lengan tangan Zemira.
"Kamu harus tetap disini Zee" pinta Nizam.
__ADS_1
"Oma mau kamu ceraikan wanita itu!! Kalau kamu tidak bisa mencari wanita lain karena sibuk bekerja oma bisa carikan kamu wanita yang jauh lebih baik" ucap oma.
"Ma tolonglah jangan bersikap seperti itu" pinta mama Hana.
"Diam kamu!! tahu apa kamu soal masa depan anak-anak kamu" jawab oma.
"Maaf kalau semua masalah ini datang karena Zemira" ucap Zemira.
"Zemira tidak mau cuma karena pernikah ini, oma jadi marah sama mama Hana. Dan oma jadi ikut-ikutan membenci dokter Nizam cuma karena membela Zemira, ada baiknya kalau kakak dokter turuti keinginan oma" lanjut Zemira.
"Lagian pernikahan kita belum banyak yang tahu, kalaupun bercerai tidak terlalu banyak orang yang tahu kalau Zemira atupun ka dokter janda dan duda" tambah Zemira.
"Apa kamu fikir memikah itu dinilai dari banyak dan sedikitnya orang yang tahu soal pernikahan kita?" tanya Nizam.
"Kamu salah" tambah Nizam.
"Menikah adalah janji yang aku ucapkan dihadapan Allah dan abi kamu, aku berjanji bukan untuk main-main apalagi coba-coba. Itu janji yang harus aku jaga sampai menutup mata" jelas Nizam.
"Janji juga menyatukan restu dua keluarga ka, bukan hanya aku dengan kamu. Aku tidak mau karena kehadiran aku dikeluarga kamu, jadi berselisih faham dan harus saling memilih" ucap Zemira.
"Apa kamu akan menyerah sebelum berjuang mendapat restu dari oma?" tanya Nizam.
"Sudah-sudah kenapa kalian jadi berargumen kaya gini sih" ucap paman Ahmed menjadi penengah.
"Bereskan semua barang kamu Nizam, kita pindah dan tinggal dirumah paman Ahmed" perintah oma.
"Kalau begitu ceraikan aku ka, supaya kamu tidak perlu bertanggung jawab atas diriku" jawab Zemira.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita obrolkan dengan kepala dingin" nasihat paman Ahmed.
"Dan untuk mama tolong jaga sikap mama, jangan kaya anak kecil. Nizam sudah besar bukan anak kecil lagi, biarkan dia ambil keputusannya" tambah paman Ahmed.
"Tau apa kamu nasihatin orang tua" jawab oma keras kepala.
"Hana telfon Ricki sekarang suruh Nizam ceraikan istrinya" tambah oma.
Ricki Ishara adalah papa dari Nizam, yang berkerja sebagai polisi dan bertugas berpindah-pindah.
"Oma tidak perlu khawatir aku akan paksa dokter Nizam tinggal dengan paman Ahmed" ucap Zemira.
"Tapi soal keputusannya menceraikan Zemira atau tidak biar itu jadi keputusan ka dokter" lanjut Zemira.
"Ikut aku ka!! kita perlu ngobrol" tambah Zemira sambil mengandeng tangan Nizam.
Keduanya bangit dari duduknya dan melangkah masuk kedalam kamar.
"Turuti keinginan oma kamu ka" ucap Zemira.
__ADS_1
"Tidak akan pernah" jawab Nizam.
"Soal kamu harus tinggal dengan paman Ahmed ka" jelas Zemira.
"Sementara kamu tinggal dulu dirumah paman Ahmed, aku takut kalau abi dengar ucapan oma kamu. Abi pasti akan marah dan akan paksa aku untuk menggugat cerai kamu duluan" lanjut Zemira.
"Karena Zemira tahu abi seperti apa, namun saat ini Zemira bersyukur karena abi dan kakak-kakak yang lain lagi tidak ada dirumah jadi mereka tidak akan tahu soal ini" tambah Zemira.
"Ok, kali ini aku ikut saran kamu. Asalkan jangan pernah minta untuk mengabulkan keinginan oma soal menceraikan kamu" jawab Nizam.
"Ok" ucap Zemira tersenyum.
Keduanya keluar dari kamar bersama dan menuju ruang tamu lagi menemui semua orang.
"Oma Nizam akan turuti keinginan oma untuk tinggal dengan paman Ahmed tapi dengan syarat jangan minta Nizam ceriakan Zemira, itu tidak akan pernah Nizam lakukan" ucap Nizam.
"Ok deal" jawab paman Ahmed.
"Apannya yang deal, oma engga setuju pokonya kamu mesti ceraikan wanita itu" ucap oma.
"Mama tolong mengerti Nizam" pinta mama Hana.
"Ok, mama juga punya syarat kamu jangan pernah datang menemui wanita itu lagi gimana?" ucap oma.
"Ko gitu sih oma, kamu Nizam mau peluk Zemira gimana? engga mungkin dong oma, syahwat mesti tersalurkan pada yang halal oma" jawab Nizam.
"Kalau begitu ceriakan dia, oma akan carikan yang cocok" tawar menawar oma.
"Jangan paksa Nizam untuk memaksa oma" ucap Nizam.
"Udah-udah sebaiknya nanti saja kita omongkan kalau semua keadaannya benar-bener stabil" jawan paman Ahmed.
"Nizam segera kemasi barang-barang kamu" pinta paman Ahmed.
"Iya paman" jawab Nizam.
Zemira dan Nizam kembali kekamar untuk mengemasi barang milik Nizam, bahkan Zemira yang mengerjakan semuanya. Nizam hanya terus menatap Zemira dengan penuh cinta.
"Ko liatinnya gitu amat sih?" tanya Zemira yang tengah sibuk memasuki baju Nizam kedalam koper.
"Aku engga tau kapan lagi bisa nikmatin wajah kamu" jawab Nizam yang masih terus memandang Zemira.
"Aku janji akan memperjuangakan restu oma" ucap Zemira.
"Oma itu sedikit keras kepala sama kaya papa" jawab Nizam.
"Tapi aku percaya kalau kamu bisa membuat oma berubah" tambah Nizam.
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan menguatkan satu sama lain.