Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-38 Menikah Dengan Saya?


__ADS_3

Ba'da isya pernikahan Hasan segera dimulai, semua pihak keluarga dan tetamu sudah berkumpul.


"Salut aku sama kamu" bisik Anne.


Dibalas hanya dengan senyuman, Zemira dan Anne duduk bersebelahan namun Milla tidak bisa datang karena sedang berbulan madu ditempat tinggal suaminya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan dikau dengan putri saya Uswatun Hasanah binti bapak Ghazali dengan uang tunai sebesar sepuluh juta dibayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Uswatun Hasanah binti bapak Ghazali dengan mahar tersebut dibayar tunai"


"Bagaimana saksi?"


"Sah?"


"Sah!"


"Sah!! Sah!!"


"Alhamdulillah"


Setelah akad berlalu hadroh mengiringi dengan sholawat dan qosidah, dan tamu dipersilahkan menikmati hidangan ringan seadanya. Sederhana namun indah, awal dari perjalanan sebuah pernikahan.


"Zemira" panggil abinya.


"Iya bi" sahut Zemira mendekat.


"Malam ini kalau sudah selesai acara pulanglah kebutik kakak kamu dan mulailah tidur disana karena malam ini ponakan paman Ahmed sudah harus tidur kembali dikamar kamu" ucap abi.


"Tapi kan bi, bukannya tiga hari ya. Inikan baru hari ketiga harusnya dia pulangnya besok gimana sih" keluh Zemira.


"Apa kamu ingin tetap tinggal?" tanya abi dengan muka datar.


"Apaan sih nanya gitu, mau kek gimana juga aku akan tetap tinggal disinilah bi kan aku putri abi bukan dia putranya abi. Aneh pertanyaannya" jawab Zemira.


"Menikah aja sama dia kalau gitu" ucap abi datar.


"Hah? Abi bilang apa? Menikah sama dokter itu. Abi tau kan Zemira fobia sama rumah sakit apa lagi sama yang berkaitan dengan rumah sakit, Zemir engga bisa bi. Lagian banyak kok yang mau sama dokter itu, semua perempuan bakal ngantri dapetin dokter itu. Abi tau gak sih dokter Adiyaksa Nizam Ishara dia tuh terkenal tahu bi kalangan semua perempuan, ada yang bilang ganteng lah, pinterlah, dan blah blah blah. Pokoknya Zemira nggak mau kalau harus menikah sama dia. Nanti makan hati lagi banyak banget perempuan yang suka sama dia" jelas Zemira panjang lebar.


"Ehem.. ehem.. kayaknya tadi ada yang manggil-manggil nama aku ya" tiba-tiba Nizam berada dibelakang Zemira sembari melempar senyum pada Abi.


"Udah kayak jalangkung dateng gak diundang pulang gak dianterin" sahut Zemira membalikkan badannya.


" Loh nak Nizam ngapain di sini? bukanya masih jam kerja ya, kok bisa sampet-sempetnya mampir ke sini" tanya abi.


"Oh iya bi, cuma sebentar kok. Mau ngasih kado buat kak Hasan, maaf ya bi baru dateng sekarang udah mau selesaian ya bi" jawab Nizam.


"Anak baik, sudah sana temui Hasan" ucap abi tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya bi, kalau putri abi mau tidur di kamarnya nggak apa-apa nanti Nizam pulangnya besok pagi aja" tambah Nizam.


"Jangan, engga usah setelah selesai acara aku udah langsung mau pulang lagi ke butik ko nggak usah khawatir. Kamu bisa tidur di kamar aku, jadi pulang aja nggak usah nunggu besok pagi makasih karena udah ngasih waktu dua hari untuk aku pulang" jawab Zemira lalu melangkah pergi.


"Sudah engga apa-apa Nizam kamu bisa pulang nanti malam, lagian Zemira itu sudah biasa jauh dari rumah jadi it's ok" ucap abi.


"Baik bi, nanti Nizam pulang sekitar jam setengah duabelasan" jawab Nizam.


Nizam menemui Hasan untuk mengucapkan selamat kerena sudah menjadi suami, Zemira mengintai dari tempatnya berada yang tidak jauh dari Nizam dan Hasan yang sibuk berbincang sembari diselangi dengan tawa bahkan keduanya berfoto juga.


"Zee, sini!!" panggil Hasan pada adiknya Zemira.


"Kenapa bang?" jawab Zemira yang sudah menghampiri abangnya.


"Sini foto bareng" ucap Hasan langsung merangkul adiknya ditengah-tengah pengantin perempuan sedang Nizam berada disebelah Hasan.


Ckrek.. ckrek..


"Udah-udah, jangan banyak-banyak. Zemira ngantuk mau pulang" Zemira langsung menghindari rangkulan abangnya.


"Gemes banget sih adikku ini" ucap Hasan sambil menarik kedua pipi Zemira dan mencium kening adiknya.


"iihh abang" dorong Zemira pada abangnya.


"Malu tau diliatin, udah gede tapi kelakuan kaya bocah" lanjut Zemira.


"Bolehkan dok saya nitip adek saya yang jelek ini?" tanya abang Hasan pada Nizam.


"Oh boleh ko, kebetulan saya juga udah harus kembali ke rumah sakit" jawab Nizam.


"Engga mau ah bang, nanti mobilnya bauh obat lagi" tolak Zemira.


"Emang kenapa kalau bauh obat?" tanya Nizam.


"Karena adikku ini fobia sama yang berbau rumah sakit" jawab Hasan.


"Iyakan sayang?" tanya Hasan menarik hidung Zemira.


"Emm" jawab Zemira mengangguk


"Kamu bisa cek sendiri ko, mobil saya bau apa" ucap Nizam.


Iya juga sih bukannya kamar aku aja bau wangi banget, engga ada tuh bau-bau kimia rumah sakit. Ucap Zemira dalam hati.


"Ok, aku ikut" jawab Zemira.


"Nitip ya dok adekku ini" ucap Hasan tersenyum.

__ADS_1


"Iya bang, tenang aja saya jagain" jawab Nizam balas dengan senyuman.


Nizam berjalan memimpin menuju mobilnya yang sedikit jauh parkirnya dari rumah Zemira, setelah berpamitan dengan Abi dan mengambil beberapa barang miliknya dikamar.


"Udah ikhlas sama Fadil?" tanya Nizam disela berjalan menuju mobil.


"Hah? apa? tadi kamu ngomong apa?" jawab Zemira mengalihkan pembicaraannya.


"Lupakan, engga penting juga" ucap Nizam cuek.


Kemudian Nizam masuk kedalam mobilnya dan disusul oleh Zemira, semua kaca mobil dibuka oleh Nizam segaja agar tidak terjadinya fintah yang bukan-bukan.


"Enak ya jadi dokter bisa milih perempuan mana aja yang dokter pengenin" ucap Zemira tiba-tiba membuka obrolan.


Nizam hanya membalas dengan senyuman sinis, Zemira yang melihatnya sedikit kesal.


"Kenapa engga jawab?" tanya Zemira.


"Jawaban apa yang mau kamu dengar?" tanya balik Nizam yang masih terfokus kedepan.


"Tau ah males, dokter tuh engga asik. Bisa engga sih kita ngomongin apa kek biar engga canggung kaya gini" jawab Zemira semakin kesal.


"Kamu mau nikah sama saya?" tanya Nizam.


Spontan Zemira langsung terkejut dan menelan ludahnya berulang kali, berusaha menyadarkan diri dengan pertanyaan yang Nizam ajukan untuk dirinya yang tiba-tiba saja.


"Hahaa...." Zemira tertawa tidak jelas.


"Kamu asik juga ya orangnya, tapi bercandanya engga lucu tau!!" lanjut Zemira kemudian berekpresi datar.


"Aku serius, dan engga lagi bercanda" jawab Nizam serius.


"Ekhem.. ekhem.." Zemira hanya berdehem mencairkan suasana namun tetap terasa canggung.


Bahkan Nizam juga ikut diam tak memulai pembicaraan lagi, mobil berhenti didepan butik.


crek..


Pintu mobil perlahan dibuka oleh Zemira, namun terhenti karena menengok sebentar kearah Nizam.


"Saya tidak akan meminta untuk kedua kalinya, jadi tolong berikan jawaban" ucap Nizam dengan pandangan lurus dan cuek.


"Engga makasih" jawab Zemira langsung keluar dari mobil begitu saja.


Mobil Nizam pun melaju pergi, Zemira kesal dengan Nizam.


"Dasar cowo engga waras, dia fikir ngajak nikah kaya orang ngajak naik angkot ya segampang itu" omel Zemira.

__ADS_1


Kemudia dia langsung masuk kedalam butik, takut juga karena udah malem.


__ADS_2