Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-22 Selin


__ADS_3

Keesokan harinya, semangat baru dan juga hari yang baru. Karena hari ini Zemira kembali bekerja ditempat kerjaannya yang lama, dan mungkin alasannya adalah Fadil. Dan akhirnya Zemira bisa memandang senyum Fadil lagi meskipun dari jauh yang terbentang jarak jalan raya, namun itu tidak menjadi masalah untuk Zemira terhalang memandang senyumnya yang manis.


"Akhirnya kembali juga nih patner kita" ledek helena.


"Akhirnya kan" tambah satu temannya lagi windi.


Zemira mulai menerima, merelakan, dan juga menghargai dengan mungkin berhenti melihat Fadil bahkan Zemira berusaha untuk tidak mengenalnya lagi meskipun sulit sekalipun namun tetap Zemira akan menjalaninya dengan senyuman dan juga bercandaan.


Windi adalah sosok teman yang memang baik namun terkadang suka menjatuhkan, Zemira sangat hafal dengan sifatnya namun Zemira tetap berusaha kuat. Dan pada suatu ketika saat itu Fadil datang ke warung untuk membeli makan, bahkan Zemira sempat menatap kedua bola mata itu namun tidak terlihat senyuman dibibirnya bahkan saling cangung dan seperti tidak mengenal.


Beberapa bulan kemudian, hari berlalu dan berganti kini Zemira mulai biasa saja. Bahkan lebih bisa menjaga dari melihat Fadil, karena mungkin ini adalah salah satu cara agar bisa melupakan perasaannya pada laki-laki itu.


Namun semua berubah setelah seseorang yang baru datang dalam hidup Zemira, dia adalah Selina karyawan baru ditempat kerjanya. Entah kenapa hatinya selalu berkata bahwa Selina mengenal Fadil dan akhirnya Zemira memberanikan diri bertanya.


"Selina" panggil Zemira ketika keduanya duduk bersama.


"Iya mba, kenapa?" jawab Selina.

__ADS_1


"Kamu lulusan SMK mana?" tanya Zemira mulai mencari jawab atas tanya difikirannya.


"Lulusan SMK Nusantara mba" jawab Selina.


Hah Smk Nusantara? tanya Zemira dalam benaknya.


"Kamu kenal Fadil?" tanya lagi Zemira.


"Fadil yang mana mba? yang satpam itu bukan" jawab Selina tersenyum malu.


"Iya" jawab Zemira sudah menemukan jawabannya karena bisa dilihat dari cara Selin yang langsung mengarah pada Fadil.


"Kan belum tentu Selina suka Win" lanjut Helena.


"Fadil tuh idola banget waktu SMK, udah cakep, keren, dan jago silat lagi pokonya hampir prefect" ucap Selina.


"Sel" ucap Helena menyenggol sikut tangan Selina.

__ADS_1


"Engga papa lagi Hel, semua orang berhak suka sama siapa aja. Aku suka sama dia itu adalah kesalahan" jawab Zemira.


"Emang mba Zemira pernah suka juga?" tanya Selina.


"Bukan hanya suka Sel tapi sempet deket juga, Fadil dulu pernah kesini cuma buat ketemu Zemira" jawab Windi.


"Itu karena dia mau beli ayam tau disuruh kakaknya" bela Zemira.


"Terus aja belain, heran aku sama kamu Ze. Udah jelas-jelas Fadil tuh nyakitin kamu" ucap Helena kesel.


"Tau tuh Zemira, Fadil bilang kan dia engga mau pacaran mau langsung nikah eh taunya mala pacaran bilangnya komitmen" tambah Windi ikut kesel.


"Kamu engga usah engga enakan Sel, buat suka sama Fadil. Boleh, boleh aja ko" ucap Zemira menahan sakit dihatinya.


"Tapi kayanya aku sama dia tuh kaya langit dan bumi mba engga mungkin banget gitu" jawab Selin.


Zemira hanya membalas dengan senyuman tipis, setiap hari serasa Zemira dan Selina saling bersaing bahkan Zemira merasakan kalau Selina memang sedang mencari perhatian dengan Fadil.

__ADS_1


Namun Zemira hanya bisa mengalah walaupun hatinya mengatakan ketidak ikhlsannya harus berbagi menikmati indahnya senyum Fadil, Zemira tahu itu salah. Entah mengapa Zemira selalu cemburu pada Selina, Zemira merasa insecure karena Selina jauh lebih cantik, tinggi dan putih dari dirinya.


Lagi dan lagi hatinya yang selalu membuat Zemira terasa terobati sekalipun merasa cemburu namun hatinya selalu mencoba berbaikan pada keadaan dan seolah harus menerimanya apapun itu. Zemira selalu belajar lagi dan lagi.


__ADS_2