
Dari banyaknya tempat kenapa harus disini ka? dari banyaknya teman kenapa harus berteman dengan Kholid? kenapa takdir seolah sengaja mempertemuanku dan dia disini? ucap Zemira dalam hati sambil menatap kearah laki-laki itu yang sedang duduk disana. Ternyata laki-laki itu adalah Fadil seseorang yang teramat Zemira cintai dulu bahkan sampai sekarang, apalagi saat ini dia sedang satu meja dengannya.
Seorang perempuan menghampiri Fadil, Zemira diam-diam melirik dan memperhatikan dari tempatnya duduk.
"Sayang maaf ya aku engga bisa nemenin kamu, nanti kalau udah selesai sama temen-temen aku nanti langsung nyamperin kamu" ucap manja perempuan itu yang memakai pakaian rapih bahkan tidak segan merangkul Fadil.
"Iya engga papa ko sayang" jawab Fadil tidak membalas dengan manja lagi.
Lalu perempuan itu melangkah pergi dari posisi Fadil, Zemira masih saja terus memperhatikan Fadil dari jauh namun seketika itu pandangannya bertemu dengan mata Fadil yang ternyata juga melirik kearah Zemira segera dia alihkan agar tidak ketahuan kalau dari tadi dia memang melihat Fadil dari jauh.
"Kalau sudah selesai makan kita langsung pulang, abang udah engga betah liat muka laki-laki brengsek itu" bisik Hasan kesal karena Kholid mengata-ngatai adiknya.
"Iya bang sebentar lagi Zemira selesai ko" jawab Zemira setuju.
Hasan dan Zemira komplak menyelesaikan makanan lalu beranjak bangkit dari duduknya tanpa izin dulu dari Kholid.
"Kakak sama Zemira mau kemana?" tanya Kholid yang melihat keduanya beranjak pergi sambil tangan Hasan menggandeng Zemira.
"Dengar ya, abi aku mungkin melakukan kesalahan dengan mengizinkan kamu membawa pergi adik aku. Dan abi aku benar karena menyuruh aku ikut dengannya, jadi aku tahu siapa laki-laki yang udah berani-berani minta izin sama abi. Satu lagi, jangan berani-berani deketin adik aku lagi. Faham!!" ucap Hasan dengan nada marah menatap Kholid yang terduduk diam.
__ADS_1
Hasan menarik tangan Zemira pergi dari tempat itu melewati dimana Fadil duduk, bahkan tidak sengaja kerudungnya tersangkut tas milik Fadil yang segaja ditaroh dibelakang kursi.
"Abang" panggil Zemira.
"Kenapa?" tanya Hasan berhenti.
"Kerudung aku" jawab Zemira menunjukkan kerudungnya yang tersangkut.
"Biar aku bantu" ucap Fadil segera bergegas melepaskannya.
"Makasih" jawab Zemira setelah hijabnya berhasil terlepas.
"Zemira abang mau tanya" ucap Hasan yang tengah menyetir motornya dengan santai.
"Tanya apa bang" jawab Zemira yang sedang diboncenginya.
"Siapa laki-laki itu? kamu mengenalnya" tanya Hasan dimulai seolah menyelidik.
"Tidak begitu mengenalnya bang, terkadang ada tanya yang tidak selalu memiliki jawaban" jawab Zemira.
__ADS_1
"Abang tahu kamu tidak bahagia berhenti dari pekerjaan kamu iya kan?" ucap Hasan mencoba memahami adiknya.
"Bahagia itu tidak bertempat ataupun tinggal bang, tapi dia berada dihati. Dimanapun Zemira tinggal dan dengan siapapun, Zemira akan bahagia karena bahagia adanya dihati" jawab Zemira.
"Mungkin saja kalau kakak engga suruh kamu untuk berhenti mungkin kamu tidak akan berhenti kan" lanjut lagi Hasan.
"Zemira tidak harus memilih bang karena ini bukan pilihan, kalaupun dikasih pilihan sekalipun Zemira akan milih yang saat ini. Karena pergi tidak harus memiliki alasan" jawab Zemira.
"So.. sekarang mau pulang kemana? kerumah kakak atau kerumah abi" tanya Hasan mengalihkan pembicaraan.
"Tugas Zemira belum selesai bang, jadi biar Zemira selesaikan tugas Zemira dulu" jawab Zemira mulai happy.
"Baiklah tuan putri" ucap Hasan tertawa.
Motor melaju kencang menuju rumah kakak pertamanya untuk menghantar Zemira kembali. dan sekarang Hasan mengerti dan faham bahwasannya ada perasaan yang tak mampu ia tutupi sekalipun hanya dengan pergi menjauh dan pada akhirnya keduanya akan dipertemukan.
Tentu pertanyaan demi pertanyaan yang Hasan tanyakan pada adiknya akan menjadi kesimpulan yang akan dilaporkan pada abinya nanti, karena Zemira bukan orang yang banyak cerita dengan abi jadi abi menyuruh Hasan untuk mencari tahu.
Zemira berbaring ditempat tidurnya setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur lengan panjang, Zemira meraih ponselnya melihat kembali percakapannya dengan Fadil lewat wathsap. Tidak lama kemudian dia tertidur pulas tidak sadarkan diri.
__ADS_1