
Dirumah paman Ahmed, Nizam sedang duduk diteras depan tepatnya dikursi panjang sambil menatap langit ditemani bintang-bintang yang terang. Dan Nizam menerima pesan yang Zemira kirim untuknya, namun tidak ia balas.
"Aku sudah memaafkan kamu sayang, aku juga ridho sama apa yang udah kamu lakuin hari ini. Aku yakin, kamu tahu batasan-batasanmu menjadi seorang istri dan maaf karena aku belum bisa menjadi seorang imam yang baik untukmu, i miss you sayang" ucap Nizam setelah membaca pesan yang dikirimkan Zemira untuknya.
Tidak lama kemudian oma menghampiri Nizam dan duduk disebalah cucu kesayangannya.
"Sedang apa kamu disini, nak?" tanya oma melirik Nizam sebentar.
"Ngeliat bintang oma" jawab Nizam tersenyum.
"Loh ko tumben" ucap oma.
"Setahu oma, kamu itu paling sibuk. Engga ada tuh kamu sempet-sempeti cuma sekedar ngeliat bintang, apalagi sampai nikmati malam kaya gini sebelumnya" lanjut oma bingung.
"Tapi oma seneng karena akhirnya cucu oma tidak terlalu sibuk memikirkan pekerjaan seperti dulu" tambah oma bahagia.
"Oma tau engga, kenapa Nizam sekarang sangat menikmati malam ini untuk ngeliat bintang" ucap Nizam.
"Mana oma tau kalau kamu engga bilang" jawab oma.
"Zemira, oma" ucap Nizam.
"Aku pernah liat tulisanya disebuah buku, dia menulis kalimat indah" lanjut Nizam mulai membayangkan tulisannya setiap kata dan kalimat.
"Ketika ku sedang merindui seseorang, aku akan melihat kelangit dan tersenyum kepada bintang-bintang diatas sana. Dan rasa itu seolah aku melihat dia berada disalah satu bintang itu, aku melihatnya dan dia juga melihatku diatas sana. Dan disitulah aku mulai menyadari betah akan seringnya aku melihat kearah langit, cuma hanya sekedar untuk melepas kerinduanku padanya. Dan kamu tahu, bahwa aku selalu merindui kamu" tambah Nizam sembari tersenyum mengulang tulisan yang sempat Zemira tulis dibukunya.
"Apa kamu benar-benar mencintainya nak?" tanya oma.
"Iya oma, dia adalah wanita sederhana yang menyukai hal-hal kecil" jawab Nizam tersenyum.
"Sejak kapan kamu mulai jatuh cinta dengan wanita itu?" tanya oma mulai menggali tentang perasaan Nizam.
"Entahlah oma" jawab Nizam tersenyum membayangkan wajah Zemira dipikirannya
"Mungkin, semenjak pertama kali aku masuk kedalam kamarnya dan menempati kamarnya" lanjut Nizam yang masih tersenyum dan sesekali tertawa karena mengingat tentang Zemira.
"Oma tau, untuk pertama kali aku melihatnya dari foto-foto yang dia simpan dilaci meja belajarnya. Dia sangat mengemaskan fotonya tidak ada yang cantik, namun dia mampu membuat mata Nizam hanya melihatnya" tambah Nizam.
"Dan lebih parahnya pertemuan pertama aku dengammya secara langsung dia menumpahkan jus dibaju aku" Nizam masih terus terhanyut oleh bayangannya.
"Kalau begitu ajak dia tinggal disini, oma mau kenal lebih dekat" ucap oma menyentuh tangan Nizam dan tersenyum.
"Oma serius?" tanya Nizam tidak percaya.
"Iya oma serius, karena dia sudah membuat kamu lebih baik lagi" jawab oma.
__ADS_1
"Oma, dulu Nizam selalu berusahan mengalahkan semuanya untuk menjadi pemenang dan juara. Sampai pada akhirnya Nizam berada dititik ini, menjadi dokter terbaik dilulusan Nizam saat itu dan bahkan mengambil dua spesialis sekaligus" ucap Nizam.
"Namun setelah bersama Zemira, aku tidak ingin menjadi pemenang dan juara lagi. Bukan karena Zemira membuat semangat juang Nizam turun, namun saat bersama Zemira membuat aku lebih bahagia dan tidak harus mengalahkan siapapun" tambah Nizam.
"Oma senang dengarnya, kamu memang tidsk pernah salah dalam memilik" ucap oma tersenyum.
"Oma masuk dulu, jangan terlalu lama diluar. Semakin malam akan semakin dingin" pesan oma.
"Iya oma, saatnya oma istirahat" ucap Nizam.
"Kamu juga, harus istirahat" jawab oma sembari menyentuh pipi cucu kesayangannya.
Oma masuk kedalam rumah, Nizam masih bertahan didepan dan masih melihat kearah langit.
"Kamu tahu bukan bahkan hari ini aku rindu sama kamu sebanyak mungkin" ucap Nizam.
Sekitar jam setengah dua belas,
Kring.. kring...
Tiba-tiba telfon masuk dihandphone milik Nizam, dan itu telfon dari Zemira.
Nizam : Halo sayang,
? : Maaf, ini Helwa karyawannya teh
suaminya teh Zemira?
Nizam : Iya bener, kenapa hp Zemira bisa
ada dikamu ya?
? : Maaf mas engga ada niatan
lancang, teh Zemira badannya
panas banget. Tapi dia engga
mau obat katanya engga bisa
minun obat, masnya bisa dateng
engga?
Tut.. tut..
__ADS_1
Nizam langsung mematikan ponselnya lalu bergegas pergi, beberapa menit kemudian Nizam sudah sampai didepan toko dan menekan bel.
Ting.. tong..
"Iya sebentar" ucap seseorang dari dalam.
Krekk...
"Dimana Zemira?" tanya Nizam panik.
"Mas ini siapa ya? Ko cari teh Zemira" tanya balik Ceca.
"Saya suaminya, kamu Helwa yang tadi telfon kan" jawab Nizam.
"Oh suaminya teh Zemira" ucap Ceca.
"Aku bukan teh Helwa, aku Ceca. Teh Helwa ada didalem lagi nemenin teh Zemira, mangga masuk mas" lanjut Ceca.
"Makasih" jawab Nizam lalu masuk dengan langkah terburu-buru menuju ruang kamar.
Krekk..
Pintu dibuka oleh Nizam lalu dilihatnya Zemira yang tertidur sembari ditutupi dengan beberapa selimut.
Diruangan itu ada tiga kasur single dan Zemira tidur dikasur paling pojok. Nizam langsung mendekat.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nizam sembari menyentuh kening Zemira yang memang panas.
"Maaf, mas saya Helwa tadi yang telfon. Tadi saat ka Zemira baru tidur, dia bagun lagi dan manggil nama saya, dia minta untuk diambilkan selimut lagi lalu saya bantu mengenakkannya dibagian tunuh teh Zemira. Setelah itu saya tidak sengaja menyentuh tangannya dan suhu badannya sudah naik, saya panik dan lancang buka hp teh Zemira yang memang tidak memiliki pin. Awalnya saya bingung mau hubungin siapa, taunya sekali buka ternyata teh Zemira itu nunggu balasan pesan dari masnya . Akhirnya saya telfon nomer masnya, maaf kalau sudah lancang dan mengganggu masnya" cerita Helwa.
"Oh iya tidak papa, makasih sebelumnya karena sudah memberi tahu" jawab Nizam.
Nizam langsung menggantikan Helwa yang sedang mengkopres kening Zemira, setelah setengah jam kurang lebih Nizam mengompres Zemira. Jam terus berputar tepatnya jam duabelas lewat lima belas menitan.
"Saya titip Zemira ya, kalian harus istirahat jadi tidak mungkin saya masih tetap disini" ucap Nizam.
"Ka Nizam" Zemira mengiggau.
"Sayang, aku disini" ucap Nizam menggenggam tangan Zemira.
"Aku pulang dulu, sampai ketemu besok sayang" tambah Nizam mencium kening Zemira.
"Terimakasih ya kalian, maaf merepotkan. Dan tolong kalau waktunya adzan subuh bangunkan saja Zemira untuk sholat" ucap Nizam kembali pada Helwa dan Ceca.
"Iya mas insyaallah" jawab Helwa.
__ADS_1
Nizam bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar dari tokoh dan kembali kerumah paman Ahmed.