
Abdullah yang ikut duduk dan juga mendengarkan kalimat Kholid tertawa terbahak-bahak karena ditinggal abi begitu saja tanpa jawaban apapun.
"Sabar ya bro, tenang aja abi aku engga bakal makan orang ko" ucap Abdullah rese.
"Ko gitu ya, sebenernya beliau kasih izin engga sih ke aku?" tanya Kholid bertanya-tanya.
"Sorry nihh ya bro, setahu aku sih abi engga bakal kasih izin sama laki-laki mana pun yang ngajak ka Zemira jalan berdua gitu" jawab Abdullah membocorkan sedikit jawaban apa yang akan abinya sampainkan pada Kholid.
Tidak lama kemudian abi datang sambil membawa nampan kecil yang berisi dua cangkir kopi lalu meletakkannya diatas meja dan abi kembali duduk.
"Abi kenapa engga suruh Dullah aja untuk buatkan kopi" ucap Abdullah merasa bersalah setelah melihat yang dibawakan abinya.
"Tidak papa nak sekalian abi juga sambil berfikir tadi sambil buat kopi" jawab abi
"Nama kamu siapa nak?" tanya abi.
"Kholid om" jawab Kholid.
"Nak Kholid silahkan diminum dulu, om tahu kamu sangat tegang jadi relax saja" persilahkan abi untuk Kholid.
"Iya om, saya minum kopinya" jawab Kholid mengambil satu cangkir kopi lalu diminumnya.
__ADS_1
"Bagaimana nak Kholid apa sudah tidak tegang lagi?" tanya abi.
"Alhamdulillah lumayan om" jawab Kholid.
"Soal niatmu datang kesini untuk meminta izin abi membawa Zemira jalan, maaf sekali nak Kholid. Abi tidak bisa mengizinkan kamu pergi dengan putriku, abi yakin kamu juga sudah tahu. Tidaklah berduaan lawan jenis melainkan ketiganya Syaithan, agar tidak terjadi fitnah sebaiknya abi tidak izinkan" nasehat abi.
"Lalu apakah ada cara lain om, agar om mau mengizinkannya" tanya Kholid tidak berhenti sampai disini.
"Ada, dengan cara ajak Abdullah adiknya atau Hasan abangnya" jawab abi tersenyum.
"Abang aja bi, Dullah ada jadwal ngajar dipondok jadi engga bisa" ucap Abdullah.
"Ok om, setuju" jawab Kholid.
Tidak lama kemudian setelah selesai Zemira menemui Kholid yang berada diruang tamu yang sedang duduk.
"Ko belum siap-siap sih" ucap Kholid
"Emang mau ngapain, lagian kamu ngapain disini?" tanya Zemira.
"Ngajakin loh jalan lah kan udah janji" jawab Kholid.
__ADS_1
"Emang abi aku izinin? kayanya engga mungkin dehh" tanya Zemira.
"Assalamu'alaikum" salam seseorang dari ambang pintu utama rumah.
"Wa'alaikumussalam" jawab Zemira dan Kholid bersamaan.
"Abang Hasan" panggil Zemira segera mendekat kearah Hasan lalu memeluknya denga hangat.
"Sekarang aku tahu kenapa abi kasih izin sama dia" lanjut Zemira.
"Abang rindu Zemira" ucap Hasan sambil menempelkan hidungnya pada hidung Zemira bahkan tangannya masih melingkar dipinggul Zemira.
"Ehem.. ehem.. bisa engga pelukannya nanti aja, kagen-kangennya ditunda dulu. Keburu malem ayo kita berangkat" Kholid sengaja membuat keduanya tidak lagi bermesraan didepannya walaupun adik kakak Kholid merasa dirinya cemburu.
"Ayo berangkat" jawab Zemira.
"Loh engga mau ganti baju dulu Zee" ucap Kholid yang melihat kearah Zemira yang memakai daster dirangkap dengan jubah warna coklat dan memakai kerudung pashmina bahkan tanpa dipakai jarum.
"Engga usah ganti baju, lagian cuma makan aja kan engga lagi ngedate gitu kan" Hasan ikut menjawab.
"Iya bener apa yang dibilang abang" tambah Zemira tersenyum pada Hasan.
__ADS_1
Akhirnya Kholid tidak lagi berargumen, Zemira bonceng dengan Hasan naik motor sedang Kholid sendirian naik motor. Rencana Kholid bisa berduaan dengan Zemira ternyata tidak semudah dan segampang itu, apalah daya Kholid akhirnya mengalah untuk menerima.